Edukasi

Bukan Perilaku Khas Homo sapiens, Satwa Liar juga Masturbasi

21/05/2026|Galih Ernowo Widianto
Ilustrasi monyet ekor panjang Foto Peter Gronemannanimaliabio - Bukan Perilaku Khas Homo sapiens Satwa Liar juga Masturbasi

Ilustrasi monyet ekor panjang. | Foto: Peter Gronemann/animalia.bio

Gardaanimalia.com - Masturbasi kerap dilihat sebagai perilaku yang hanya dilakukan oleh Homo sapiens, spesies kita sendiri. 

Namun, tahukah Kawan Satwa bahwa perilaku masturbasi tidak hanya dilakukan oleh Homo sapiens?

Perilaku masturbasi ternyata juga dilakukan oleh sebagian besar satwa, seperti lumba-lumba hidung botol, unta dromedari, kuda, landak Amerika Utara, penguin Adelie, dan iguana laut.

Pola dan Variasi

Primata non-manusia juga memiliki perilaku macam ini. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), baik jantan dan betina, di kawasan Sacred Monkey Forest Sanctuary, Ubud, Bali dilaporkan melakukan masturbasi dengan bantuan batu maupun ranting. Pola perilakunya cukup beragam, mulai dari mengetuk dan menggosok selangkangan benda-benda itu.1

Masturbasi jantan, pada primata non-manusia, paling sering terjadi di antara monyet dan kera (antropoid) yang hidup dalam lingkungan seksual dengan banyak jantan dan banyak betina.

Alat kelamin adalah pusat rangsangan yang kuat untuk primata jantan dan betina. Penis bagi jantan termasuk pusat perhatian masturbasi, walaupun tidak menutup kemungkinan juga menggunakan testis.

Sementara itu, klitoris dan vagina pada betina merupakan dua bagian tubuh yang kerap menjadi pusat rangsangan, meskipun tidak menutup kemungkinan menggunakan anus.2

Biasanya, yang dilakukan adalah menekan alat kelamin secara perlahan-lahan dengan menggosok atau mendorongnya.

Teknik lainnya melibatkan tangan, seperti yang dilakukan kera betina topi atau beruk jambul (Macaca radiata), yang akan menekan alat kelamin dengan tangan kanannya. Mulut juga digunakan sebagai salah satu teknik yang kerap dilakukan.3

Selain teknik dan caranya, masturbasi pada primata non-manusia ternyata berhubungan dengan situasi seksual mereka. Dubuc dkk (2013) mengamati masturbasi pada kera rhesus jantan (Macaca mulatta) yang hidup bebas (free-ranging) pada puncak musim kawin. Menurut temuannya berdasarkan bukti yang ada, perilaku ini terkait dengan peluang kawin yang rendah. Terlepas dari pangkatnya, jantan paling mungkin diamati masturbasi pada hari-hari ketika mereka sedang tidak kawin. Jantan berpangkat rendah kawin lebih sedikit dan cenderung masturbasi lebih sering daripada jantan berpangkat lebih tinggi.4

Selayang Pandang Penjelasan atas Perilaku Masturbasi

Jika melihat penjelasan ilmiah, masturbasi dapat dijelaskan menurut beragam asumsi ilmiah yang berkembang.

Pertama, masturbasi dianggap sebagai gangguan, cacat, atau penyakit (baca: patologi). Asumsi ini menduga bahwa masturbasi terjadi secara eksklusif, atau kemungkinan besar meningkat di penangkaran daripada di alam liar.

Sekalipun tidak dapat disepelekan asumsi bahwa masturbasi pada primata non-manusia adalah hasil dari perilaku di penangkaran, tidak semua perilaku ini adalah produk penangkaran. Sebab, terdapat laporan dari Frearson (2005) dan Jones (2005) dalam Sommer (2022)5, setidaknya 23 spesies yang masturbasi di penangkaran juga masturbasi di alam liar.

Asumsi lain mengatakan bahwa masturbasi dipicu oleh kurangnya kesempatan untuk terlibat dengan pasangan seksual.

Masturbasi dianggap sebagai jalan keluar alternatif untuk hubungan seksual. Namun, asumsi ini tidak sepenuhnya benar. Kera jantan berekor pendek masturbasi hingga ejakulasi dengan kakinya sembari mencium, menjilati, dan bermain di daerah sekitar anus dan alat kelamin betina. Demikian juga dengan simpanse jantan yang akan mengisap penisnya sendiri sebagai reaksi terhadap respons positif betina.6

Ketiga, masturbasi dinilai dapat menguatkan keberlangsungan hidup. Masturbasi dapat menghilangkan stres, ketegangan, dan kebosanan. Masturbasi juga dapat berfungsi sebagai perawatan alat kelamin setelah penetrasi alat kelamin, dan fungsi ini, dalam Sommel (2022), mungkin berlaku juga untuk primata jantan seperti yang ditunjukkan pada perilaku mengonsumsi ejakulasi mereka setelah masturbasi.

Keempat, masturbasi dianggap berhubungan dengan kemungkinan reproduksi yang meningkat. Hal ini dapat digambarkan oleh fakta bahwa masing-masing jenis kelamin dapat memahami anatomi dan respons seksual mereka sendiri yang memungkinkan mereka mengarahkan pertemuan di masa depan dengan pasangan seksual secara lebih baik.

Masing-masing penjelasan memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing, tetapi dapat membantu kita memahami bahwa masturbasi bukan sesuatu yang asing bagi primata non-manusia. Usianya setua usia evolusi primata itu sendiri. 


1 Camilla Cenni dkk, “Do monkeys use sex toys? Evidence of stone tool-assisted masturbation in free-ranging long-tailed macaques”, Ethology, 128, no.9 (2022), 10.1111/eth.13324
2 Volker Sommer dkk, “Masturbation in Primates” in Cambridge Handbook of Evolutionery Perspectives on Sexual Psychology, (2022): 146, https://doi.org/10.1017/9781108943581.007
3 Ibid., hlm. 148
4 Dubuc dkk, “Effect of Mating Activity and Dominance Rank on Male Masturbation Among Free-Ranging Male Rhesus Macaques”, Ethology, 119, no. 11 (2013): 1, 10.1111/eth.12146
5 Volker Sommer dkk, loc.cit., hlm. 154.
6 Ibid., hlm. 156.