Gardaanimalia.com - Angin laut terasa lebih asin dari biasanya saat saya menapakkan kaki di jalur sempit di Desa Muara Bendera, Kecamatan Muara Gembong.
Di sisi kiri, aliran Sungai Citarum mengalir tenang menuju laut. Di sisi kanan, lumpur dan akar mangrove menjadi pijakan yang tak selalu pasti.
Perjalanan menuju kawasan konservasi ini tidak mudah. Motor yang saya kendarai harus berhenti jauh sebelum tujuan. Daratan di depan telah terputus diambil alih oleh laut akibat abrasi yang terus menggerus pesisir. Selebihnya, perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki, menyusuri tepian sungai hingga ke ujung yang tersisa.
Di tempat yang nyaris terhapus dari peta inilah, kehidupan masih bertahan.
Salah satunya: lutung jawa.
Penjaga Sunyi di Hutan Mangrove
Di bawah rimbunan mangrove, saya bertemu Pak Daman, penjaga kawasan konservasi. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan cerita panjang tentang perubahan yang terjadi di wilayah ini.
Ia tidak langsung berbicara soal angka. Baginya, lutung bukan sekadar data populasi.
“Masih ada,” katanya pelan ketika saya temui 18 Maret 2026 lalu.
Yang ia maksud adalah lutung jawa (Trachypithecus auratus), primata berwarna gelap dengan ekor panjang yang menjadi salah satu satwa kunci di ekosistem mangrove Muaragembong.
Menurut Pak Daman, jumlah lutung saat ini tidak jauh berbeda dibandingkan lima tahun lalu. Tidak meningkat signifikan, tetapi juga belum mengalami penurunan drastis.
Namun, “stabil” di sini bukan berarti aman.
Ia mengingat betul satu periode ketika kemarau panjang melanda. Air mengering, daun-daun muda yang biasa dimakan lutung semakin sulit ditemukan.
Dalam kondisi itu, dua hingga tiga ekor lutung ditemukan mati.
Ketika Alam Tak Lagi Ramah
Lutung jawa adalah pemakan daun. Mereka bergantung pada keberadaan mangrove untuk bertahan hidup. Daun muda, pucuk, dan buah menjadi sumber utama energi mereka.
Tetapi di Muaragembong, makanan itu semakin sulit didapat.
Data dari berbagai laporan menyebutkan bahwa luas hutan mangrove di kawasan ini terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Alih fungsi lahan menjadi tambak, ditambah abrasi yang tak terkendali, membuat habitat lutung terfragmentasi.
Di beberapa titik, hutan mangrove yang tersisa hanya sekitar belasan hektare.
Padahal, satu kelompok lutung membutuhkan ruang yang cukup luas untuk mencari makan dan menjaga jarak antarkelompok. Ketika ruang itu menyempit, tekanan meningkat baik terhadap sumber pangan maupun relasi sosial antar lutung.
Konsekuensinya tidak selalu terlihat langsung. Kadang ia hadir dalam bentuk kematian yang sunyi.
Lanskap yang Berubah, Kehidupan yang Terdesak
Perjalanan saya hari itu menjadi bukti paling nyata. Jalur yang dulunya bisa dilalui kendaraan kini berubah menjadi tepian yang rapuh. Laut masuk semakin jauh, memotong daratan, memisahkan satu bagian desa dengan bagian lainnya.
Abrasi di Muaragembong bukan sekadar isu lingkungan. Ia adalah peristiwa yang bisa dilihat, disentuh, dan dirasakan.
Pohon-pohon mangrove yang tumbang, tanah yang hilang, dan garis pantai yang terus mundur adalah bagian dari cerita yang sama.
Dan di tengah semua itu, lutung jawa tetap bergelantungan.
Mereka berpindah dari satu pohon ke pohon lain, mencari daun yang tersisa, menjaga kelompoknya tetap utuh.
Tetapi ruang gerak mereka semakin sempit.
Bertahan di Ambang Batas
Beberapa penelitian sebelumnya mencatat bahwa populasi lutung jawa di kawasan ini pernah mencapai puluhan individu yang tersebar dalam beberapa kelompok kecil.
Angka itu, jika dilihat sekilas, mungkin memberi kesan bahwa mereka masih aman.
Namun, realitas di lapangan berkata lain.
Populasi yang tampak stabil bisa saja menyimpan kerentanan yang tidak terlihat: keterbatasan pakan, tekanan habitat, hingga risiko kematian akibat perubahan iklim ekstrem seperti kemarau panjang.
Apa yang disampaikan Pak Daman menjadi pengingat penting bahwa kondisi “tidak berubah” tidak selalu berarti “baik-baik saja”.
Tonton Derana di Pantai Bahagia, dokumenter Garda Animalia tentang lutung jawa di Muaragembong di sini:

















