Edukasi

Memahami Empati Primata Non-Manusia, Memahami Kedudukan Mereka di Alam

20/05/2026|Galih Ernowo Widianto
Monyet ekor panjang menunjukkan empati lewat interaksi sosial berupa membelai dan menjilati rambut pasangannya Foto Denny...

Monyet ekor panjang menunjukkan empati lewat interaksi sosial berupa membelai dan menjilati rambut pasangannya. | Foto: Denny Setiawan/YIARI

Gardaanimalia.com - Kawan Satwa, tentu tidak asing mendengar klaim bahwa hanya manusia yang memiliki empati. Sebelumnya, manusia dianggap memiliki cakupan luas dan kemampuan empati yang fleksibel dan bersifat lintas-spesies.

Namun, klaim tersebut terbantah oleh bukti empiris yang menunjukkan bahwa primata non-manusia juga memiliki empati yang tidak jauh berbeda dengan manusia.

Istilah empati kerap dimaknai sebagai kemampuan menempatkan diri pada situasi dan kondisi orang lain. Akan tetapi, empati yang akan dibahas di sini tidak didefinisikan secara ketat, melainkan ditempatkan sebagai istilah umum yang mencakup fenomena yang luas agar kita tidak terjebak pada perdebatan mengenai makna istilah tersebut.

Selayang Pandang Keberadaan Empati pada Primata

Ketika ditilik pada konteks primata Indonesia, empati pada primata non-manusia ditunjukkan perilaku monyet ekor panjang atau MEP (Macaca fascicularis) yang sempat terdokumentasikan secara ilmiah oleh Saputra dkk (2015).1

Sekalipun penelitiannya tidak sedang membuktikan keberadaan empati pada MEP, tetapi temuannya menunjukkan keterlibatan sosial MEP yang menjadi wujud empati.

Sebagian perilaku yang teramati pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa MEP mengambil, membelai, dan menjilati rambut pasangannya (grooming) sebagai bentuk keterikatan sosial yang dilakukan oleh individu pada populasi monyet.

Perilaku empatik lainnya juga diamati pada primata di luar Indonesia. Matthew Campbell dan Frans de Waal (2014) dalam artikelnya yang berjudul Chimpanzees emphatize with group mates and human but not with baboon or unfamiliar chimpanzeez,2 menggunakan kecenderungan ikut menguap ketika individu lain juga menguap (contagious yawning, selanjutnya disebut CY) sebagai ukuran untuk mengidentifikasi keberadaan empati yang tidak disengaja.

Pengukuran tersebut dilakukan menurut kelas rangsangan yang berbeda, yaitu CY pada manusia yang dikenal, manusia yang tidak dikenal, dan babon gelada yang dalam konteks ini berarti spesies yang tidak dikenal.

CY, dalam artikel yang sama, digunakan sebagai ukuran yang menunjukkan empati karena tiga alasan.

Alasan pertama adalah bahwa orang dewasa yang memiliki tingkat empati lebih tinggi cenderung lebih mudah mengalami CY ketika melihat orang lain menguap. Berbeda dengan individu dengan gangguan kepribadian atau perkembangan yang menunjukkan respons yang lebih lemah mengenai hal ini.

Alasan kedua berkaitan dengan hubungan CY dan kedekatan. Kita cenderung ikut menguap ketika melihat orang yang dekat dengan kita juga menguap. Pola ini berlaku juga untuk primata non-manusia, seperti simpanse, bonobo, dan babon gelada.

Lalu, alasan ketiga menunjukkan fakta bahwa respons CY bersifat spesifik. CY bukan sekadar reaksi acak, tetapi juga respons yang terarah. 

Bukti yang lebih spesifik ditunjukkan oleh sistem saraf cermin pada otak, yaitu sistem saraf yang membantu kita memahami tindakan orang lain, yang aktif ketika kita melihat orang lain menguap.

Kesimpulan Campbell dan de Waal, dengan menunjukkan fakta bahwa CY dapat menjadi ukuran untuk mengenali keberadaan empati pada primata non-manusia, menunjukkan bahwa manusia yang akrab dan asing menimbulkan CY pada simpanse dalam kelompok.

Sementara itu, simpanse tidak mengalami CY terhadap babon gelada dan simpanse di luar kelompoknya. Temuan ini menunjukkan bahwa simpanse memiliki empati yang fleksibel, termasuk pada manusia. Kondisi tersebut didorong oleh upaya membangun hubungan empati pada simpanse dengan spesies yang berbeda.

