Gardaanimalia.com - Di ujung sudut barat daya Pulau Jawa, terhampar hijau membentang tanah yang belum terjamah manusia, bak menantang udara metropolitan. Formasi geografis yang seolah memisah dari Pulau Jawa, dikelilingi lautan lepas selat sunda, menjadikannya tak mudah disambangi manusia, disusul kentalnya unsur mistik.
Tampak daratan yang disesaki hutan belantara dengan pohon yang menjulang tinggi, di dalamnya si satwa bak berzirah sibuk bertahan hidup. Rhinoceros sondaicus atau mesra dijuluki badak jawa merupakan salah satu fauna eksotis yang menjadi kebanggaan pertiwi.
Hanya tersisa di Ujung Kulon, badak jawa didapuk sebagai spesies yang sangat terancam punah sejak 1996. Cula, sebuah ciri ikonik yang melekat pada badak jawa. Faktanya, bagian tubuh yang dipandang berharga tersebut hanya dimiliki golongan jantan dan tumbuh seiring bertambahnya usia.
Guna mencukupi kebutuhan hidupnya, badak jawa mengonsumsi lebih dari 200 spesies tumbuhan. Dalam meraup pangannya, ia menggunakan bibir atas yang lebih panjang dari bibir bawahnya, serta bagi individu jantan turut memanfaatkan cula untuk menarik dan menggaet santapannya.
Antarindividu badak jawa dapat dibedakan melalui beberapa paramater, yaitu ukuran tubuh, bentuk cula, posisi cula, kerut wajah, lipatan leher, telinga, luka, dan kecacatan. Dalam membedakan ciri-ciri tersebut, langkah yang digunakan adalah metode kluster melalui pemantauan kamera jebak. Usai mendapati disimilaritas setiap individu, sebuah nama akan disematkan untuk mereka.
"Menghitung populasi [badak] itu ada bermacam cara dari tahun ke tahun. Metode terbaru saat ini adalah metode kluster dengan menggunakan model spatial count istilahnya. Kita membuat 35 kluster, satu kluster terdiri dari 4 camera trap. Kemudian kita menambah lagi 65 camera trap di tempat-tempat yang kita yakini ada badaknya,” jelas Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK), Ardi Andono, saat diwawancarai langsung di Kantor BTNUK Labuan pada Kamis (13/2/2025).
Menilik realitas karakteristiknya, fauna berkuku ganjil tersebut pemalu dan sensitif terhadap lingkungan sekitarnya. Meski menderita rabun jauh, ia mampu mendeteksi keberadaan manusia melalui indera pendengaran dan penciumannya yang sangat tajam. Akibatnya, tatkala merasakan keberadaan manusia, ia sontak berlari dan menghindar, tak ayal untuk berpapasan dengannya hanya dapat mengandalkan keberuntungan.
Kendati suka menyendiri dan hidup sembunyi dalam hutan, badak jawa senantiasa dipantau oleh pasukan yang terhimpun dalam Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).
Merujuk dari media resminya, TNUK ditetapkan sebagai taman nasional tertua di Indonesia serta menyandang status warisan dunia UNESCO sejak 1991. BTNTUK sebagai lembaga yang dikelola Kementerian Kehutanan ini memikul mandat konservasi pulau dan seisi alam Ujung Kulon, di antaranya badak jawa, sang satwa eksklusif yang menerima atensi intensif dari TNUK.
Di luar itu, pihak lain seperti Yayasan Badak Indonesia (YABI), Institut Pertanian Bogor (IPB), International Rhino Foundation (IRF), ALeRT (Aliansi Lestari Rimba Terpadu) serta OFORA Trust Foundation turut mengulurkan tangan dalam misi menyelamatkan badak jawa dari status sangat terancam (critically endangered) dalam daftar merah IUCN (Union for Conservation of Nature and Natural Resources). Sampai akhirnya, pada 2024 ambisi setiap elemen melebur dalam satu napas menjadi BACUSA TEAM.
Kilas Balik Perjalanan Hidup Badak Jawa
Badak jawa tak serta merta ditetapkan sebagai satwa berstatus terancam punah. Mulanya, mamalia ini tersebar di berbagai belahan dunia, seperti di wilayah Asia Tenggara dan Samudera Pasifik, termasuk Jawa, Sumatra, India, dan Cina.
Menurut Ardi, sejumlah faktor yang mendorong kepunahan badak jawa di berbagai wilayah diakibatkan oleh keengganan negara untuk berkontribusi menjaga populasi, peperangan, hingga maraknya perburuan liar.
