Gardaanimalia.com - Arum, seekor badak jawa (Rhinoceros sondaicus) betina terekam kamera jebak sedang bersama anaknya yang diperkirakan berusia lima bulan. Rekaman itu diperoleh pada 29 Januari 2026 pukul 22.17 WIB.
Berita gembira ini disiarkan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon pada 4 Februari 2026. Dalam rilis itu, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, menyatakan bahwa temuan ini merupakan indikator penting keberhasilan pengelolaan kawasan dan perlindungan badak jawa.
Dia mengatakan, “Keberadaan induk dan anakan badak jawa yang terekam melalui camera trap menunjukkan bahwa habitat di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) masih terjaga dengan baik. Selain itu, pengamanan kawasan yang kuat dan konsisten, serta dukungan kerja sama dari berbagai pihak, menjadi faktor kunci yang memungkinkan badak jawa berkembang biak secara alamiah.”
Badak jawa merupakan salah satu jenis badak yang dimiliki oleh Indonesia, selain badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Keduanya sudah dimasukkan dalam kategori critically endangered atau sangat terancam punah menurut daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN). Oleh karena itu, upaya pelestariannya mendapatkan banyak perhatian dari pelbagai pihak.
Populasi badak jawa terkonsentrasi di semenanjung Ujung Kulon, di bawah pengelolaan intensif Balai Taman Nasional Ujung Kulon. Dalam perjalanannya, upaya pelestarian satwa purba ini menghadapi berbagai tantangan dan ancaman.
Dalam laporan yang disusun oleh Auriga pada 2023, ancaman terbesar bagi badak jawa adalah perburuan. Kematian badak jawa jantan bernama Samson pada 2018 dengan tengkorak berlubang yang ditembus peluru ditengarai menjadi bukti ancaman tersebut.
Rekaman kamera jebak yang menunjukkan orang-orang bersenjata api berkeliaran selama 2021-2022 juga menjadi indikasi bahwa perburuan liar badak jawa sedang atau sudah terjadi.
Dalam laporannya, Auriga juga menunjukkan bahwa individu yang terekam kamera jebak berkurang, mengindikasikan adanya individu-individu yang telah mati.
Dalam penelitiannya, ditengarai ada 17 individu yang sudah tidak terekam oleh kamera jebak sejak 2020, dan dua di antaranya, yaitu Puspa dan Wira, ditemukan mati pada 2021.
Kabar tentang perburuan liar badak jawa ini pun kemudian diperkuat dengan hasil Operasi Jaga Satwa pada tanggal 7 sampai 16 Mei 2024 yang disiarkan melalui Siaran Pers TNUK. Operasi tersebut merupakan operasi gabungan dari Polda Banten, Balai TNUK, Ditjen PPLHK Gakkum dan K9 Mabes Polri yang berhasil menangkap Atang, dan kemudian lima orang lainnya menyerahkan diri, yaitu Sahru, Leli, Sayudin, Karip dan Isnen.
Kelompok tersebut, berdasarkan keterangan persidangan pada 9 Oktober 2024, mengakui telah membunuh enam ekor badak jawa sejak 2018 sampai 2022. Namun, kabar itu juga membuat penyebab kematian belasan individu badak jawa menjadi semakin kompleks. Kasus Samson, misalnya, meskipun Auriga menengarai adanya penembakan, tetapi dalam siaran pers WWF-Indonesia pada 27 April 2018 menyebutkan bahwa kematian Samson terutama disebabkan kholik atau torsio usus.
Dari sini kita bisa ungkapkan bahwa untuk menghindari perbedaan persepsi di masyarakat, transparansi data forensik, tanpa mengurangi aspek keamanan operasional, bisa menjadi jembatan antara kehati-hatian institusi dan hak publik untuk tahu.
