Jalan-Jalan ke Sekolah Orangutan di Arboretum Nyaru Menteng

  • Share
Gambar orangutan (Pongo). | Foto: BOS Foundation
Gambar orangutan (Pongo). | Foto: BOS Foundation

Gardaanimalia.com – Kera adalah satwa yang memiliki banyak kesamaan dengan manusia. Dalam wawancaranya bersama Wired, Dokter Tara Stoinski selaku Presiden, CEO, dan Kepala Scientific Officer di Dian Fossey Gorilla Fund menyebut hal serupa.

Ia mengatakan bahwa kera memiliki protoculture atau budaya perilaku yang diwariskan dan dipelajari dari satu generasi ke generasi selanjutnya seperti manusia.

Salah satu kera yang terkenal dengan kecerdasannya adalah orangutan (Pongo). Terdapat satu lelucon yang mengatakan jika kamu memberi obeng kepada simpanse, maka mereka akan merusaknya. Jika kamu memberikannya pada gorila mereka akan membuangnya.

Namun, jika kamu memberikannya pada orangutan, mereka akan membongkar semua benda yang ada di sana. Lelucon tersebut terdengar masuk akal saat kita mengetahui riset kemiripan DNA manusia dan orangutan mencapai 97%.

Satu lagi kesamaan antara manusia dan orangutan yaitu bersekolah. Ya, sejumlah orangutan juga pergi ke sekolah untuk belajar.

Melalui tulisan ini kita akan menelusuri Sekolah Hutan dan pusat rehabilitasi orangutan di Arboretum Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah yang dikelola oleh Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOS Foundation.

Kehadiran BOS Foundation

Saat ini ada tiga jenis orangutan yang kita kenal yaitu orangutan kalimantan, orangutan sumatera, dan orangutan tapanuli. Meski habitat mereka tersebar, mereka memiliki peran penting bagi ekosistem hutan tropis.

Orangutan bertugas sebagai seed dispersal yang akan memperkaya variasi vegetasi di hutan tropis, kekayaan vegetasi tersebut nantinya akan menyerap karbon dari atmosfer dan mengubahnya menjadi udara segar.

Sayangnya, tingginya angka perdagangan liar terus mengurangi eksistensi orangutan di habitatnya secara signifikan.

The IUCN Red List of Threatened Species mencatat, baik orangutan sumatera (Pongo abelii), orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) kini berstatus critically endangered atau terancam punah.

BACA JUGA:
Serba-serbi Konservasi Macan Tutul Jawa: Ancaman dan Usaha Mitigasinya

Orangutan juga masuk ke dalam daftar satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 Tahun 2018.

Hal itu pula yang melatarbelakangi BOS Foundation mendirikan pusat rehabilitasi Wanariset Samboja di Kalimantan Timur pada tahun 1991.

Pusat rehabilitasi tersebut didirikan untuk menyelamatkan orangutan yang menjadi korban perdagangan ilegal dan menjadi cikal bakal sekolah orangutan yang ada saat ini.

Sekolah Hutan di Arboretum Nyaru Menteng kini memiliki 300 ekor siswa orangutan. Di pusat rehabilitasi dan Sekolah Hutan tersebut para siswa yang diselamatkan dari berbagai kejadian buruk seperti perdagangan liar atau pemeliharaan ilegal.

Di sana, mereka akan dirawat. Bentuk perawatannya pun beragam, mulai dari perawatan medis, pelajaran keterampilan alami, hingga persiapan ‘kelulusan’.

Gambar orangutan kalimantan. | Foto: Indonesia.go.id
Gambar orangutan (Pongo). | Foto: Indonesia.go.id

Siswa Sekolah Hutan

Seperti sekolah favorit yang kita kenal, Sekolah Hutan Nyaru Menteng juga memiliki kualifikasi tertentu loh bagi calon siswa yang akan bersekolah. Siapa saja sih orangutan yang bisa jadi siswa di Sekolah Hutan?

“Kami di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng menerima orangutan yang diselamatkan dari pembukaan lahan hutan, perburuan liar, atau perdagangan satwa liar ilegal,” jelas dokter Agus Fahroni, Koordinator tim medis di Nyaru Menteng.

Dokter Agus melanjutkan bahwa kebanyakan orangutan tersebut adalah individu yang berhasil diselamatkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah.

