Edukasi

Deforestasi di Latimojong dan Ancaman Kehidupan Kuskus Beruang Sulawesi

09/03/2026|Dedy Tri Riyadi
Kuskus beruang sulawesi yang kehidupannya terancam oleh deforestasi Foto Fletcher BaylisEDGE - Deforestasi di Latimojong...

Kuskus beruang sulawesi yang kehidupannya terancam oleh deforestasi. | Foto: Fletcher & Baylis/EDGE

Gardaanimalia.com Gunung Latimojong memiliki peran krusial sebagai penopang ekosistem Sulawesi Selatan. Gunung dengan tujuh puncak yang membentang di wilayah Enrekang dan Luwu ini merupakan penyumbang utama sumber air hingga penyerap karbon.

Tidak hanya itu, kelembapannya yang tinggi menjadi habitat bagi flora dan fauna endemik Sulawesi seperti, anoa (Bubalus quarlesi), babi rusa (Babyrousa sp.), hingga berbagai jenis burung, serta beragam jenis anggrek.

Karena keunikannya, dari 2021 hingga saat ini kawasan Gunung Latimojong sedang diproses untuk menjadi Taman Nasional guna melindungi ekosistemnya.

Mengenal Penghuni Asli Gunung Latimojong, Kuskus Beruang Sulawesi 

Salah satu keunikan Gunung Latimojong yang lain adalah kehadiran penghuni aslinya, yaitu kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus).

Satwa endemik Sulawesi ini masuk dalam anggota famili Phalangeridae, yaitu salah satu jenis mamalia berkantung. 

Kuskus beruang sulawesi ini memiliki ukuran tubuh terbesar di antara jenis-jenis kuskus yang ada di Indonesia Timur. Rambutnya lebat berwarna cokelat tua bercampur hitam pada bagian ujung-ujung, dan berwarna putih kekuningan pada bagian dada hingga bawah perutnya. 

Mengutip ​​Jurnal Biologi Indonesiapanjang tubuhnya dari kepala hingga pangkal ekor kurang lebih 61 sentimeter, panjang ekor sekitar 58 sentimeter, dan bobot tubuhnya dapat mencapai 10 kilogram. Berdasarkan IUCN Red List satwa ini masuk dalam kategori rentan (vulnerable). 

Ini menunjukkan adanya keterancaman hidup yang diakibatkan beberapa hal, seperti deforestasi dan degradasi hutan, perburuan liar, dan perdagangan ilegal.

Kebiasaan Janggal dan Hubungannya dengan Deforestasi

Di Februari 2026, satu individu kuskus beruang sulawesi ditemukan tengah berada di semak-semak yang sangat dekat dengan tanah.

Sebagai satwa arboreal yang menghabiskan banyak waktunya di atas pohon, keberadaan satwa tersebut menimbulkan pertanyaan, mengapa kuskus beruang sulawesi itu bisa berada di atas tanah? Apakah ia terjatuh? Apakah pohon tidurnya diganggu sehingga ia lari dari pohon tidurnya tersebut? Sayangnya, belum ada penyelidikan lanjut tentang jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Namun, melihat ancaman di sekitar kawasan Gunung Latimojong fenomena tersebut tidak bisa dilepaskan dari kondisi hutan yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tekanan serius.

Deforestasi di kawasan Hutan Lindung Latimojong disebut meningkat cepat, tak hanya karena pertambangan, tetapi juga pembukaan kebun cengkeh dan kopi serta bertambahnya aktivitas masyarakat pascakehadiran tambang emas.

Berdasarkan berbagai laporan lingkungan dan pemberitaan, pembukaan lahan untuk pertambangan emas di Gunung Latimojong diduga menjadi salah satu pemicu utama menurunnya tutupan hutan di wilayah ini. 

Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amien mengungkapkan, banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Luwu ditengarai berawal dari pembukaan lahan untuk tambang emas di Gunung Latimojong.

"Dari kajian yang kami lakukan memang dari tiga tahun terakhir daya dukung dan daya tampung Latimojong mulai menurun signifikan, seraya dengan penurunan tutupan lahan di pegunungan tersebut, khususnya di Kabupaten Luwu. Makanya setiap wilayah itu dilanda intensitas hujan tinggi terjadi banjir dan longsor, kemudian daerah Wajo dan Sidrap juga terkena dampaknya," ungkapnya dalam Detik Sulsel, Senin (6/5/2024).  