Bicara Penyakit serta Siklus Reproduksi Badak Jawa
Dalam tulisan Raden Ariyo Wicaksono terdapat beberapa penyebab kematian badak jawa seperti masalah pencernaan yang dialami Samson dan Sultan, penyakit akibat parasit Trypanosoma evansi yang ditularkan melalui lalat tabanus di TNUK (dialami oleh 3 individu badak jawa pada 2010, dan juga pernah terjadi di Malaysia pada 2003), penyakit infeksi Septicaemia Epizooticae (SE), dan Anthrax (lima ekor individu), dan persaingan antarpejantan (seperti dialami oleh Manggala). Sedangkan individu lain tidak tertulis penyebab spesifik kematiannya.
Katakanlah benar bahwa kemunculan individu-individu muda seperti anak dari Arum membuktikan efektifnya pengamanan dan penjagaan wilayah di habitat badak jawa di TNUK, apakah hal itu bisa menjamin kelestarian badak jawa di kemudian hari?
Di sisi lain, kematian individu-individu badak jawa jantan akan menimbulkan persoalan lain yang serius, seperti menurunkan laju populasi, memungkinkan inbreeding yang dampaknya akan menurunkan keragaman genetik, sehingga badak-badak itu rentan terhadap perubahan lingkungan dan penyakit.
Agar memahami mengapa kekurangan individu jantan akan berpengaruh pada keseluruhan populasi, badak jawa betina mencapai kematangan seksual pada usia 4–6 tahun dan badak jantan pada 7–10 tahun, dengan masa gestasi kurang lebih 15–16 bulan, dan interval kelahiran 3–5 tahun. Hal ini berarti satu kematian individu jantan produktif tidak bisa "diganti" dalam waktu singkat, dan dampaknya baru terasa satu dekade kemudian.
Salah satu upaya yang sudah dilakukan untuk mengantisipasinya adalah dengan pembentukan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA) yang salah satu programnya adalah “bayi tabung” untuk badak jawa. Meski tentunya program ini bukan tanpa hambatan, mengingat untuk menjalankan program tersebut perlu dilakukan translokasi badak jantan dari habitatnya.
Sayangnya, seekor individu jantan bernama Musofa mati hanya berselang empat hari setelah translokasi ke JRSCA dimulai.
Kondisi Lingkungan dan Pentingnya Urun Serta Masyarakat
Selain itu, gangguan lain terhadap habitat badak jawa di TNUK adalah invasi tanaman langkap (Arenga obtusifolia) yang berkompetisi memperebutkan ruang tumbuh dan cahaya dengan tumbuhan pakan badak jawa.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Harnios Arief dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, agar ketersediaan tanaman pakan badak jawa terjaga, sangat perlu dilakukan pengendalian langkap.
Karena habitat yang sangat terbatas dan TNUK berada dekat dengan Anak Krakatau yang masih aktif, maka keberadaan populasi badak jawa mudah sekali terancam oleh erupsi yang mungkin terjadi.
Belum lagi, pemanasan global juga telah membuat permukaan air laut naik. Ini juga mengancam pantai-pantai tempat badak jawa mencari mineral. Tambahannya, dengan perubahan pola hujan dewasa ini, regenerasi tanaman pakan badak jawa pun jadi terpengaruh.
Munculnya masalah sampah plastik di pantai-pantai di wilayah TNUK tentu menambah persoalan yang harus dihadapi oleh pelbagai pihak terkait agar lingkungan TNUK secara komprehensif mendukung kelestariannya.
Pihak lain yang bisa dilibatkan dalam melestarikan kehidupan badak jawa tentunya adalah masyarakat, terutama yang berada di sekitar TNUK. Mereka bisa diajak bekerja sama dalam patroli partisipatif, menjaga kebersihan sampah, serta diberi perlindungan jika melaporkan indikasi praktik perburuan.
Tentu, banyak dari kita yang merasa bangga jika dilibatkan dalam pelestarian badak jawa, karena berarti ikut merawat warisan evolusi yang telah ada sejak zaman Pleistosen, makhluk yang lebih tua daripada peradaban, yang bertahan melalui perubahan iklim, letusan gunung, dan dinamika ekosistem.






![Menapaki Ujung Kulon: Naungan Terakhir, Harapan Hidup Badak Jawa [1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/menapaki-ujung-kulon-naungan-terakhir-harapan-hidup-badak-jawa-1.webp)









