Gardaanimalia.com - Monyet ekor panjang (MEP) adalah primata non-manusia yang mudah beradaptasi di berbagai tipe habitat, termasuk lingkungan perkotaan (Syafutra et al, 2023).
Satwa bernama latin Macaca fascicularis ini memiliki tingkat penasaran terhadap hal baru dan melakukan perpindahan untuk mencari makan.
Sifat penasaran tersebut membawa MEP yang hidup di perkotaan atau dekat dengan permukiman berinteraksi secara langsung dengan manusia (Hambali, 2012).
Jika habitatnya dekat dengan permukiman, ia akan sering masuk area tersebut untuk mencari makan, misalnya memakan hasil kebun dan tani warga, makanan sisa olahan, hingga mengorek sampah ketika sumber pakan di habitatnya tidak tercukupi.
Pada beberapa kasus, MEP yang merasa terancam dapat bertindak agresif, berupa mencakar atau menggigit (Oriza et al., 2019). Interaksi yang di luar batasan ini menimbulkan konflik dan dapat membahayakan kedua pihak, baik manusia maupun MEP.
Apa Itu Zoonosis?
Zoonosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui hewan ke manusia atau sebaliknya, akibat ketidakseimbangan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan (Salam et al., 2020).
Jika sedang terinfeksi, satwa yang juga akrab disebut monyet pantai (monpai) ini dapat menularkan zoonosis ke manusia melalui cakaran atau gigitan.
Zoonosis yang berasal dari MEP antara lain; cacar monyet (mpox, sebelumnya dikenal dengan istilah monkeypox), rabies, dan herpes B (Ponzetto, et al., 2023; Budiyarto, et al., 2023; Tanzil, 2014).
Sebaliknya, manusia pun dapat menularkan penyakit terhadap MEP. Risiko ini meningkat ketika MEP sering beraktivitas di sekitar permukiman dan terpapar lingkungan yang telah dipengaruhi aktivitas manusia.
Berdasarkan preferensi pakannya, primata ini memiliki ketertarikan terhadap pakan non-alami seperti makanan olahan sisa manusia yang berisiko bagi kesehatannya, misalnya dalam penelitian Mcmurray (2000) dalam Putra et al. (2017), MEP berpotensi terserang penyakit tuberkulosis yang ditularkan dari manusia (McMurray, 2000 dalam Putra et al., 2017).
Interaksi berlebih dapat berakibat fatal dengan hadirnya rantai penularan penyakit. Oleh karena itu, menjaga kesehatan satwa liar sama dengan menjaga kesehatan lingkungan dan manusia. Dalam hal ini, mengupayakan konservasi biodiversitas sangat penting bagi manusia.
Sebagaimana tertuang dalam pendekatan One Health, yang mengakui bahwa kesehatan manusia, satwa dan limgkungan saling terikat erat.


![Kota yang Membelai dan Mengusir: Zoonosis dan Relasi Manusia–Hewan yang Berubah di Kota Besar [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kota-yang-membelai-dan-mengusir-zoonosis-dan-relasi-manusia-hewan-yang-berubah-di-kota-besar-bagian-1.webp)













