Edukasi

Mangrove di Pulau Midai: Perannya Menjaga Kehidupan Pulau Kecil Terluar Indonesia

21/05/2026|Meylani Cesarah Milda
Ilustrasi mangrove dan ekosistem yang hidup di dalamnya Foto Ihsan AdityawarmanPexels - Mangrove di Pulau Midai Perannya...

Ilustrasi mangrove dan ekosistem yang hidup di dalamnya. | Foto: Ihsan Adityawarman/Pexels

Gardaanimalia.com - Midai ialah salah satu pulau kecil di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau. Dua dekade lalu, pesisir pulau ini tampak seperti lanskap tropis yang utuh: hamparan pasir putih, laut jernih hingga ke dasar, dan deretan mangrove lebat yang membentang di sepanjang garis pantai.

Deretan mangrove itulah yang dapat membendung terjangan ombak Laut Natuna yang terkenal ganas, sekaligus rumah bagi beragam jenis biota laut.

Nahas, hamparan hijau yang dulu hampir menutupi sebagian besar garis pantai, saat ini hanya terlihat di beberapa titik saja.

Mangrove adalah vegetasi pelindung pesisir pantai yang umumnya tumbuh secara berkelompok. Mereka berfungsi sebagai habitat penting penyedia tempat pemijahan (nursery ground) dan sumber makanan bagi berbagai jenis biota laut, mulai dari udang, kepiting bakau, hingga ikan konsumsi seperti kakap, kerapu, dan baronang.

Kawasan mangrove menjadi pelindung biota laut dari predator besar, memberi mereka kesempatan tumbuh hingga cukup kuat untuk menjelajahi laut lepas.

Tidak hanya itu, ekosistem ini juga merupakan pelindung alami bagi satwa laut lain, termasuk penyu dan dugong.

Efek Domino Kerusakan Mangrove

Uploaded content
Potret salah satu titik pesisir di Pulau Midai dan mangrove yang masih berdiri di sana. | Foto: Meylani Cesarah Milda

Lenyapnya mangrove dari garis pantai memicu efek domino destruktif yang mengancam stabilitas ekosistem laut secara menyeluruh.

Rangkaian ini dimulai dari putusnya rantai makanan karena hilangnya detritus organik dari daun mangrove yang membusuk, yang menjadi sumber energi utama bagi mikroorganisme dan fauna kecil. Hilangnya mikoorganisme kecil, tentu berdampak pada hilangnya sumber pangan predatornya.

Terlebih, ketika spesies laut kehilangan tempat pemijahan dan perlindungan alami, populasi biota laut menurun dan rantai makanan akan terganggu.

Tanpa akar mangrove yang kokoh sebagai pelindung garis pantai, daratan menjadi rentan terhadap abrasi dan intrusi air laut, yang pada gilirannya menyebabkan sedimentasi berlebih dan merusak terumbu karang di sekitarnya.

Inilah yang kini terjadi di Midai, beberapa warga setempat bercerita bahwa ikan semakin sulit dijangkau. Bersamaan dengan itu, praktik racun dan bom ikan turut menyumbang kerusakan ekosistem pesisir dan laut, seperti yang pernah dilaporkan oleh Kompas.

Bagi pulau kecil terdepan sekaligus terluar yang berhadapan langsung dengan Laut Natuna Utara, Midai membutuhkan mangrove untuk bertahan di tengah laut dan ombaknya.

Sayangnya, pesisir Midai kini tampak jarang ditumbuhi mangrove.

Laporan dari BPBD Natuna (Desember 2025) menunjukkan bahwa abrasi terus mengancam pulau kecil ini yang menyebabkan jalan utama penghubung antar kecamatan di Midai kerap terputus saat gelombang tinggi. 

Melansir Delta Kepri (2017), dikatakan bahwa Midai telah mengalami penggerusan bibir pantai sepanjang 3 meter. Abrasi ini terjadi akibat benturan air laut yang langsung menyentuh bibir pantai tanpa kehadiran mangrove sebagai  pemecah ombak, yang berakibat mengancam permukiman setempat.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Midai menghadapi risiko ganda:  kehilangan sumber perikanannya, serta kehilangan pelindung alami yang menjaga daratan tetap bertahan di tengah laut.

Sejak 2023, pemerintah melalui Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) telah menanam 396.700 bibit mangrove di lahan seluas 192 hektare di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau pada 2023. Tak begitu panjang umur perjalanannya, setahun setelahnya, BRGM resmi dibubarkan.

Sampai tahun ini, Natuna masih mengalami kerentanan abrasi. Hal ini ditandai dari status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, gelombang pasang, dan abrasi, serta rusaknya sejumah jalan penghubung kecamatan.