Berita

Menteri LH Tabuh Genderang 'Tobat Ekologis' di Sumbar, Targetkan Tanam 2 Miliar Pohon

17/07/2026|Andri Mardiansyah
Menteri Lingkungan Hidup tanam pohon sebagai bentuk Gerakan Tobat Ekologis Foto Kementerian Lingkungan Hidup - Menteri LH...

Menteri Lingkungan Hidup tanam pohon sebagai bentuk Gerakan Tobat Ekologis. | Foto: Kementerian Lingkungan Hidup

Gardaanimalia.com - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) kian agresif memperkuat langkah pemulihan ekosistem nasional. Langkah nyata ini diwujudkan melalui penguatan "Gerakan Tobat Ekologis" yang dikawinkan dengan inisiatif masif penanaman dua miliar pohon di tanah air.

Menteri Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa Gerakan Tobat Ekologis bukan sekadar slogan, melainkan panggilan moral fundamental bagi seluruh elemen masyarakat.

Gerakan ini merupakan momentum refleksi publik untuk menyadari kekeliruan masa lalu dalam mengeksploitasi alam, berkomitmen menghentikan kerusakan, dan memulai aksi pemulihan yang nyata.

"Yang punya kuasa, gunakan kekuasaannya. Yang punya intelektualitas, gunakan intelektualitasnya. Yang punya pengaruh, gunakan pengaruhnya," ujar Menteri Jumhur tegas, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis pada Rabu (15/7/2026).

Menurut Jumhur, institusinya kini fokus pada pemulihan lingkungan sebagai tanggung jawab kolektif lintas sektor yang menuntut partisipasi aktif dari setiap individu.

Aksi penyelamatan alam ini, kata Jumhur, dapat diinisiasi dari langkah-langkah mikro yang sederhana, mulai dari konsisten menjaga kebersihan sungai, tertib mengelola sampah domestik harian, hingga terlibat aktif dalam penghijauan masif.

Di samping menggerakkan aspek moral publik, Jumhur membeberkan bahwa KLH/BPLH tengah menggodok kebijakan strategis berupa penerapan aturan Extended Producer Responsibility (EPR) bagi sektor industri.

Lewat regulasi ketat ini, para produsen yang menghasilkan kemasan plastik bakal diwajibkan mengalokasikan pos dana khusus guna bertanggung jawab dalam mereduksi sampah produk mereka.

Jumhur turut melayangkan apresiasi tinggi terhadap komitmen civitas akademika Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Sumatera Barat. Kampus maritim tersebut dinilai sukses membangun fondasi Humanist, Smart, Sustainable, Eco-Friendly Campus (HSSEC).

"Kampus ini sukses menghadirkan inovasi sirkular ekonomi secara riil, seperti penyediaan fasilitas pengelolaan minyak jelantah, pengolahan sampah organik menjadi kompos, hingga budidaya magot yang bernilai guna," puji Jumhur.

Gubernur Sumbar: Merawat Lingkungan adalah Kebutuhan Absolut

Sementara itu, Gubernur Sumatra Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, menyatakan bahwa esensi Gerakan Tobat Ekologis memiliki relevansi yang sangat kuat dan mendalam bagi kondisi geografis Sumatra Barat yang dalam beberapa tahun terakhir rentan dihantam bencana hidrometeorologi.

Ancaman bencana alam menahun seperti banjir bandang dan tanah longsor terbukti telah memicu kerusakan masif pada sektor infrastruktur publik, melumpuhkan lahan pertanian produktif, hingga mengganggu stabilitas aktivitas ekonomi warga. Kondisi darurat inilah yang membuat agenda pelestarian alam tidak bisa ditunda lagi.

Menurut Mahyeldi, rentetan peristiwa bencana tersebut harus dipandang sebagai alarm keras yang mengingatkan semua pihak bahwa merawat kelestarian lingkungan bukan lagi pilihan sukarela, melainkan kebutuhan absolut untuk meminimalisasi risiko bencana di masa depan.

“Gerakan Tobat Ekologis ini mengajak kita semua melakukan lompatan perubahan nyata dalam memperlakukan alam semesta. Saat kita berkomitmen menjaga alam, di saat yang sama kita sebenarnya sedang memproteksi keselamatan masyarakat serta masa depan generasi penerus,” tutur Mahyeldi.

Sebagai langkah konkret di tingkat daerah, Pemprov Sumbar secara bertahap telah memberlakukan kebijakan instruktif mengenai pengelolaan sampah mandiri berbasis sumber di seluruh kantor dinas provinsi serta sekolah-sekolah di bawah kewenangan pemprov.

Kebijakan ini ditargetkan mampu memotong drastis pasokan sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekaligus menyuntikkan budaya ramah lingkungan sejak dini.

Mahyeldi menambahkan, terobosan sirkular yang dipraktikkan oleh Politeknik Pelayaran Sumatra Barat menjadi bukti sahih bahwa sampah dapat dikonversi menjadi berkah ekonomi jika disentuh dengan inovasi yang tepat. Model pengelolaan hulu-hilir seperti ini dinilai sangat layak direplikasi secara luas di berbagai instansi pemerintah dan lembaga pendidikan lain di Sumbar.

Di luar keberhasilan pengelolaan lingkungan, Mahyeldi juga memuji rekam jejak Poltekpel Sumbar dalam mencetak penetrasi sumber daya manusia (SDM) berkualitas global.

Hal ini dibuktikan dengan tingginya daya serap pasar kerja terhadap para taruna-taruni kampus tersebut, bahkan sebelum mereka resmi merampungkan masa pendidikan. Pemprov Sumbar pun menegaskan siap mendukung perluasan akses bagi putra-putri daerah untuk menempuh studi di sana.

"Melalui gaung Gerakan Tobat Ekologis ini, Pemprov Sumbar berharap lahir sebuah gerakan masif terpadu yang menyatukan pemda, akademisi, dunia usaha, hingga masyarakat akar rumput. Sinergi ini diharapkan kokoh menumbuhkan budaya jaga alam, menekan timbulan sampah, serta melipatgandakan resiliensi daerah menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi demi menyongsong Indonesia Emas 2045," tutup Mahyeldi.