Gardaanimalia.com - Jambi memiliki kearifan lokal yang mengajarkan manusia dan harimau saling menghormati, sebagaimana sejumlah daerah lain di Sumatra.
Oleh karena itu, Jambi menjadi salah satu lokasi yang disasar dalam agenda penyadartahuan dan edukasi terkait kearifan lokal tentang harimau sumatera kepada media massa oleh Belantara Foundation. Belantara Foundation turut aktif berpartisipasi untuk mengisi kegiatan dalam rangka Global Tiger Day 2025 yang diselenggarakan oleh Forum HarimauKita.
Masyarakat Jambi, tepatnya di kaki Gunung Kerinci mempercayai harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) sebagai jelmaan dari sahabat dan prajurit roh para leluhur.
Mereka menyebut harimau dengan julukan "Imaw Srabat" atau "Imaw Ulubalang", yaitu sosok penjaga hutan dan penghalau berbagai satwa liar yang akan masuk ke permukiman, serta sosok pelindung manusia dari segala bentuk perilaku jahat.
Oleh karena itu, masyarakat dituntut untuk menghormati harimau sumatera, bahkan terdapat aturan bahwa masyarakat yang masuk ke hutan tidak boleh menyebut kata ‘harimau’.
Jika melihatnya, masyarakat hanya boleh menyapanya dengan sebutan ‘dio’, ‘diyau’, dan ‘hantuo’. Sapaan tersebut berarti menghormati sosok dituakan karena harimau dipercaya lebih dahulu menempati hutan-hutan Kerinci.
H. Candra Purnama, S.H., M.H. Gelar Rajo Depati sebagai Ketua Lembaga Kerapatan Adat Nenek Empat Desa Betung Kuning Hiang Kabupaten Kerinci mengatakan bahwa kalau menyebut harimau dengan kata sembarangan di hutan, itu sama saja tidak sopan.
“Sebelum kami masuk hutan, kami harus berdoa, menjaga perkataan dan perilaku. Kami percaya harimau punya perjanjian dengan leluhur kami untuk menjaga hutan. Kalau dia muncul ke kampung, biasanya kami lakukan ritual agar hubungan tetap damai,” ujar Candra dalam keterangan tertulisnya, 23 Juli 2025.
Jadi, jika orang Jambi menjumpai harimau masuk ke permukiman, maka terdapat indikasi ada masyarakat yang melanggar suatu larangan atau hukum adat.
Jika masyarakat menemukan harimau mati, maka mereka akan membuat ritual adat dengan tarian Ngagah Harimau yang bertujuan untuk menghibur roh harimau.
Ritual tersebut juga bermakna agar manusia dan harimau bisa hidup berdampingan secara harmonis di alam.
Dalam ritual Ngagah Harimau, syair dibacakan untuk tiga harimau yang disebut Mangku Gunung Rayo, Rintek Ujan Paneh, dan Ulu Balang Tagea. Ketiga harimau ini diyakini memiliki perjanjian dengan nenek moyang masyarakat Kerinci untuk menjaga keharmonisan kehidupan mereka. Manajer Biodiversity and Wildlife Wahana Mitra Yosse Hendra membenarkan hal itu
“Ada juga yang menyebut nineak (nenek) bagi masyarakat desa atau desa-desa tua di Kerinci itu masih berlaku mereka juga menyebut nenek penjaga pematang, dan itu masih di beritahukan ke anak anak cucu mereka,” ujar Yosse kepada Garda Animalia, 23 Juli 2025.
Meskipun demikian, konflik antara manusia dan harimau sumatera masih terjadi di wilayah Jambi berapa tahun ke belakang. Secara global, ada berapa titik konflik, yaitu Sadu Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur), Merangin, dan Kabupaten Kerinci.
“Di wilayah Tanjab Timur dan Kerinci beberapa tahun belakangan hanya sebatas [konflik dengan] hewan ternak, sedangkan di Merangin konflik beberapa tahun kebelakang itu terjadi antara harimau dan manusia,” ungkap Josse.
Di sisi lain, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi juga mencatat peristiwa saat harimau menjadi korban perilaku manusia. Salah satunya seekor harimau sumatera yang terjerat tali sling di area HTR Bungo Pandan yang berbatasan dengan koridor PT WKS pada Mei 2025.
Tim gabungan berhasil mengevakuasi harimau dengan luka serius di bagian kaki kiri tersebut. Namun, meski sempat dirawat selama 28 hari, kondisinya tak juga membaik dan akhirnya mati pada 9 Juni 2025 malam.
Penulis: Irvan Sjafri
















