Opini

Harimau, Het Tijgerjong (1950), Kisah Tragis Anak Harimau Yatim Piatu

29/07/2026|Irvan Sjafari
Halaman Harimau Het Tijgerjong karya Simon Franke - Harimau Het Tijgerjong 1950 Kisah Tragis Anak Harimau Yatim Piatu

Halaman Harimau: Het Tijgerjong karya Simon Franke.

Gardaanimalia.com - Dari perpustakaan daring, secara tak sengaja saya menemukan novel setebal 44 halaman bertajuk Harimau: Het Tijgerjong karya Simon Franke yang terbit di Amsterdam pada 1950.

Franke berdinas sebagai tentara cadangan kolonial sejak 1897 pada usia 17 tahun dan pernah bertugas di Hindia Belanda hingga 1903. Pada masa itu, ia menjadi penulis produktif puluhan novel untuk dewasa maupun anak-anak.

Harimau: Het Tijgerjong adalah salah satu ceritanya yang menarik dan menempatkan konflik manusia dan satwa liar tidak secara hitam putih. Harimau tidak ditempatkan sebagai satwa yang jahat seperti kebanyakan cerita pada masa itu dan masa sebelumnya.

The Jungle Book karya Rudyard Kipling (1894), misalnya, menempatkan harimau sebagai musuh manusia. Padahal, satwa liar lain, seperti beruang dan macan kumbang, digambarkan sebagai sahabat Mowgli, anak manusia yang dibesarkan oleh kawanan serigala di belantara India.

Entah mengapa dalam berbagai narasi harimau digambarkan sangat memusuhi manusia. Apakah karena pada masa itu manusia menjadikan perburuan harimau sebagai simbol keperkasaan?

Faktanya, manusia berburu harimau karena mengincar kulit dan sensasi petualangan belaka. Patut dicatat, masifnya perburuan harimau di tanah Sumatera justru lebih banyak dilakukan orang Eropa. Sementara, sebagian masyarakat lokal justru menempatkan harimau sebagai satwa yang dihormati.

Harimau: Het Tijgerjong berlatar tahun 1950 dan menggambarkan suatu daerah di masa Hindia Belanda. Daerah itu kemungkinan besar adalah Sumatera Timur, daerah yang banyak ditumbuhi hutan bakau, serta berapa kali digambarkan pertemuan dengan gajah, orangutan dan macan kumbang.

Cara bertutur dalam kisah tersebut membuat pembaca bersimpati kepada anak harimau yang hanya ingin bertahan hidup, saat kemampuannya tidak seperti harimau dewasa. Tidak saja berhadapan dengan satwa liar lain, tetapi khususnya manusia.

Berikut nukilan bukunya.

Jadi Yatim Piatu karena Pemburu

Pada malam kelahiran seekor anak harimau, seorang pemburu harimau ulung bernama Iskander dibantu Djaid, seorang pengumpul rotan, membunuh ayah harimau.

Iskander disebutkan sebagai pemburu yang hebat. Setiap kali sebuah desa diganggu oleh harimau, orang-orang dari sebuah kampung datang kepadanya dengan permintaan untuk menyingkirkan “wabah” tersebut.

Ayah harimau dinilai menyebabkan gangguan besar karena memangsa kambing, kerbau pun tidak aman darinya. Penduduk khawatir kalau anak-anak mereka juga jadi target.

Iskander dan Djaid menjebak ayah harimau di dekat hutan bakau dengan umpan seekor ayam jantan. Mereka menembak tepat di antara dua mata harimau hingga tewas. Ayah harimau tidak hanya dibunuh, tetapi juga diambil kulitnya.

Pada saat yang sama, harimau betina menjilati anak harimau yang baru lahir hingga bersih. Ia menggeram lembut; sebenarnya lebih seperti mendengkur.

Ia membolak-balikkan anak harimau itu dengan kepalanya atau dengan salah satu cakar depannya, dan tidak puas sampai anak harimau itu mengeluarkan suara. Anaknya mengeong serupa suara kucing, tetapi kucing dari tingkatan yang lebih tinggi.

