Mendalam

Bukit Hilang, Monyet Menjelang

08/05/2026|Meza Swastika
Monyet ekor panjang yang berada di atas rumah warga Kelurahan Sukamenanti Foto Meza Swastika - Bukit Hilang Monyet Menjelang

Monyet ekor panjang yang berada di atas rumah warga Kelurahan Sukamenanti. | Foto: Meza Swastika

Gardaanimalia.com - Bambu runcing sepanjang kurang dari dua meter itu, kini selalu ada di sisi Wati. Bambu itu, khusus ia jadikan sebagai senjata untuk menghalau monyet-monyet yang selalu datang mencari makan dan mengacak-acak dagangannya.

Pedagang soto di tepian Jalan Sejahtera, Kelurahan Sukamenanti, Kedaton itu memang selalu was-was akan kehadiran puluhan ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Entah, sudah tak terhitung lagi berapa kali dagangannya digondol oleh kawanan monyet.

“Terakhir minggu kemarin, dagangan cuma saya tinggal sebentar mau ambil sayur di rumah, ndilalah waktu balik lagi ke warung, monyet-monyet sudah ngacak-ngacak dagangan. Semua sayuran, gorengan habis diambilin monyet-monyet itu,” kata Wati gusar.

Ia yang kesal sempat membabi buta memukul kawanan monyet tersebut dengan bambu.

”Ada tiga (monyet) yang kena, tapi malah meloncat mau mencakar saya, akhirnya karena gemas, saya tusuk dengan bambu."

Uploaded content
Kawanan monyet yang masuk kawasan permukiman di Kelurahan Sukamenanti, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung. | Foto: Meza Swastika

Sebenarnya, bukan hanya pedagang kecil seperti Wati saja yang punya pengalaman buruk dengan kawanan monyet, setidaknya hampir semua warga yang tinggal di tiga kelurahan; Kelurahan Sidodadi, Kelurahan Sukamenanti, dan Kelurahan Sukamenanti Baru, di Kecamatan Kedaton sudah jengah dengan kehadiran monyet-monyet tersebut.

Bukan cuma permukiman, sejumlah fasilitas publik seperti, rumah sakit, pasar maupun perkantoran juga kerap disatroni kawanan monyet ekor panjang yang lapar.

Ironis, kondisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu, namun upaya penanganan dari Pemerintah Kota Bandar Lampung nyaris tidak ada.

Warga yang marah terhadap kawanan monyet kemudian berusaha mengatasinya dengan berbagai macam cara, yang paling sering adalah dengan diracun, ditembak dengan senapan angin hingga diketapel yang membuat ratusan monyet mati.

Wahyudi, warga Kelurahan Sukamenanti Baru bahkan mengaku pernah meracun ratusan ekor monyet yang kerap kali masuk ke dalam rumahnya dengan racun tikus, tetapi karena populasi monyet-monyet tersebut terus bertambah banyak, ia akhirnya menghentikan aksinya.

“Jumlahnya seperti nggak pernah habis, meski diracun, ditembak, diketapel, tetap saja datang lagi terus,” ujarnya. 

Selain itu, Wahyudi juga terpaksa menghentikan aksinya karena bangkai-bangkai monyet yang mati karena diracun kerap kali menimbulkan bau yang mengganggu, ”Jadi serba salah, kalau diracun atau ditembak, bangkainya kadang ada di atas rumah warga.”

Uploaded content
Beberapa monyet yang ada di komplek pemakaman di Kelurahan Sukamenanti. | Foto: Meza Swastika

Yatono (76) salah satu sesepuh di Kelurahan Sukamenanti menyebut aksi ratusan ekor monyet sebenarnya sudah berlangsung bahkan sejak awal tahun 2000-an, seiring mulai maraknya pembukaan lahan di kawasan Bukit Sukamenanti dan Bukit Banten.

“Dulu, jangankan monyet, menjangan aja masih ada,” tuturnya.

Setelah penduduk dan kawasan kota mulai berkembang, banyak satwa-satwa di dua bukit itu yang habis diburu dan tersisih, lanjut Yatono.