Temuan Campbell dan de Waal juga mengisyaratkan konteks sosial dari perilaku menguap simpanse oleh manusia, baik yang dikenal maupun tidak. Simpanse tidak perlu mengetahui individu spesifik agar dapat mengalami CY, tetapi individu tersebut harus termasuk dalam spesies yang memiliki riwayat interaksi sosial yang positif. Spesies yang berbeda lebih kuat dalam menimbulkan CY daripada individu di luar kelompok dari spesies mereka sendiri.3

Dalam artikel yang sama, ‘pola pikir’ bermusuhan pada individu di luar kelompok dalam spesies yang sama diduga kuat menghambat CY. 

Namun, simpanse ‘memahami’ konteks sosial yang lain dengan babon gelada sekalipun keduanya tidak jarang terlibat dalam interaksi kolaboratif di alam dan sedikit mengalami persaingan. Babon gelada hanya dianggap sebagai pihak yang tidak berarti secara sosial, alih-alih ditempatkan sebagai musuh seperti yang terjadi pada simpanse di luar kelompok.4

Selain ukuran yang dapat digunakan untuk menunjukkan empati, wawasan mengenai faktor pembentuk empati primata non-manusia dapat ditengok dalam artikel berjudul Primate empathy: three factors and their combination for empathy related phenomenon (2016) karya Shinya Yamamoto.

Yamamoto menyebut tiga faktor: (1) mencocokkan dengan orang lain (matching with others), (2) pemahaman tentang orang lain (understanding of others), dan (3) prososialitas (prosociality) yang dapat bertumpang tindih sekalipun berbeda secara konseptual. Dengan demikian, kombinasi dapat terjadi antara (1) dan (3), (1) dan (2), (2) dan (3), serta gabungan dari ketiga tersebut.5

Namun, Yamamoto melihat tiga faktor tersebut, yang ia labeli sebagai model kombinasi, bukan sebagai model empati yang bersifat lurus dan langsung. Artinya, (1), misalnya, tidak secara otomatis mengharuskan terjadinya (2) dan sebaliknya. Kemudian, (2) juga tidak ada hubungan logis dengan (3).6

Sekalipun belum ada dukungan empiris untuk model kombinasi bukan karena buktinya tidak dapat ditemukan, melainkan akibat dari kurangnya penelitian yang ada, model kombinasi Yamamoto tetap mengakui keberadaan empati pada primata.

Dengan demikian, kita tidak dapat melihat primata non-manusia hanya sebagai spesies yang sama sekali berbeda dengan kita. Selain karena kita (manusia dan simpanse, babon, dan sebagainya) sama-sama bagian dari keluarga primata, kita juga mesti menempatkan mereka sebagai spesies yang memiliki fitur empati, yang pada gilirannya, memungkinkan mereka merasakan kondisi yang barangkali mirip dengan kita sebagai manusia, entah merasakan kedekatan dengan orang lain, memahami orang lain, maupun keinginan membantu orang lain.

Berkat pengakuan kita pada empati primata non-manusia, manusia dapat membangun hubungan yang lebih ‘emosional’ dengan mereka dengan cara membangun pemahaman bahwa mereka adalah keluarga kita. Sebagian diri kita turut didefinisikan oleh keberadaan mereka. Hal ini dapat menjadi bekal untuk advokasi dan perlindungan primata non-manusia dari kerusakan habitat dan sehimpun fenomena merusak lainnya. 


1 Saputra dkk, “Studi Perilaku Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Grojogan Sewu Kabupaten Karanganyar”, Bioeksperimen 1, no. 1 (2015): 9, 10.23917/bioeksperimen.v1i1.310
2 Matthew W. Campbell dan Frans B.M. de Waal, “Chimpanzees emphatize with group mates and human but not with baboon or unfamiliar chimpanzeez”, Proceedings Biological Science 281, no. 1782 (2014): 1, 10.1098/rspb.2014.0013
3 Ibid., 3
4 Ibid., 5.
5 Shinya Yamamoto, “Primate empathy: three factors and their combinations for empathy-related phenomena”, WIREs Cogn Sci: 3-6. 10.1002/wcs.1431
6 Ibid., 3.