Hasil analisis tutupan hutan di lima kabupaten menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah yang mengalami banjir dan longsor memiliki tutupan hutan di bawah 30 persen.

Di Kabupaten Luwu, hanya DAS Suso yang memiliki tutupan hutan 39,43 persen, sementara DAS lainnya seperti Suli (17,73 persen), Mati (5,55 persen), Ponrang (12,53 persen), Temboe (13,57 persen), Paremang (26,16 persen), dan Lamunre (3,81 persen) berada jauh di bawah angka ideal untuk menjaga keseimbangan hidrologis.

Selain itu, Ahmad Yusran, aktivis lingkungan di Sulawesi Selatan, juga menyatakan bagaimana dampak dari fragmentasi habitat akibat alih fungsi hutan untuk pertambangan. 

“Bahkan Luwu yang dahulu menjadi benteng karbon dan sumber kehidupan bagi flora-fauna kini terkoyak. Alih fungsi hutan untuk pertambangan menyebabkan deforestasi yang mempercepat krisis iklim. Fragmentasi habitat juga mengancam keanekaragaman hayati dan memperburuk bencana ekologis seperti banjir dan longsor,” jelas Ahmad dalam Harian Fajar, Minggu (20/42025). 

Menurut data Global Forest Watch, pada 2020 Luwu masih memiliki sekitar 90 ribu hektare hutan alam atau sekitar 31 persen dari luas daratannya.

Namun, pada 2024, Luwu kehilangan sekitar 160 hektare hutan alam. Angka ini mungkin terlihat kecil secara persentase, tetapi kehilangan hutan alam, terutama di kawasan pegunungan, memiliki dampak ekologis yang besar karena menyangkut hutan primer yang menjadi habitat utama satwa endemik.

Arti Kehilangan Pohon Bagi Satwa Arboreal

Sebagaimana telah diketahui, kuskus beruang sulawesi merupakan satwa arboreal, artinya hampir seluruh aktivitas hidupnya dilakukan di atas pohon. Sekitar 89 persen waktunya digunakan untuk tidur dan beristirahat di tajuk pepohonan.

Mereka memilih pohon tertentu yang tinggi dan rimbun sebagai tempat tidur, sekaligus memanfaatkan daun, pucuk muda, bunga, dan buah dari jenis-jenis pohon tertentu sebagai sumber pakan. 

Beberapa penelitian menunjukkan, kuskus beruang sangat selektif dalam memilih pakan. Ketergantungan pada jenis pohon tertentu menjadikan mereka sangat rentan terhadap perubahan komposisi hutan.

Ketika pohon-pohon besar ditebang atau hutan terfragmentasi, maka bukan hanya ruang geraknya yang terganggu, tetapi juga sumber makan dan tempat berlindungnya ikut hilang. 

Fragmentasi habitat menyebabkan tajuk-tajuk pohon yang sebelumnya saling terhubung menjadi terputus. Bagi satwa arboreal seperti kuskus, konektivitas antar-pohon sangat penting untuk berpindah tanpa harus turun ke tanah. Ketika koridor alami ini hilang, kuskus bisa terpaksa turun ke tanah untuk mencari jalur lain atau sumber makanan.

Turunnya satwa arboreal ke tanah meningkatkan risiko yang mereka hadapi, seperti ancaman predator, konflik dengan manusia, hingga potensi perburuan. Selain itu, kondisi tersebut juga bisa mencerminkan terganggunya pohon tidur atau berkurangnya kualitas habitat akibat aktivitas manusia di sekitarnya.

Kerusakan hutan, yang berarti berkurangnya pepohonan yang daun dan bunganya menjadi makanan pokok dari kuskus beruang sulawesi, dan juga pepohonan yang menjadi tempat tidur, dan jalur berpindahnya, jelas akan mengancam keberlangsungan hidup dari spesies ini. 

Jika kemunculan kuskus beruang di atas tanah pada 2026 dipahami sebagai sinyal perubahan yang terjadi di habitatnya, semisal adanya fragmentasi dari ruang hidupnya, maka ini harus menjadi perhatian yang serius. Mengingat, keberlanjutan di kawasan ini akan menentukan apakah kuskus beruang sulawesi tetap bertahan di habitat alaminya, atau semakin terdorong keluar dari ruang hidup yang selama ribuan tahun menjadi rumahnya.