Sang induk harimau balas menggeram. Itu berarti sesuatu seperti, "Syukurlah kau di sini; apa yang akan dikatakan ayahmu tentangmu ketika ia melihatmu?" Ia berbaring miring dan mendekatkan harimau kecil ke tubuhnya. Di sana terbaring anak harimau itu aman dan terlindungi. Siapa yang berani mendekatinya?

Namun, harimau betina itu gelisah. Ayah dari anaknya tidak pernah kembali.

Kini harimau betina harus berjuang melindungi anaknya yang masih menyusui itu dari serangan ular, misalnya, juga harus waspada terhadap injakan gajah.

Anak harimau itu ikut menangis. Ia mencengkeram bulu ibunya dengan cakar kecilnya. Orangutan sampai tidak bisa tidur malam itu dan menjadi sangat penasaran karena mendengar lolongan harimau betina dan anaknya.

Induk harimau tetap berada di sarang selama dua hari dua malam. Ia mendekap harimau kecil erat-erat dan membelainya.

Sang induk harimau seharusnya tetap berada di sarang, tetapi rasa lapar menyerangnya. Si jantan, yang seharusnya menyediakan makanan, tidak dapat menjalankan tugasnya. Iskander dan Djaid telah membawanya ke kampung, kakinya diikat bersama, tergantung pada tiang bambu.

Mereka telah mengulitinya dan Iskander telah membawa kulit yang bagus itu kepada Hong Chi Lung yang tinggal di kota. Hong Li Ching pasti akan membayar mahal.

Di sudut lain, anak harimau itu hampir tidak bisa berdiri dengan kaki kecilnya; ia tidak menginginkan apa pun selain mengendus aroma ibunya dan menempelkan dirinya erat-erat padanya.

Setiap kali ia mencari dengan saksama, ia selalu menemukan puting susu yang bisa ia hisap. Tetapi sekarang puting susu itu mulai kering.

Makanan adalah pokok agar susu baru dapat tumbuh di dalam tubuh induknya, yang dengannya ia dapat memuaskan rasa laparnya dan menghilangkan dahaganya.

Rasa lapar begitu kuat sehingga sang ibu harus menurut, meskipun secara naluriah ia tahu bahwa ia tidak dapat meninggalkan anaknya sendirian. 

Ketika ibunya pergi, anak harimau diam. Kemudian, ia berbaring meringkuk dan mendengarkan suara-suara di sekitarnya. Hutan penuh dengan suara. Di sana, ular yang sedang mencari mangsa merayap di lantai hutan, hampir tanpa suara, tetapi kadang-kadang daun kering berdesir karenanya.

Suara kecil itu hampir tidak terdengar, tetapi harimau kecil mendengarnya. Ia melengkungkan punggung kecilnya dan membuat ekornya lebat. 

Terkadang ia mendengar gajah meraung, tetapi itu tidak membahayakannya, meskipun ia merasakan tanah bergetar di bawah kaki besar hewan raksasa itu.

Meskipun ia baru hidup sebentar, ia mengenal suara-suara yang memperingatkannya akan bahaya dan suara-suara yang memberitahunya bahwa ia tidak perlu takut.

Sementara si kecil berbaring di sarangnya, induknya menjelajahi sekitar. Ia tidak pergi jauh dan sering datang untuk memeriksa apakah harimau kecil–anaknya–masih ada di sana.

Ia menjilati punggungnya sebentar dan mengendus seluruh tubuhnya. Ia membolak-balikkan tubuhnya dengan cakarnya dan bermain-main dengan ekor kecilnya sejenak.

Kemudian ia pergi lagi. Dan ketika akhirnya ia beruntung, ia segera melahap hasil buruannya dan bergegas kembali ke harimau kecil yang minum dengan lahap.