“Seperti di Burma [Myanmar] di Vietnam, itu punah udah lama. Sebetulnya itu negaranya tidak mau mengurusi. Vietnam terjadi peperangan sehingga badaknya habis. Yang kedua, di sana budayanya kalau sudah punya cula itu [membuat] status sosialnya paling tinggi. Kalau di Cina itu buat obat-obatan, maka habislah badak itu. Kalau di sini [Ujung Kulon] susah, petugas aja ada yang sampai tersesat karena ini, ya, bukan magic lah istilahnya, kondisi alamnya yang menyebabkan orang bisa linglung,” ujarnya pada Kamis (13/2/2025).
Badak jawa jantan. | Foto: TNUK
Di tanah air, Ardi melanjutkan, badak jawa terakhir di Sumatra habis dibunuh pada 1930. Sementara di Pulau Jawa selain Ujung Kulon, badak jawa terbunuh di Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, delapan tahun setelahnya. Sampai akhirnya, keberadaannya kini tersisa di Semenanjung Ujung Kulon. Hal tersebut karena kondisi alam yang masih terjaga asri.
Namun, populasi badak jawa yang kini tersisa tak serta lepas dari bayang-bayang ancaman kepunahan. Sederet faktor alam terus menjadi sirene yang tidak dapat dielakkan, mengingat kondisi geografis Semenanjung Ujung Kulon, tempat di mana satwa berbadan zirah ini berkembangbiak berada dalam zona wilayah rentan akan bencana.
Kerentanan tersebut salah satunya tak lepas dari Anak Krakatau, anakan Gunung Krakatau yang telah meletus dengan ganas pada 1883 silam. Teror Anak Krakatau yang telah diwanti-wanti sejak pertama kali terlihat menimbulkan kewaspadaan serius, mengingat eksistensi badak jawa yang dapat terancam akibat bencana seperti gempa bumi hingga tsunami yang dipicu oleh segitiga berapi milik Selat Sunda yang mungkin dapat kapan saja terjadi.
Kecemasan akan petaka tersebut berantai pada pemikiran akan diciptakannya habitat kedua atau second-habitat dari badak jawa. Hal tersebut ditujukan sebagai langkah preventif menjaga populasi mereka dari kata kepunahan. Wacana tersebut mendorong langkah pemindahan badak jawa ke lokasi yang dinilai lebih aman untuk mereka hidup.
Dikutip dari artikel jurnal berjudul “Kajian Sosial Ekonomi dan Persepsi Masyarakat Lokal Terhadap Reintroduksi badak jawa (Rhinoceros Sondaicus Desmarest, 1822)” oleh Gunawan dkk (2012), dikatakan bahwa lokasi second-habitat ditinjau melalui 13 aspek, antara lain pernah menjadi wilayah sebaran badak jawa, mempunyai kondisi habitat yang sesuai, merupakan wilayah konservasi, tersedia air sepanjang tahun, tersedia luasan yang pas, terdapat jejak pernah ditinggali badak, pemindahan yang mudah, kapasitas pemisahan habitat asli dengan habitat kedua, dukungan eksternal yang berpotensi, adanya komitmen dari pemerintah daerah setempat, peluang ekowisata serta peluang pendidikan dan pembangunan kepedulian di habitat baru.
Atas pertimbangan akan berbagai aspek penting yang telah disepakati, ditemukan wilayah yang linear dengan syarat tersebut, yaitu area Gunung Honje dan area Gunung Halimun. Meski begitu, wacana pemindahan ini rupanya tak sepenuhnya mendapat dukungan dari warga di wilayah sekitar.
Dikutip dari Gunawan (2012), second-habitat badak jawa hanya mendapat dukungan sebesar 23 persen dari responden masyarakat wilayah Gunung Halimun, dan 46 persen dari responden di wilayah Gunung Honje. Sikap ini secara garis besar didorong oleh faktor status mereka yang merupakan perambah, serta persepsi negatif terhadap hutan, taman nasional, hingga pada badak itu sendiri.
Perihal tersebut selaras dengan yang disampaikan Ardi bahwa second-habitat juga terasa tidak realistis mengingat wilayah yang dipertimbangkan menjadi tempat baru badak jawa hidup dipenuhi oleh perambahan serta pertambangan ilegal.
“Sekarang tidak ada tempat lagi [untuk] second-habitat yang memungkinkan. Mau dipindahkan ke mana lagi? Ya, memang dulu ada kajiannya. Kajiannya pertama itu ada di Gunung Honje. Tapi ternyata Gunung Honje banyak aktivitas masyarakat. Ada kajian habitatnya lagi di Gunung Halimun Salak, tapi Gunung Halimun Salak juga banyak aktivitas manusia. Ada indikasi juga illegal mining, yang paling penting aman nggak untuk badak jawa? Ya, nggak aman. Selain itu second habitat diperlukan investasi besar, baik kelembagaan, pendanaan, maupun sarpras, akan lebih efektif adalah tingkatkan dahulu habitat utama dalam segala aspek hingga badak jawa populasinya meningkat baru lah kita beranjak ke second habitat,” tuturnya.