Selanjutnya, orangutan yang berhasil diselamatkan akan dibagi menjadi dua kategori yaitu anak orangutan dan orangutan dewasa.

Anak atau bayi orangutan yang ditemukan dalam keadaan yatim piatu akan dikarantina terlebih dahulu sebelum masuk ke Sekolah Hutan. Karena tidak semua orangutan perlu bersekolah di Sekolah Hutan.

Seperti misalnya, orangutan dewasa yang sudah mandiri dan masih menunjukkan perilaku liar. Mereka akan diobservasi terlebih dahulu maksimal enam bulan lamanya sebelum ditranslokasi ke hutan yang aman.

BACA JUGA:
Bernilai miliaran, Satwa Dilindungi Orangutan kembali Diselundupkan ke Malaysia

Proses Belajar

Siswa yang sudah masuk ke Sekolah Hutan akan dilatih untuk mengembangkan keterampilan dan perilaku yang mendukung mereka bertahan hidup di alam liar sebagaimana mestinya.

“Kami berharap agar semua orangutan yang masuk ke pusat-pusat rehabilitasi BOS Foundation yaitu Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah dan Samboja Lestari di Kalimantan Timur, bisa memperoleh kesempatan hidup di alam liar, atau suaka dengan lingkungan berhutan yang mirip habitat asli mereka,” ujarnya.

Ada banyak kegiatan yang menjadi kurikulum di Sekolah Hutan ini. Para siswa akan diajarkan keterampilan memanjat pohon, berkegiatan di ketinggian, membangun sarang, mencari makanan, serta mengenali predator.

Gambar orangutan sumatera. | Foto: Forest.id
Gambar kera yaitu orangutan sumatera. | Foto: Forest.id

“Sementara perilaku yang kami coba kembangkan adalah keinginan untuk belajar dari sesama orangutan, bersosialisasi dengan orangutan lain, hidup mandiri dengan mengandalkan keterampilan yang telah dilatih, dan menjauhi manusia,” papar dokter Agus.

Selanjutnya, jika siswa sudah berhasil melalui tahap pembelajaran tersebut, mereka akan masuk ke tahap pra-pelepasliaran. Di tahap akhir ini mereka akan dikirim ke pulau pra-pelepasliaran untuk diuji kemampuannya.

Mereka harus mampu mempraktikkan keterampilan alami yang telah diajarkan di Sekolah Hutan dan mampu bersosialisasi dengan orangutan lain.

Akan tetapi, tidak semua orangutan bisa lulus dari Sekolah Hutan. Sejumlah orangutan yang memiliki kemampuan mengembangkan diri lebih lambat atau sulit berkembang biasanya memerlukan waktu lebih lama di Sekolah Hutan.

“Jika melebihi batas waktu tertentu mereka masih belum juga bisa menunjukkan perkembangan, sementara kelompok yang lebih muda telah siap untuk menggantikan, para orangutan yang lambat berkembang ini kami kelompokkan menjadi orangutan unreleasable atau berpotensi minimal dilepasliarkan,” tuturnya.

Para siswa yang masuk ke kategori unreleasable ini rencananya akan ditempatkan di suaka berhutan. Meski akan tetap diawasi sepanjang waktu, setidaknya mereka dapat merasakan hidup bebas di alam terbuka yang mirip dengan habitat asli mereka.

BACA JUGA:
Setelah 8 Tahun, Akhirnya Elang Brontok Kembali ke Alam Liar

Selain perkembangan yang lambat, penyakit menular seperti TBC atau cacat fisik juga membuat siswa Sekolah Hutan tidak dapat diluluskan. Pasalnya, hal -hal tersebut akan menghambat mereka hidup mandiri di alam liar.

Saat ini, ada 38 individu orangutan yang masih bersekolah di Sekolah Hutan Nyaru Menteng. Sementara yang sudah lulus dan yang sudah berada di tahap pra-pelepasliaran ada 112 individu.

“Sejak tahun 2012, pertama kali kami melepasliarkan orangutan dari Nyaru Menteng, kami telah melepasliarkan total 375 individu, yang bisa dikatakan hampir seluruhnya menjalani tahap Sekolah Hutan,” tutup dokter Agus.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments