Gardaanimalia.com - Pernahkah terbayangkan olehmu, satu spesies yang sudah hidup sejak zaman es, melewati perubahan iklim besar, pergeseran benua, hingga kepunahan mamalia raksasa lain.
Ia berhasil bertahan selama ratusan ribu tahun. Namun kini, justru di era modern yang berkembang pesat saat teknologi dan ilmu pengetahuan muncul di segala sektor, justru nasibnya berada di ujung tanduk dan berada di ambang kepunahan. Siapakah spesies itu? Ya, dia adalah badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).
Menurut data International Rhino Foundation, saat ini badak sumatera diperkirakan hanya tersisa kurang dari 50 individu di alam liar. Populasi yang kecil ini tersebar di beberapa hutan hujan tropis di Indonesia seperti Gunung Leuser, Way Kambas, dan Kalimantan.
Populasinya terus merosot setiap tahunnya. Perburuan liar, deforestasi hutan, serta rendahnya tingkat reproduksi menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.
Spesies Kecil dengan Peran Besar
Di antara lima spesies badak yang masih bertahan di dunia, badak sumatera adalah yang terkecil ukurannya, tapi bukan berarti kecil perannya. Dengan tinggi sekitar 120–145 sentimeter dan berat yang bisa mencapai 600–800 kilogram, badak ini tampak lebih mungil dibanding kerabatnya di Afrika. Tubuhnya diselimuti rambut coklat kemerahan, terutama saat masih muda, sehingga ia sering dijuluki sebagai “badak berbulu”.
Namun, yang membuat spesies ini begitu penting bukan hanya keunikan fisiknya, tapi juga perannya di dalam ekosistem hutan hujan tropis.
Badak sumatera adalah herbivora besar yang memakan berbagai jenis daun, pucuk, ranting, dan buah-buahan hutan. Dalam sehari, mereka bisa mengonsumsi puluhan kilogram vegetasi. Aktivitas makannya membantu mengendalikan pertumbuhan tanaman tertentu sehingga tidak mendominasi hutan. Dengan kata lain, mereka ikut menjaga keseimbangan komposisi tumbuhan.
Lebih dari itu, badak sumatera berperan sebagai penyebar biji alami.
Biji-biji dari buah yang mereka konsumsi akan tersebar melalui kotoran di berbagai lokasi hutan. Proses ini membantu regenerasi tumbuhan dan menjaga keragaman spesies tanaman. Dalam jangka panjang, kontribusi ini mendukung stabilitas ekosistem hutan tropis yang menjadi rumah bagi ribuan spesies lain termasuk manusia yang bergantung pada hutan untuk sumber air dan pengatur iklim.
Sebagai satwa soliter, badak sumatera memiliki wilayah jelajah yang luas. Keberadaannya menjadi indikator penting kesehatan hutan. Jika badak masih bisa bertahan di suatu kawasan, itu menandakan bahwa hutan tersebut masih cukup utuh untuk menyediakan pakan, air, dan ruang jelajah yang memadai. Sebaliknya, hilangnya badak dari suatu wilayah sering kali menjadi tanda bahwa ekosistemnya sedang mengalami tekanan serius.
Karena itulah, meskipun secara fisik ia adalah spesies badak terkecil, tanggung jawab untuk melindunginya justru sangat besar. Badak sumatera bukan hanya bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia, tetapi juga simbol kesehatan hutan tropis Asia Tenggara. Kehilangannya akan meninggalkan kekosongan ekologis yang tidak mudah tergantikan.
Mitos yang Membunuh
Melansir
WWF Indonesia, salah satu ancaman terbesar bagi badak sumatera datang dari kepercayaan yang salah kaprah. Beberapa budaya di Asia menggap cula badak dapat menyembuhkan penyakit berat, meningkatkan stamina, bahkan sebagai simbol status dan kekayaan.
Fakta ilmiah menunjukkan hal sebaliknya. Cula badak terdiri dari keratin, zat yang sama dengan kuku dan rambut manusia. Tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa cula badak memiliki khasiat medis apa pun. Mengonsumsi atau menggunakan cula tidak memberi manfaat kesehatan, dan efek yang dipercaya masyarakat hanyalah mitos turun-temurun.
Cerita dari lapangan menunjukkan dampak nyata dari mitos ini. Di Sumatera, jejak perburuan masih ditemukan di kawasan taman nasional, mulai dari perangkap, lubang jebakan, hingga bekas tembakan. Bahkan badak di zona konservasi pun belum sepenuhnya aman karena jaringan perdagangan ilegal masih aktif.
Dampaknya tidak hanya terlihat dari angka. Setiap badak yang hilang berarti berkurangnya peran ekologisnya, seperti menyebarkan biji, mengendalikan vegetasi, dan menjaga keseimbangan ekosistem. Kehilangan satu individu bukan sekadar kehilangan satu hewan, tetapi juga fungsi penting dalam hutan.
Karena itu, isu badak sumatera bukan hanya soal konservasi satwa, tetapi juga soal masa depan hutan tropis yang menopang kehidupan banyak makhluk, termasuk manusia. Melindungi badak berarti menjaga ekosistem yang lebih luas hutan yang menyimpan karbon, menjaga siklus air, dan menjadi rumah bagi ribuan spesies lainnya.