”Tetapi, waktu itu monyet-monyet belum masuk ke permukiman penduduk, karena sumber pakan masih melimpah di dua bukit itu.”

Ia memperkirakan aksi kawanan monyet mulai masuk ke permukiman warga setelah habitatnya di Bukit Sukamenanti mulai dieksploitasi untuk aktivitas penambangan batu gamping yang kian marak. 

Keterangan Yatono ini juga dikuatkan oleh hasil kajian Tsabita Naqqiya dari Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung 2019 lalu. Kajian itu menyebutkan, sejumlah fauna yang ada di Bukit Sukamenanti meliputi rusa, macan akar, burung dan musang, hilang akibat alih fungsi hutan.

Sekarang yang tersisa hanya monyet ekor panjang, tapi kondisinya juga amat riskan akibat konflik dengan manusia sebagai dampak dari hilangnya sumber pakan utama mereka di Bukit Sukamenanti. 

Uploaded content
Yatono (76), warga Kelurahan Sukamenanti sebagai salah satu warga yang pertama kali bermukim di lereng Bukit Sukamenanti. | Foto: Meza Swastika

Sementara itu, data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Lampung pada 2008 menyebut, awalnya ada lima titik aktivitas penambangan batu di kawasan Bukit Sukamenanti, dengan kapasitas produksi rata-rata tiap titik penambangan hingga 150 meter kubik batu gamping tiap harinya.

Aktivitas penambangan di Bukit Sukamenanti makin marak pada 2014 dengan jumlah titik penambangan batu yang terus bertambah. Data investigasi tim Serikat Hijau WALHI Lampung menyebut adanya indikasi kawasan perbukitan tersebut sudah dikaveling-kaveling oleh oknum untuk melakukan penambangan batu gamping.

Saat itu, WALHI sempat pula melakukan aksi atas aktivitas penambangan liar di Bukit Sukamenanti yang dianggap menyalahi Pasal 67 UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) dan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang, yang mewajibkan setiap daerah menyediakan 30 persen dari luas wilayahnya sebagai Ruang Terbuka Hijau.

Direktur Eksekutif WALHI Lampung, Irfan Tri Musri kepada Garda Animalia, secara tegas terus mengkritisi lemahnya sikap Pemerintah Kota Bandar Lampung yang melakukan pembiaran terhadap aktivitas penambangan batu yang masih terus berlangsung hingga kini. 

“Ratusan monyet yang masuk ke permukiman warga itu adalah salah satu ekses dari rusaknya Bukit Sukamenanti,” tegas Irfan Tri Musri.

Uploaded content
Aktivitas penambangan batu di salah satu titik yang ada di Bukit SUkamenanti yang masih terus berlangsung. | Foto: Meza Swastika

Lucunya, Pemerintah Kota Bandar Lampung sudah sejak awal menetapkan kawasan Bukit Sukamenanti sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sekaligus daerah resapan air yang ditetapkan melalui dua peraturan daerah, yakni Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 1 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Bukit dan Lereng, dan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 10 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah tahun 2011-2030.

Akibat hilangnya fungsi bukit sebagai ruang terbuka hijau dan daerah resapan air itu pula, lanjut Irfan Tri Musri, Kota Bandar Lampung kerap kali diterjang banjir.

“Banjir dan konflik antara manusia dengan kawanan monyet itu adalah sebagian kecil dampak dari perusakan bukit untuk penambangan. Ada dampak lain yang mungkin bakal lebih besar, jika tak cepat diantisipasi, termasuk konflik manusia dan monyet ini juga bakal berpotensi lebih besar lagi,” tegasnya.

Hasil penelusuran Garda Animalia di sisi selatan Bukit Sukamenanti juga menunjukkan jika aktivitas penambangan batu masih terus berlangsung hingga saat ini. Ada yang menggunakan alat berat hingga ditambang secara manual.

Mirisnya, salah satu titik aktivitas penambangan justru berada tepat di belakang kantor Kecamatan Kedaton.

Kawasan-kawasan tambang itu bahkan masih dijaga ketat oleh sejumlah orang yang mengawasi tiap orang yang hendak masuk ke lokasi penambangan batu itu. 

