Gardaanimalia.com - Di suatu perairan Laut Jawa, seekor lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) tersangkut pada selembar nilon transparan yang tak terlihat oleh siapapun. Ia meronta, tapi tidak ada yang datang melepaskannya. Dalam hitungan menit, ia kehabisan napas dan tenggelam.
Tidak ada nelayan yang berniat membunuhnya, tidak ada yang menyaksikannya, dan tidak ada yang mencatat kematiannya. Inilah cara kerja jaring hantu.
Apa Itu Jaring Hantu dan Mengapa Berbahaya?
Dalam dunia konservasi dan perikanan, ghost gear atau jaring hantu merujuk pada alat tangkap ikan yang ditinggalkan, hilang, atau sengaja dibuang ke laut, namun tetap berfungsi. Para ahli menyebutnya dengan istilah ALDFG (Abandoned, Lost, or Discarded Fishing Gear).
Jaring ini tidak pasif. Setelah terlepas dari pemiliknya, mereka hanyut mengikuti arus, tersangkut di terumbu karang, atau mengambang bebas di kolom air sambil terus menjebak apa pun yang melintas.
Yang memperburuk situasi, sebagian besar jaring hantu terbuat dari nilon sintetis yang membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk terurai secara alami. Artinya, sebuah jaring yang dibuang hari ini bisa terus membunuh satwa laut selama beberapa generasi manusia ke depan.
Skala Masalah Secara Global dan di Indonesia
Masalah ini bukan sekadar anekdot. Menurut laporan Environmental Investigation Agency yang mengutip data FAO, setidaknya 640.000 ton alat tangkap ikan masuk ke lautan dunia setiap tahunnya, setara dengan lebih dari 700 kali berat Menara Eiffel.
Dalam Global Ghost Gear Initiative (GGGI) juga diperkirakan sekitar 2 persen dari seluruh alat tangkap yang beroperasi secara global dinyatakan hilang setiap tahunnya, dengan total area yang bisa menutupi hampir dua kali luas Pulau Jawa.
Di Indonesia, masalah ini jauh lebih dekat dari yang kita kira. Penelitian dari Adlina, Wijayanti, dan Ratnasari (IPB University) yang dipublikasikan dalam Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan KKP mencatat bahwa hampir seluruh nelayan yang diteliti di perairan Laut Jawa pernah membuang jaring mereka, entah karena tersangkut, rusak, atau tidak layak pakai. Ghost gear yang mereka tinggalkan tidak menghilang. Ia terus bergerak dan terus membunuh.
Lebih lanjut lagi Studi dari Mochammad Riyanto (IPB University) yang terdokumentasi dalam repositori resmi IPB University menemukan bahwa di PPI Karangsong, Indramayu saja, tercatat 2.464 unit ghost gear dalam setahun sepanjang 123.214 meter dengan kerugian ekonomi yang ditanggung nelayan mencapai lebih dari Rp10,3 miliar. Sebanyak 87,6 persen alat tangkap yang beroperasi di wilayah itu adalah jaring insang, yang paling rentan menjadi ghost gear saat hilang atau ditinggalkan.
Bagaimana Lumba-Lumba Mati Karena Jaring Hantu?
Lumba-lumba adalah mamalia laut yang bernapas dengan paru-paru, bukan insang. Ketika seekor lumba-lumba tersangkut jaring hantu, ia tidak bisa naik ke permukaan untuk bernapas dan akan mati karena asfiksia (kekurangan oksigen) atau trauma fisik akibat kepanikan.
Seekor lumba-lumba dewasa hanya mampu menahan napas 8 hingga 15 menit dalam kondisi normal, dan jauh lebih singkat saat ia dalam kondisi panik. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh NOAA Fisheries, beberapa spesies yang paling terdampak di perairan Indonesia antara lain lumba-lumba irrawaddy (Orcaella brevirostris), lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus), lumba-lumba bungkuk (Sousa chinensis), dan porpoise tanpa sirip (Neophocaena phocaenoides). Khusus lumba-lumba irrawaddy di Teluk Balikpapan, populasinya diperkirakan hanya tersisa 67 individu, sementara setidaknya 18 individu diketahui mati akibat interaksi dengan jaring insang antara tahun 2000 hingga 2019.
