Opini

Membongkar Stigma Keliru tentang Hiu: Deep Water (2026) Menenggelamkan Fakta, Melanggengkan Ketakutan Buta

01/09/2026|Annisa Rakhmadini
Hiu mako Isurus oxyrinchus spesies yang dipilih untuk menjadi pemeran dalam film Deep Water Foto Patrick DollWikimedia Co...

Hiu mako (Isurus oxyrinchus), spesies yang dipilih untuk menjadi pemeran dalam film Deep Water. | Foto: Patrick Doll/Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com -  Kobaran api di pecahan badan pesawat yang mengapung di Samudra Pasifik itu , masih belum padam. Napas lega para penyintas insiden pesawat jatuh itu pun belum sempat benar-benar diembuskan. Tiba-tiba sekawanan hiu datang mengincar. Melenggak-lenggokkan badan dengan gesit, diiringi ancaman bahaya yang akan mereka hadirkan. Tubuh-tubuh terapung tak berdaya para penyintas adalah santapan mudah, yang bisa mereka lahap sepuasnya.

Mayat-mayat korban adalah makanan pembuka. Seperti belum puas,  hiu-hiu ganas itu melanjutkan santapan mereka dengan melahap sebagian penyintas yang selamat dari bencana runtuhnya pesawat di laut lepas itu, secara hidup-hidup.

Begitulah penggambaran buasnya kawanan ikan hiu di Samudra Pasifik, dalam film Deep Water (2026), yang tayang di Indonesia sejak 5 Agustus lalu. Sebagaimana film komersil  bergenre thriller. Film ini memang bertujuan memunculkan rasa tegang dan cemas, untuk dikonversi sebagai hiburan. Soal fakta dan realitas sesungguhnya, itu nomor dua. Namun, penggambaran keliru tentang karakter hiu dalam pertunjukan sinema seperti ini, ternyata membawa konsekuensi dalam dunia nyata.

Media, termasuk film, turut membantu membentuk cara manusia melihat dunia. Ketika sebuah film yang berusaha tampak merepresentasikan realita, gagal menyertakan fakta yang terverifikasi sains dan realita, ia akan membawa dampak buruk, berupa keyakinan keliru yang berpeluang besar dipercaya (sebagian) penontonnya.

Dampak negatif itu berpontesi besar muncul dari film Deep Water. Film ini dapat dikatakan sedang melanggengkan ketakutan tak berdasar manusia akan hiu di perairan lepas, yang sebenarnya sudah bercokol dan terus dibantah peneliti sejak lebih dari setengah abad lalu, saat melejitnya film Jaws (1975).

Hiu Mako, Hiu Koboi, dan Stigma Jahat yang Melekat

Salah satu keputusan paling mencolok dari Deep Water adalah pilihan spesies hiu sebagai sumber ketakutan. Sutradara Renny Harlin, memilih hiu mako (Isurus oxyrinchus) sebagai predator utama dalam film ini.

Di layar, hiu mako memang tampil mengesankan. Mereka cepat, ramping, dengan gigi berbentuk belati yang mengerikan. Akan tetapi, di lautan Pasifik terbuka, spesies yang terbukti paling sering dikaitkan sebagai pemangsa para penyintas kecelakaan kapal atau pesawat bukanlah hiu mako, melainkan hiu koboi (Carcharhinus longimanus) atau dikenal juga sebagai oceanic whitetip.

Salah satu catatan sejarah penyerangan hiu koboi terjadi pada Perang Dunia II, dalam insiden tenggelamnya kapal USS Indianapolis, pada Juli 1945. Kapal yang tenggelam karena tembakan torpedo dalam perang dunia ke-2 itu, semula membawa 1.195 orang. 900 orang di antaranya sempat berhasil keluar dari kapal, mencoba bertahan di lautan. 

Namun, pada akhirnya hanya 316 orang yang berhasil selamat. Diperkirakan ada 36 hingga 150 orang meninggal akibat hiu koboi dan kemungkinan hiu macan. Namun penyebab utama banyaknya korban meninggal adalah dehidrasi, luka bakar, dan kelelahan akibat terdampar di laut selama empat hari.

Dengan persentase tersebut, insiden tadi sudah cukup untuk disebut sebagai serangan terburuk hiu dalam sejarah. Bukan bermaksud mengerdilkan peran hiu sebagai penyebab kematian para korban, tetapi menggarisbawahi fakta bahwa faktor lain seperti kekurangan cairan tubuh, lebih mengancam keselamatan penyintas di laut lepas, ketimbang serangan hiu.