Sementara itu, anak harimau tumbuh dengan sehat. Ia sudah bisa berjalan, berguling dan melihat. Ia segera mencapai tahap di mana susu saja tidak cukup baginya, tetapi ia dengan senang hati menginginkan sepotong daging. Ketika harimau betina menangkap sesuatu, ia menyeretnya masuk.

Sementara itu, Iskander mendapat order dari seorang kepala desa yang menyatakan bahwa masih ada ancaman harimau terhadap ternaknya. Iskander bersedia memburu lagi bersama Djaid.

Ia menunggu dua malam dan menembak seekor harimau. Ya, itu adalah harimau betina, induk si harimau kecil. Iskander kemudian mengambil dan menjual kulitnya. 

Harimau Muda Bertahan Hidup

Kini anak harimau menunggu ibunya dengan sia-sia. Ia berbaring di sarang dan merintih. Terkadang suara kecil, tetapi kemudian tiba-tiba menjadi lolongan, dengan tangisan panjang yang melengking.

Ia merasa bahwa ibunya tidak akan kembali, sama seperti harimau betina yang merasa bahwa harimau jantan telah dikalahkan.

Selama dua hari dua malam ia menggigil di sarang, tetapi kemudian rasa lapar memaksanya keluar, rasa lapar yang berkuasa di hutan. Ia merangkak keluar dengan perutnya, dengan rasa takut bahwa penguasa hutan belantara lain akan menerkam lehernya.

Anak harimau itu menempelkan tubuhnya ke tanah, mengeluarkan cakarnya, dan melipat telinganya ke belakang. Harimau kecil itu adalah hewan muda yang cantik, lincah, kuat, dan lentur.

Uploaded content
Ilustrasi harimau muda di alam bebas dalam buku Harimau: Het Tijgerjong.

Sebelumnya, ketika selama enam minggu ibunya menyusuinya, satu-satunya kegiatannya adalah minum, makan, dan bermain, tetapi sekarang ia menghadapi kenyataan pahit: tidak ada tempat untuk bermain. Dulu, beberapa kali ia menangkap seekor burung muda, ia melompat, mengatupkan cakarnya, dan hewan itu terjebak di antara keduanya. Namun, itu adalah permainan bukan untuk dimakan.

Sekarang ia harus mencari makanannya sendiri; ibunya tidak akan lagi membawanya untuknya. Ia sangat takut sehingga ia lebih suka kembali ke sarangnya, tetapi rasa lapar memaksanya untuk tetap di luar.

Rasa lapar menguasai dirinya. Naluri pemburu pun ikut muncul. 

Dengan hati-hati dan waspada, ia merayap maju, ke arah serangga air, seperti kucing besar yang mengejar tikus, matanya yang sipit terus-menerus tertuju pada mangsanya.

Rasa takut masih ada, tetapi tidak lagi menahannya; naluri pemburu dalam dirinya mendorongnya maju. Aroma tikus kelapa menggelitik hidungnya; darah mengalir deras di pembuluh darahnya.

Suaranya memang tidak terdengar hebat, tetapi tetap saja itu adalah teriakan kemenangan seorang pemburu yang telah menangkap mangsa pertamanya. Kemudian ia menggigit hewan yang ditangkapnya hingga mati, mencabik-cabiknya, dan melahapnya dengan rakus.

Apa yang terjadi dengan burung yang pernah ditangkapnya dahulu hanyalah permainan, tetapi kali ini sangat serius. Ia telah mendapatkan makanan pertamanya. Bukan ibunya yang membawanya, tetapi ia sendiri yang menangkapnya.

Akhirnya satwa itu tumbuh cukup besar. Kulitnya halus dengan garis-garis kuning yang indah dan berkilau. Giginya tampak kuat, cakarnya tajam. Setiap hari ia sibuk menjelajahi sekitarnya. Ia sangat curiga terhadap hal-hal yang belum ia kenal.

Ketika lapar, ia berhasil menangkap tikus kelapa atau burung muda. Jika dirinya sendiri tidak diburu, mungkin ia bisa bertahan hidup. Itulah yang terpenting.