Ghost Gear Bukan Sekadar Masalah Nelayan
Menyalahkan nelayan secara individual adalah pendekatan yang tidak adil dan tidak efektif. Banyak nelayan skala kecil tidak memahami dampak jangka panjang dari jaring yang hilang, dan biaya untuk mengambil kembali jaring yang tersangkut sering kali lebih besar dari nilai jaring itu sendiri. Kondisi alam seperti badai dan arus kuat juga membuat kehilangan jaring menjadi risiko yang sulit dihindari sepenuhnya. Persoalan sesungguhnya ada pada ketiadaan regulasi yang memadai.
Studi Adlina et al. yang diterbitkan dalam Jurnal Sosial Ekonomi KKP (2023) menyebut kerugian akibat ghost gear bagi nelayan harian di Laut Jawa sudah mencapai lebih dari Rp280 juta per tahun, belum termasuk waktu tambahan 30 sampai 60 menit yang harus dihabiskan setiap nelayan untuk membersihkan baling-baling yang terbelit.
Sayangnya, hingga kini belum ada regulasi spesifik tentang pengelolaan ALDFG di Indonesia. Tanpa kebijakan yang jelas, masalah ini akan terus berlanjut dan menjadi beban yang ditanggung bersama, baik oleh nelayan kecil maupun oleh ekosistem laut itu sendiri.
Dampak Lain Yang Sering Luput Dari Perhatian
Jaring hantu tidak hanya membunuh lumba-lumba. Penyu laut, hiu karang, pari, paus, dan burung laut juga menjadi korban. WWF melaporkan ratusan penyu mati setiap tahun akibat ghost gear di perairan Laut Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Selain itu, jaring yang tersangkut di terumbu karang bisa merusak area seluas ratusan meter persegi secara permanen, menghambat pertumbuhan karang, dan menyebarkan penyakit. Nilon yang terurai menjadi mikroplastik pun masuk ke rantai makanan laut dan akhirnya berakhir di piring makan kita.
Dalam menanggapi dan mengatasi permasalahan ini terdapat beberapa solusi yang sudah direkomendasikan.
- Gear Marking: FAO merekomendasikan sistem penandaan setiap alat tangkap agar bisa ditelusuri pemiliknya jika hilang.
- Program Nelayan Penyelamat Laut: Di kawasan timur Indonesia, melalui proyek SeaNet Indonesia, komunitas lokal berhasil mengumpulkan 18 ton jaring terlantar dalam 18 bulan untuk didaur ulang menjadi produk bernilai ekonomi.
- Jaring Biodegradable: Inovasi material kini memungkinkan produksi jaring yang bisa terurai secara alami, menghilangkan efek ghost fishing dalam waktu jauh lebih singkat.
- Ghost Gear Toolbox UNEP-COBSEA: Untuk kawasan Asia Tenggara, panduan interaktif ini sudah tersedia sebagai referensi bagi pemerintah, nelayan, dan komunitas dalam menangani ghost gear secara sistematis.
Jaring Hantu Tidak Akan Hilang Kalau Semua Orang Diam
Laut tetap rusak saat jaring hantu terus hanyut dan menjebak satwa yang seharusnya hidup bebas. Itu kenyataannya. Memilih produk perikanan bersertifikat, ikut clean-up pesisir, sampai mendorong kebijakan yang lebih jelas soal ALDFG bisa jadi langkah kecil yang benar-benar berdampak.
Kesadaran publik juga sangatlah penting, karena banyak orang masih belum sadar kalau ancaman ini terus terjadi di laut Indonesia. Semua jenis lumba-lumba dan hewan air yang ada di perairan Indonesia tidak punya cara untuk melindungi diri dari jaring yang ditinggalkan manusia.
Kita yang punya pilihan dan bisa mencegah hal tersebut. Semakin banyak orang peduli dan mulai bertindak, semakin besar peluang laut Indonesia tetap jadi rumah yang aman bagi satwa laut, bukan tempat mereka perlahan menghilang.