Ketika disandingkan dengan kenyataan, cukup sulit dipercaya bagaimana penyintas ledakan pesawat dalam Deep Water yang hanya berjumlah sekitar 30 orang, bisa mengalami serangan dari hiu yang begitu intensnya, hingga penyintas berkurang banyak saat film sudah mencapai akhir.

Mengutip National Geographic, hiu koboi memang memiliki karakter yang tidak takut untuk mendekati dan menubruk manusia. Namun, jika manusia sedang berkelompok dan mengusirnya, hiu ini tidak akan menyerang. Hiu koboi akan berbahaya jika manusia menjadi satu-satunya makanan yang tersedia bagi mereka.

Selain itu, hiu mako, yang visualnya dipinjam Deep Water, pada faktanya cenderung tidak memburu manusia secara aktif. Sehingga, pilihan Harlin atas hiu mako sebagai predator utama, murni untuk kepentingan estetis yang kurang masuk akal. Karena sifat yang ditampilkan tak menggambarkan baik hiu mako maupun hiu koboi.

Uploaded content
Ilustrasi hiu koboi. Spesies ini dahulu dicari karena siripnya yang besar. Sirip tersebut dimanfaatkan untuk konsumsi. | Foto: Wikimedia Commons

Benarkah Hiu Terus Menyerang dan Tak Pernah Kenyang?

Di luar kesalahan pemilihan spesies, memang benar bahwa hiu koboi adalah spesies yang oportunistik. Pada insiden tadi, mereka tertarik oleh suara ledakan, kapal yang sedang tenggelam, serta darah di dalam air, dan lama-lama tertarik pada penyintas yang masih hidup, mendeteksi melalui gurat sisi. Cukup khas penggambaran dasar hiu di film, jika saja spesiesnya tepat.

Namun, beberapa kali hiu di Deep Water digambarkan amat akrobatik. Mereka mampu melesat dari air dan melakukan lengkungan sempurna bak lumba-lumba saat menyambar penyintas. Pada hiu mako yang gesit, mungkin manuver itu tampak meyakinkan. Namun, sekali lagi, belum ada catatan hiu ini bertindak agresif. Adapun, hiu koboi yang menorehkan namanya di sejarah serangan hiu terburuk, justru adalah spesies yang bergerak lambat dan persisten.

Hiu di Deep Water ditampilkan bagai mesin makan yang tak pernah lelah, mereka cerdas dan haus darah, bergerombol seperti serigala, dan tidak pernah berhenti menyerang meskipun baru saja menelan orang. Faktanya, hiu, seperti semua vertebrata, memiliki mekanisme fisiologis yang memberi sinyal kekenyangan. Perilaku makan mereka diatur tidak hanya berdasarkan ketersediaan mangsa, tetapi juga kapasitas lambung dan kebutuhan energi.

Ketakutan yang Dipicu oleh Visual Palsu

Secara visual, sebagian besar imej hiu-hiu Deep Water adalah hasil Computer-Generated Imagery atau CGI. Efeknya terasa "murah" dan tidak mengesankan. Namun, ini jadi menarik.

Hiu di layar jelas terlihat palsu, tetapi film tetap berhasil memicu rasa takut. Jika boleh menebak, tampaknya karena film ini memunculkan visualisasi primitif tentang hiu: rahang terbuka, deretan gigi, kecepatan, gerakan tiba-tiba, ditambah sensitif akan darah. Semua itu memicu amigdala penonton sebelum otak rasional sempat berkata, "Ah, ini cuma efek komputer dan perilakunya tidak sesuai bukti ilmiah."

Mark Rober, mantan insinyur NASA, pernah menguji mitos klaim hiu dapat mencium aroma setetes darah dari jarak satu mil. Dalam eksperimen yang dilakukan di perairan yang banyak dihuni hiu di lepas pantai Bahama menggunakan papan selancar yang dilengkapi pompa khusus, ia menemukan bahwa hiu sangat menyukai darah ikan. Hiu juga menunjukkan ketertarikan sedang terhadap darah sapi, namun ternyata mengabaikan darah manusia. Namun, Deep Water memilih mempertebal mitos seakan darah manusia adalah magnet luar biasa bagi hiu, seakan memang demikianlah karakter alaminya di alam.