Namun, ada seseorang yang menunggunya. Itu adalah pria Tionghoa yang kepadanya Iskander telah menjual dua kulit harimau. Ia duduk di tokonya, di belakang papan hitungnya. Dan pikirannya tertuju pada anak harimau.

Anak harimau itu dan dirinya terpisah oleh perjalanan berhari-hari, tetapi pria Tionghoa itu merasa terhubung dengannya, seolah-olah.

Sementara pria Tionghoa itu sibuk memikirkan harimau, harimau muda itu tidur dengan tenang.

Suatu ketika, harimau muda itu menerkam seekor babi hutan. Meskipun telah menancapkan cakarnya di lapisan lemak di tubuh babi, mangsanya terus berlari lurus ke depan. Akan tetapi, melalui pertarungan sengit, babi hutan itu lolos dengan melompat ke sungai.

Dengan ini, pertempuran telah berakhir. 

Namun, dia segera beruntung. Anak harimau menangkap seekor kambing muda yang kakinya patah. Untuk minum, ia hanya perlu pergi ke sungai tempat ia menggiring babi hutan.

Dalam pengembaraan pulang menuju sarangnya, anak harimau berada di wilayah yang sama sekali tidak dikenalnya. Tidak ada yang bisa dipegang, karena setiap pohon, setiap semak, setiap batu tidak dikenalnya. 

Akhir Petualangan Harimau Muda

Suatu ketika, harimau muda menghadapi sesuatu yang aneh dan tak pernah dilihatnya. Itu bukan pohon, tanaman, batu, atau hewan; itu tidak bergerak, tetapi tampak hidup.

Di belakangnya berdiri seekor kambing muda. Kambing itu menempelkan dirinya ke dinding dan terlalu terkejut untuk mengembik. Tubuhnya menggigil. Mata kambing itu besar dan lembut membeku karena ketakutan.

Gerakan pertama anak harimau adalah melarikan diri karena bau yang bercampur dengan aroma kambing kecil itu, tetapi ia terlalu penasaran, dan pada saat yang sama, naluri pemburunya muncul. Ia juga merasa lapar setelah minum minuman dingin sebelumnya.

Ia tidak melarikan diri, tetapi tetap tinggal. Ia merayap di sekitar benda aneh itu seperti kucing di sekitar bubur panas, dalam lingkaran yang semakin kecil.

Tidak ada yang berubah pada makhluk itu; ia tetap berdiri di tempatnya, tidak mengeluarkan suara, tidak menggulung tubuhnya seperti ular, tidak menjulurkan cakarnya seperti macan kumbang, tidak menyerang dengan belalainya, dan tidak mengancam dengan taringnya.

Semua ini sedikit menenangkan anak harimau, tetapi pada saat yang sama, hal itu semakin membangkitkan rasa ingin tahunya. Ia terus mengelilinginya, mengendusnya, dan menyentuhnya.

Ia bisa masuk ke dalam; jalan menuju kambing kecil di belakang terbuka baginya, tetapi ia tidak melakukannya. Ada sesuatu yang memperingatkannya.

Untuk sesaat, ia dengan hati-hati memasukkan cakarnya ke dalam, tetapi segera menariknya kembali. Ia terus mengelilinginya untuk beberapa saat. Kemudian ia menyerah.

Uploaded content
Ilustrasi "makhluk asing" bagi harimau muda, yang di dalamnya terdapat seekor kambing.

Keesokan harinya, ia kembali. Rasa lapar telah mendorongnya ke sana. Rasa lapar itu menempel di punggungnya dan membimbingnya. Kambing kecil itu masih berdiri di sana. Daun-daun yang baru dipotong tergeletak di tanah di depannya.

Daun-daun itu berbau seperti sesuatu yang membuat harimau ketakutan. Ia melarikan diri, ketakutan setengah mati, tetapi rasa lapar menguasai dirinya, membuatnya berbalik, dan mendorongnya kembali ke makhluk aneh dengan kambing kecil yang gemetar itu. Ia hampir meneteskan air liur. Satu lompatan lagi dan ia akan berhasil.

