Gardaanimalia.com - Komunitas Afulu Boardriders berhasil menyelamatkan seekor penyu hijau (Chelonia mydas) dewasa yang sempat dibawa pulang oleh seorang warga setelah ditemukan di pesisir pantai.
Satwa laut yang dilindungi itu kemudian dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di Pantai Walo, Desa Afulu, Kabupaten Nias Utara, pada Jumat (26/6/2026).
Penyu hijau merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia dan berstatus terancam punah (endangered) secara global. Populasinya terus menurun akibat perburuan, kerusakan habitat, pencemaran laut, serta berbagai aktivitas manusia di wilayah pesisir.
Ketua Komunitas Afulu Boardriders, Rahmansyah Lahagu, mengatakan penyu tersebut awalnya ditemukan oleh warga di kawasan pantai. Karena belum memahami tata cara penanganan satwa dilindungi, warga membawa pulang penyu tersebut ke rumahnya.
"Setelah kami mendapat informasi dari masyarakat, anggota komunitas langsung mendatangi rumah warga. Kami melakukan pendekatan secara persuasif dan meminta izin agar penyu hijau itu dapat dikembalikan ke habitatnya," kata Rahmansyah, Sabtu (27/6/2026).
Menurutnya, warga memahami pentingnya menjaga satwa liar dan menyetujui penyu tersebut untuk dilepasliarkan. Bersama warga, komunitas kemudian membawa penyu itu menuju Pantai Walo dan melepaskannya kembali ke laut. Rahmansyah berharap kesadaran masyarakat untuk melindungi penyu terus tumbuh. Ia menilai pesisir Pantai Afulu memiliki potensi menjadi kawasan konservasi penyu yang dikelola dan dijaga bersama oleh masyarakat.
"Harapan kami, pesisir Pantai Afulu dapat menjadi destinasi penyu yang harus dilindungi. Jika masyarakat terus menjaga habitatnya, kawasan ini tidak hanya menjadi rumah yang aman bagi penyu, tetapi juga memiliki potensi sebagai destinasi wisata berbasis konservasi," ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Program Lapangan Konservasi Indonesia untuk Nias, Zariansyah, mengatakan Pantai Afulu merupakan salah satu kawasan pesisir yang kerap dikunjungi penyu. Karena itu, menurutnya, upaya pelestarian tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga harus dibangun melalui kesadaran masyarakat lokal.
"Pantai Afulu merupakan salah satu wilayah yang sering dikunjungi penyu. Pelestariannya harus dilakukan dengan membangun kesadaran masyarakat melalui komunitas-komunitas lokal. Hari ini menjadi bukti nyata bahwa komunitas Afulu memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem laut dengan mengembalikan penyu ke habitatnya," kata Zariansyah.
Ia menjelaskan, tumbuhnya kepedulian tersebut merupakan dampak dari program Pembelajaran Pengelolaan Laut Berbasis Masyarakat yang diikuti Komunitas Afulu Boardriders di Pantai Lampuuk, Aceh, pada Februari 2026.
Dalam kegiatan tersebut, anggota komunitas mempelajari secara langsung bagaimana pengelolaan kawasan pesisir dapat berjalan seiring dengan upaya konservasi.
Mereka melihat praktik perlindungan penyu yang melibatkan masyarakat sekaligus menjadi bagian dari daya tarik wisata di Pantai Lampuuk.
"Mereka melihat langsung bagaimana wisata Pantai Lampuuk berjalan beriringan dengan konservasi penyu. Konservasi penyu di sana menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung. Pengalaman itu kemudian menginspirasi komunitas Afulu untuk membangun kesadaran serupa dan mengembangkan konservasi penyu di wilayah mereka," ujarnya.
Menurut Zariansyah, pelepasliaran penyu hijau oleh Komunitas Afulu Boardriders merupakan bukti bahwa pembelajaran berbasis pengalaman mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga satwa liar dan ekosistem pesisir.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa penyu yang ditemukan di pantai bukan untuk dipelihara atau diperjualbelikan, melainkan harus segera dikembalikan ke habitatnya atau dilaporkan kepada pihak berwenang maupun komunitas konservasi agar dapat ditangani dengan benar.
Dengan semakin kuatnya keterlibatan masyarakat, Pantai Afulu dinilai memiliki peluang besar berkembang sebagai kawasan konservasi penyu berbasis masyarakat, sekaligus menjadi destinasi wisata alam yang memberi manfaat bagi lingkungan dan ekonomi warga tanpa mengorbankan kelestarian satwa liar.