Ini mengamplifikasi siklus ketakutan buta. Penonton tahu hiu di layar tidak nyata, tetapi narasi film tetap membuat mereka takut pada eksistensi hiu. Di situ kemudian lahir ancaman: ketakutan akan hiu karikatur ini bukan tidak mungkin diproyeksikan kepada hiu di dunia nyata. 

Biaya Nyata dari Ketakutan Buta

Kita tidak perlu melihat jauh untuk memahami konsekuensi dari narasi semacam ini. Steven Spielberg sendiri pernah menyatakan penyesalannya atas dampak film Jaws yang ia buat terhadap populasi hiu.

Sebuah studi di Nature menemukan bahwa populasi hiu samudra dunia telah turun 71 persen sejak 1970-an akibat penangkapan berlebihan. Para peneliti menunjuk film-film seperti Jaws berperan dalam membentuk persepsi publik yang mendukung pembunuhan hiu terutama untuk aktivitas trophy hunting.

Sayangnya, mekanisme ini masih bekerja. Ranah psikologi menyebutnya availability heuristic, yaitu jalan pintas mental yang mengandalkan contoh-contoh yang segera muncul di benak seseorang saat mengevaluasi topik, konsep, metode, atau keputusan tertentu. Dalam hal ini, terus-menerus melihat gambaran hiu sebagai monster di layar, otak kita menaksir risiko serangan hiu jauh lebih tinggi daripada kenyataannya.

Padahal, biota laut yang jauh lebih mematikan adalah ubur-ubur kotak australia (Chironex fleckeri). Namun, kenyataan ini tampaknya luput dari refleks kita karena penggambaran kejam hiu di film-film seperti Jaws dan Deep Water tidak sebanding dengan penggambaran ubur-ubur gemas pada serial animasi Spongebob Squarepants yang familier dengan banyak orang lintas generasi dan negara. Memang sesekali ubur-ubur ditampilkan menyengat, tetapi adegan pascasengatan seringkali dibalut komedi dan tidak pernah benar-benar digambarkan memberi dampak fatal.

Uploaded content
Ubur-ubur kotak australia, salah satu spesies laut paling mematikan di dunia. | Foto: Guido Gautsch/Wikepedia

Indonesia sendiri adalah penyumbang lebih dari 10 persen total tangkapan hiu global. Setiap tahunnya, rata-rata tangkapan hiu mencapai 109.000 ton. Ketika secara kolektif publik menganggap hiu adalah ancaman, mereka tidak merasa ada yang salah dengan penangkapan bahkan mengonsumsinya. Bahkan, mungkin memberikan sensasi superioritas bagi pelakunya, karena mampu melahap spesies yang dianggap monster di lautan. Sayangnya, hiu adalah spesies dengan masa reproduksi yang tidak sebentar, dan memiliki fungsi ekologis yang tidak remeh. 

Kengerian yang Sesungguhnya

Jika pun film horor hiu masih harus tetap ada, bukan berarti penulisan yang lebih akurat akan membosankan. Yang diperlukan adalah niat untuk menghormati satwa yang dijadikan subjek, bukan sekadar mengeksploitasinya untuk sensasi.

Misalnya, dimulai dari menggunakan visualisasi spesies hiu yang terbukti pernah melakukan penyerangan, seperti hiu koboi. Mengadopsi perilakunya yang berenang tenang dan lambat, sebagaimana seharusnya, rasanya tidak kalah potensial menjadi elemen yang menarik untuk film thriller bertema hiu. Sebab, akurasi bukan sekadar soal ilmiah; ia adalah langkah pertama menuju konservasi.

Pada akhirnya, Deep Water adalah film yang bisa ditonton, meski mengkhawatirkan. Ia memilih hiu mako karena penampilannya, bukan ekologinya. Ia menunjukkan serangan tanpa henti bukan karena itulah perilaku biologis hiu, tetapi karena lebih seru dan terasa intens sebagai tontonan. Ia mengambil untung dari stereotip yang telah membunuh jutaan hiu di lautan nyata.

Sudah saatnya berhenti menjadikan ketidaktahuan sebagai komoditas, sembari berharap semua yang menonton mampu membedakan hiu hasil penggambaran sinema dan mitos selama setengah abad belakangan, dengan karakter hiu yang sesungguhnya.

Deep Water tak hanya menenggelamkan fakta. Ia juga melanggengkan ketakutan buta. Yang lebih mengkhawatirkan, adalah bagaimana manusia selama ini secara kolektif merespons ketakutan terhadap hiu, yang sesungguhnya lebih berbahaya.