Uploaded content
Salah satu komplek perumahan yang berada di punggung Bukit Sukamenanti. | Foto: Meza Swastika

Selain aktivitas penambangan yang masih sedemikian masif, punggung-punggung Bukit Sukamenanti juga sudah berubah menjadi kawasan perumahan. Mulai dari perumahan subsidi, hingga perumahan elit yang terus dibangun sejak sepuluh tahun terakhir.

Berdasarkan penelusuran di kawasan bukit itu, setidaknya terdapat dua lokasi perumahan subsidi dan dua lokasi perumahan non subsidi yang ada di punggung Bukit Sukamenanti.

Kian hilangnya habitat dan habisnya sumber pakan di Bukit Sukamenanti ini pulalah yang pada akhirnya membuat kawanan monyet merambah ke permukiman.

Pekan lalu, dengan ditemani Yatono, kami sempat mencari keberadaan kawanan monyet ekor panjang ini. Namun, karena beberapa sudut kawasan Bukit Sukamenanti masih dijaga oleh pengelola tambang, akses menjadi amat terbatas. Satu-satunya cara dilakukan hanya dengan menaiki Bukit Banten yang bersisian langsung dengan Bukit Sukamenanti.

Bukit Banten kini menjadi habitat baru bagi koloni monyet ekor panjang, setelah habitat lamanya, Bukit Sukamenanti, porak poranda akibat penambangan dan permukiman. Namun, tidak ada sumber pangan yang bisa diandalkan untuk kawanan monyet di Bukit Banten karena hampir sebagian besar kawasan bukit ini juga sudah beralih fungsi menjadi permukiman liar hingga pemakaman umum. Dengan begitu, amat wajar jika kemudian kawanan monyet ini masih terus mencari makan di kawasan permukiman penduduk.

Jika dulu, masih menurut Yatono, kawanan monyet itu hanya masuk ke permukiman sekali dalam sehari, kini intensitasnya bahkan makin sering. 

”Sehari bisa tiga kali masuk ke rumah-rumah warga. Biasanya itu, pagi, siang dan sore hari. Kalau datang itu, jumlahnya bisa ratusan ekor,” ujarnya.

Uploaded content
Salah satu sudut permukiman warga di Kelurahan Sukamenanti. | Foto: Meza Swastika

Sekarang pula, lanjutnya, bukan cuma mencari makan di rumah-rumah warga, monyet-monyet itu pula kerap melakukan perusakan terhadap properti milik warga. Hal ini dipicu kian susahnya monyet-monyet itu memperoleh makanan karena sikap antisipatif warga yang memilih menutup seluruh akses masuk ke dalam rumah. 

“Sekarang itu, pintu, jendela rumah warga disini, dari pagi sampai sore itu pasti ditutup semua, karena kalau tidak seperti itu, pasti dimasukin monyet,” ungkapnya.

Karena tak lagi memperoleh makanan di rumah-rumah warga itu pulalah yang kemudian memicu kawanan monyet untuk melakukan perusakan.

Peristiwa yang paling sering terjadi adalah merusak genting rumah warga agar bisa masuk ke dalam rumah.

“Wah, kalau genting rumah mah sudah nggak keitung lagi berapa rumah yang rusak, dan itu pasti terjadi setiap hari,” ujar Noviansyah warga Jalan Sejahtera, Kelurahan Sukamenanti Baru.

Sebenarnya, warga sudah mulai tak betah dengan keadaan ini. Mereka mendesak agar pemerintah segera menanganinya.

”Kami pusing setiap hari harus berhadapan dengan monyet-monyet itu, sementara pemerintah diam saja,” keluh Wahyudi.

Sementara, Direktur Eksekutif WALHI Lampung, Irfan Tri Musri, mendesak Pemerintah Kota Bandar Lampung segera mencari solusi serius untuk menangani konflik antara warga dan monyet.

“Masalah ini (konflik manusia dan monyet) tak bisa dianggap sepele. Karena pertumbuhan penduduk terus berlangsung demikian pula dengan kawanan monyet itu, bukan tidak mungkin masalah yang lebih serius akan muncul jika pemerintah tak cepat mengantisipasinya,” tegas Irfan Tri Musri.