Rasa lapar dan rasa ingin tahu bersekongkol. Kali ini mereka menang. Harimau akhirnya menerjang kambing kecil itu dan kemudian jebakan itu menutup.

Perangkap itu kokoh dan kuat. Iskander bukanlah orang yang mudah dikalahkan; dia tahu cara menangkap harimau muda.

Alam liar penuh dengan bahaya, siapa pun yang kuat, cepat, atau cerdas, memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Namun, yang dihadapinya manusia seperti Iskander, yang dapat merancang perangkap yang pasti akan dimasuki harimau.

Harimau muda mondar-mandir dengan gelisah di kandang barunya. Ia mencengkeram jeruji kandang dengan cakarnya saat melihat Iskander dan Djaid. Ia mengibaskan ekornya ke sisi tubuhnya dan meraung marah.

Iskander dan Djaid sama sekali tidak terkejut. Mereka mengangkat perangkap itu dengan tongkat bambu panjang dan masing-masing meletakkan salah satu ujung tongkat di bahu mereka.

Dan begitulah mereka berjalan, menembus hutan, yang telah menjadi rumah harimau kecil untuk waktu yang singkat. Hutan belantara itu tidak lagi menjadi rumahnya.

Ia tidak akan lagi pergi ke mata air untuk memuaskan dahaganya dan ia tidak akan lagi bermain dengan kelapa yang jatuh. Ia tidak akan lagi menjelajahi wilayah perburuannya karena kedudukannya yang lebih rendah, untuk mencari mangsa, dan sebagai gantinya, yang lain akan memerintah di sana mulai sekarang.

Di kampung tempat Iskander dan Djaid tinggal, orang-orang berbondong-bondong melihat anak harimau itu. Perangkap itu berdiri di halaman rumah Iskander, dikelilingi bambu tinggi.

Mereka sangat mengagumi hewan muda itu, sekaligus bergidik membayangkan bahwa ia akan menjadi dewasa setelah beberapa waktu. Dan mereka membayangkan bagaimana ia akan menerkam kerbau dan menyebarkan ketakutan dan teror di sekitarnya jika ia tidak ditangkap.

Pria Tionghoa itu menggosok-gosok tangannya ketika orang-orang itu membawa hasil tangkapan. Ia mengeluarkan dompetnya untuk membayar upah yang dijanjikan.

Iskander menambahkan uang itu ke uang yang telah ia terima untuk kulit ayah dan ibu harimau dan membeli seekor kerbau dengannya, yang sangat ia butuhkan untuk menggarap sawahnya.

Djaid membeli seekor ayam jantan, yang menurutnya akan menghasilkan banyak uang dan meraih kehormatan tinggi dalam sabung ayam.

Seminggu kemudian, sebuah kandang, dengan harimau muda di dalamnya, berdiri di ruang kargo sebuah kapal besar. Mesin raksasa itu meraung penuh kemenangan: "Akulah raja langit!" persis seperti yang dilakukan harimau muda ketika masih berkeliaran bebas; "Akulah raja hutan!"

Harimau muda itu tinggal di kebun binatang.

Jika Anda pernah mengunjunginya, Anda dapat melihatnya berbaring di sana, terlentang miring, malas dan lesu, seolah-olah muak dengan dunia.

Ketika dia tertidur di sudut kandangnya, dia menyipitkan matanya, dan di waktu lain dia mondar-mandir di sekitar kandangnya, bolak-balik, selalu bolak-balik, gelisah, resah, seolah-olah dia mencari celah untuk menyelinap keluar.

Terkadang dia tiba-tiba berhenti dan menegakkan telinganya. Lalu seolah-olah dia mendengar suara hutan. Dia mengendus udara seolah-olah aroma yang familiar sedang menghampirinya; aroma kebebasan. Tetapi itu hanya kerinduan saja.