Ekidna, Mamalia Bertelur Asli Papua Mirip Landak Mini

  • Share
Gambar Ekidna moncong pendek. | Foto: Tier und Naturfotografie J Und C. Sohns/ Getty Images
Gambar Ekidna moncong pendek. | Foto: Tier und Naturfotografie J Und C. Sohns/ Getty Images

Gardaanimalia.com – Ekidna merupakan mamalia bertelur atau monotremata asli tanah Papua. Satwa langka ini dikenal juga dengan sebutan nokdiak atau landak semut.

Hewan ini terdiri dari empat spesies yang persebarannya berada di Papua, Papua Nugini, dan Australia. Keempat spesies tersebut terdiri dari tiga spesies ekidna moncong panjang dari genus Zaglossus dan satu spesies moncong pendek dari genus Tachyglossus.

Sedangkan terdapat satu genus lainnya yang terdiri dari dua spesies, yaitu genus Megalibgwilia. Namun sayang, mereka kini telah punah.

Nah, Sobat! Jika dilihat sekilas, kamu akan mengira bahwa hewan ini adalah bagian dari keluarga landak, padahal sama sekali bukan. Ia hanya menyerupai landak saja.

Permukaan tubuhnya dipenuhi oleh duri dan rambut kasar berwarna cokelat. Sama seperti landak, durinya berfungsi sebagai bentuk perlindungan diri.

Bagaimana cara ekidna melindungi diri? Yaitu meringkuk dengan posisi melindungi kepalanya jika merasa terancam. Satwa dengan panjang tubuh antara 30-55 sentimeter ini memiki berat tubuh berkisar tiga sampai enam kilogram.

Hewan ini mampu bertahan hidup hingga lima puluh tahun, dan ia merupakan hewan nokturnal atau hewan yang aktif pada malam hari.

Akan tetapi Sob, rupanya, sebelum menjadi satwa nokturnal, hewan yang hidup satu zaman dengan dinosaurus ini awalnya adalah hewan yang aktif pada siang hari. Begitu juga dengan mamalia lainnya pada masa itu.

Namun seiring berjalannya waktu, keberadaan manusia modern sekitar 200.000 tahun lalu di Afrika dan sekitar 50.000 tahun lalu di Papua, menjadi ancaman terhadap keberadaan satwa-satwa yang hidup di zaman tersebut.

Di mana kondisi seperti itu kemudian memengaruhi aktivitas kebanyakan mamalia. Karena demi melindungi diri dari intaian manusia, sebagian besar dari mereka menjadi aktif pada malam hari, termasuk ekidna.

BACA JUGA:
Burung Dara Mahkota, Maskot Manokwari yang Terancam Punah

Untuk mempertahankan populasinya, salah satu cara yang dilakukan hewan soliter atau penyendiri ini adalah bereproduksi. Musim kawin ekidna berlangsung mulai dari pertengahan Mei hingga awal September.

Mereka juga memiliki ritual kawin yang unik. Beberapa ekor jantan akan berjalan membuntuti si betina sampai akhirnya sang betina siap untuk kawin.

Jantan paling kecil dan paling muda biasanya akan berjalan di barisan terakhir. Di mana sang betina biasanya akan memilih jantan yang dianggap paling kuat dan paling besar.

Satwa ini memiliki telur berbulu dan bercangkang lunak. Sang induk biasanya mengeluarkan satu telur yang akan disimpan dalam kantung tubuhnya.

Tidak lama setelah itu, selang sepuluh hari, lahirlah bayi ekidna yang akan meminum susu dari pori-pori kelenjar susu induknya. Si bayi akan berlindung di dalam kantung sang induk selama 44-45 hari.

Ketika anaknya mulai tumbuh duri, sang induk akan menggalikan lubang untuk menaruh anaknya. Setiap lima hari sekali, induknya akan datang untuk menyusui hingga anak itu berusia tujuh bulan.

Mamalia purba ini ternyata memiliki kemampuan luar biasa dalam bertahan hidup, misalnya bertahan dalam kebakaran hutan.

Pada 2013 lalu, Julia Nowack, seorang peneliti dari University of New England di New South Wales menemukan bahwa populasi ekidna mampu bertahan setelah sebagian besar satwa liar mati dalam kebakaran yang melanda Taman Nasional Warrumbungle, Australia Timur.

Penemuan itu mendorong penelitian selanjutnya oleh Nowack serta rekan-rekannya. Mereka mengikuti ekidna yang sudah dipasangi pelacak GPS yang direkatkan ke duri di punggung.

Mereka menemukan, ekidna tidak berusaha melarikan diri jika ada kobaran api. Mereka justru pergi tidur dan melewatinya dengan hibernasi.

Ketika hibernasi, ekidna menurunkan metabolisme yang juga menurunkan suhu tubuhnya yang membuat mereka dapat menghemat energi.

BACA JUGA:
Owa Kalawat, Primata Endemik Kalimantan yang Terancam Punah

Selain itu, mereka juga memilih tempat yang aman dan tersembunyi, seperti lubang pohon atau liang tanah untuk melindungi diri dari api.

Gambar Ekidna moncong panjang. | Foto: D. Paper & E. Paper-Cook/Minden Pictures/CORBIS
Gambar Ekidna moncong panjang. | Foto: D. Paper & E. Paper-Cook/Minden Pictures/CORBIS

Makanan favoritnya adalah rayap. Dengan kukunya yang tajam, ia akan menggaruk tanah atau batang pohon untuk menemukan makanan-makanan itu.

Lidahnya lengket dan memiliki panjang hingga lima belas sentimeter. Dengan lidah itulah ia bisa menangkap rayap atau serangga lain yang menjadi makanannya.

Ekidna adalah hewan yang toothless. Yang artinya ia tidak memiliki gigi, sehingga makanan yang ia konsumsi itu langsung telan tanpa dikunyah.

Di Indonesia, dua jenis ekidna masuk dalam kategori dilindungi, yaitu Tachyglossus aculeatus dan Zaglossus bruijni. Tachyglossus aculeatus adalah ekidna moncong pendek, sedangkan Zaglossus bruijni adalah ekidna moncong panjang.

Bagi masyarakat Papua, ekidna merupakan hewan yang sakral. Di hutan, kedudukannya selayaknya seorang raja. Mengutip dari Mongabay, masyarakat adat di Papua akan mengatur agar ekidna dan satwa-satwa terancam di Cyclops dilarang ditangkap oleh siapa saja.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments