Maleo, Si Burung Langka yang Dikenal Romantis dan Setia

  • Share
Maleo, Si Burung Langka yang Dikenal Romantis dan Setia
Burung maleo (Macrocephalon maleo). Foto: Wikimedia/Ariefrahman

Gardaanimalia.com – Burung Maleo (Macrocephalon maleo) adalah salah satu burung endemik Sulawesi yang hanya ada di kawasan Wallacea. Burung ini dikenal sangat romantis dan setia kepada pasangannya. Ketika burung betina akan bertelur, sang jantan akan mendampingi pasangannya sampai ke lokasi untuk bertelur. Keduanya menggali pasir secara bergantian yang memakan waktu 3-4 jam.

Kemudian, telur diletakkan pada kedalaman dengan temperatur yang cocok untuk penetasan. Setelah bertelur, keduanya akan meninggalkan tempat bertelur dan “memerdekakan” telurnya hingga menetas. Burung langka ini hanya bertelur sebanyak satu butir dalam satu musim. Ukuran telurnya sebesar 11 cm dengan berat 240-270 gram. Penetasan telur tersebut biasanya memakan waktu sekitar 62-85 hari.

Ciri Burung Maleo dan Status Konservasinya

Burung endemik ini memiliki panjang tubuh sekitar 55 cm dengan bulu yang didominasi warna hitam. Di sekitar matanya terdapat kulit berwarna kuning serta iris mata yang merah kecokelatan. Kakinya berwarna abu-abu. Paruhnya jingga dengan bulu pada bagian sisi bawah merah muda keputihan. Di atas kepala terdapat semacam jambul keras berwarna hitam.

Baca juga: 5 Satwa Ini Jumlahnya Kurang dari 100 di Dunia, Ada yang Hidup di Indonesia

Ukuran maleo betina lebih kecil dari jantan juga memiliki warna yang lebih gelap. Makanannya ialah serangga dan biji-bijian. Sedangkan habitatnya ada di hutan berbukit dan hutan di dekat pantai. Namun, kini populasinya kian menurun akibat adanya pembukaan lahan baru, perburuan, pemangsaan telur dan burung maleo oleh predator.

Berdasarkan daftar merah IUCN, burung maleo termasuk dalam kategori terancam punah dan tercantum dalam CITES Appendix 1. Selain itu, burung ini dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 tahun 2018.

Penangkaran Alamiah

Penangkaran dibangun untuk melindungi satwa ini agar terbebas dari ancaman kepunahan. Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), termasuk Desa Tuva dan Saluki menjadi tempat burung berwarna hitam ini hidup serta berkembang biak. Tempat lainnya terdapat di Desa Kadidia dan Kamarora. Namun, penangkaran alamiah baru dibangun di Desa Saluki saja.

Kabar baiknya, berdasarkan data TNLL pada Desember 2019, populasi burung maleo di wilayah tersebut telah mencapai lebih dari 1.000 ekor dan setiap bulan terdapat 10-15 ekor anak maleo hasil penangkaran yang dilepasliarkan ke alam bebas.

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments