Gardaanimalia.com - Terumbu karang menghadapi tekanan akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia. Di luar faktor tersebut, terdapat dinamika ekologis internal yang perlu mendapat perhatian.
Berbagai spesies ikan dari keluarga Pomacentridae, khususnya betok laut, terbukti menekan pertumbuhan terumbu karang ketika keseimbangan rantai makanan terganggu (Eisemann et al., 2019).1 Pemahaman mengenai dinamika populasi ikan ini relevan untuk merumuskan kebijakan konservasi laut.
Ikan betok laut memiliki perilaku bertani alga untuk memenuhi kebutuhan pakan. Spesies seperti Stegastes nigricans memodifikasi struktur bentik terumbu karang untuk menumbuhkan alga filamen (Feeney et al., 2021).2 Proses ini melibatkan gigitan berulang pada polip karang. Gigitan tersebut mematikan jaringan karang sehingga alga tumbuh di atas kerangka yang mati.
Aktivitas ini berdampak langsung pada kelangsungan hidup karang. Sebuah studi mendokumentasikan bahwa aktivitas betok laut menyumbang 34,6 persen dari tingkat kematian jaringan karang pada populasi karang staghorn (karang tanduk rusa) yang dievaluasi (Schopmeyer and Lirman, 2015).3
Area pertanian alga ini juga membutuhkan banyak ruang. Hasil observasi mengindikasikan bahwa teritori betok laut mampu menutupi hingga 77 persen dari substrat pada dataran terumbu karang dangkal (Casey et al., 2014).4
Keberadaan betok laut juga memengaruhi kualitas kesehatan karang di sekitarnya. Area pertanian alga yang dijaga oleh spesies ini menjadi tempat berkumpulnya mikroba patogen. Di dalam area teritorial spesies Stegastes nigricans, komposisi mikroba tercatat berbeda dibandingkan dengan area luar.
Peneliti menemukan bahwa kelimpahan relatif bakteri patogen dua hingga tiga kali lebih besar di dalam area teritori tersebut dan mencakup 30,04 persen dari total komunitas mikroba. Konsentrasi patogen ini berkorelasi dengan peningkatan prevalensi penyakit pita hitam pada koloni karang di sekitarnya (Casey et al., 2014). Kondisi ini memunculkan kajian mengenai faktor pendorong dominasi populasi betok laut. Salah satu penyebab utamanya adalah hilangnya predator alami akibat aktivitas penangkapan ikan.
Data pemantauan ekologis dari 2005 hingga 2019 di Pulau Moorea menunjukkan bahwa kepadatan populasi betok laut dipengaruhi oleh keberadaan predator puncak (Feeney et al., 2021). Ikan karnivora dari keluarga kerapu dan kakap adalah pemangsa alami betok laut muda.
Ketika jumlah predator berkurang, populasi betok laut meningkat. Spesies ini kemudian memperluas area pertanian alga mereka dan memicu perubahan proporsi ruang hidup karang.
Fenomena tersebut merupakan contoh efek kaskade ekologis, yaitu kondisi ketika perubahan pada satu komponen ekosistem memengaruhi komponen lain yang saling terhubung, memicu efek berantai.
Penurunan jumlah predator puncak menciptakan kondisi yang merugikan bagi spesies pembentuk terumbu. Tekanan lingkungan tambahan, seperti pemutihan karang dan pengasaman samudra, dapat mempercepat pergeseran ekosistem dari dominasi karang menjadi dominasi alga (Eisemann et al., 2019).
Solusi untuk mengatasi persoalan ini berfokus pada pemulihan rantai makanan ekosistem laut. Pemerintah serta pemangku kepentingan perlu merancang dan menegakkan aturan Kawasan Konservasi Perairan secara terukur. Perlindungan ikan predator di dalam zona larangan tangkap bermanfaat untuk menjaga populasi betok laut pada tingkat yang seimbang (Feeney et al., 2021).
Kawasan perlindungan memberi ruang bagi predator untuk berkembang biak sehingga predator tersebut dapat menjalankan peran ekologisnya dalam rantai makanan.
Pengelolaan ekosistem pesisir memerlukan pendekatan yang sistematis. Pendekatan berbasis keseimbangan ekosistem yang melindungi semua tingkatan taksa merupakan langkah logis. Memulihkan interaksi antara predator dan mangsa membantu menjaga ketahanan terumbu karang dalam menghadapi tekanan lingkungan di masa depan.
