Ardi menilai, saat ini salah satu hal yang paling realistis dibandingkan second-habitat bagi badak jawa adalah dengan memperkuat Taman Nasional Ujung Kulon itu sendiri, baik dari sisi perlindungan, breeding (perkembangbiakan), habitat, hingga populasi dari hewan bercula tersebut.
Tantangan Konservasi Badak Jawa
Merujuk pada SK Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK. 3658/Menhut-VII/KUH/2014 Tanggal 5 Mei 2014, kawasan hutan Taman Nasional Ujung Kulon memiliki luas 105.694,46 hektare di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dengan zona daratan 61.357,46 hektare dan zona perairan 44.337 hektare.
Sementara itu, area yang menjadi habitat badak jawa luasnya hanya sekitar 35.000 hektare. Namun, Ardi membeberkan, hanya 35 persen atau 19.000 hektare dari area tersebut yang cocok untuk habitat badak jawa, sedangkan 65 persen lainnya ditumbuhi langkap. Oleh karena itu, dilakukan eradikasi atau penebangan terhadap tanaman invasif tersebut.
"Eradikasi ini biayanya mahal. Maka pernah terjadi isu dari lembaga yang tidak cocok dengan kita bahwa terjadi penebangan besar-besaran di taman nasional. Padahal kita melakukan penebangan terhadap langkap [agar] pakan badak tumbuh, karena kalau langkapnya sudah terlalu tinggi, maka tidak ada lagi tanaman yang tumbuh di bawahnya," ucap Ardi.
Langkap adalah salah satu tanaman yang tumbuh subur di Ujung Kulon. Tumbuhan yang tergolong jenis palem-paleman ini menjadi salah satu unsur penghambat dalam konservasi badak jawa karena dapat memblokade pertumbuhan tanaman yang menjadi sumber pakan badak.
"Ketika langkap ditebang, otomatis cahaya matahari bisa sampai tanah. Nah, itu tumbuhan yang toleran bisa tumbuh. Kalau satu langkap nggak masalah, tapi kalau udah berkelompok menghambat tumbuhan yang lain. Itu [langkap] pertumbuhannya cepat, selain dari buahnya ya, dari tunas sama akar pun bisa menghasilkan langkap yang baru," ujar Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNUK, Daryan Mahataman, Sabtu (15/2/2025).
Tak hanya itu, badak jawa menghadapi ancaman perpindahan penyakit antarsatwa yang disebabkan oleh bakteri antraks, khususnya dari kerbau. Mempunyai karakteristik yang selaras pada jenis pakan dan kebiasaan berlumpur, terdapat lalat yang berkeliaran di sekeliling kerbau yang menghisap darahnya dan berpindah-pindah hingga mampu menjangkiti badak jawa.
Petugas TNUK sedang memeriksa camera trap. | Foto: TNUK
Momok lain yang mengintai eksistensi badak jawa adalah perburuan liar. Ardi menyebut pangkal persoalan ini adalah ulah satu keluarga, sang bapak pernah tertangkap pada 1990 dan dihukum lima tahun penjara. Kemudian anak-anak hingga sanak saudaranya mengikuti jejaknya sebagai pemburu.
Dilansir dari Tempo.co, pada 12 Februari 2025, enam pelaku menerima vonis 11 dan 12 tahun kurungan penjara oleh Pengadilan Tinggi Pandeglang. Hukuman tersebut tercatat yang tertinggi dalam kasus perburuan di Indonesia. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat tersebut mengutuk keras perbuatan para pelaku.
“Sebetulnya orang sini itu sangat menghormati badak. Orang tahu kalau berburu badak itu pasti kena bala. Sekarang mereka kena bala 12 tahun penjara. Hukuman tertinggi untuk perburuan sepanjang sejarah Indonesia. Catat itu, dapat rekor muri!” tegasnya.
Malapetaka Siklus Kawin Badak Jawa
Badak jawa menyimpan berbagai sisi menarik untuk dieksplorasi. Dalam rengkuhan kelangkaan, hewan berkulit tebal tersebut nyatanya memiliki siklus perkawinan yang “unik”. Mulai dari masa birahi hingga kerentanan kawin sedarah lantaran terbatasnya jumlah populasi dan ketersediaan ruang untuk mendukung kehidupannya.
Ardi menjelaskan, tingkat kelahiran badak jawa adalah tiga ekor per tahun dengan jumlah betina dan jantan yang ekuivalen. Keduanya memiliki kebiasaan berkelahi ketika akan kawin. Selain itu, masa birahi betina hanya 3-4 hari dengan peluang tertinggi satu sampai dua jam per hari.
Saat mereka bertemu, potensi betina tidak dalam masa subur sangat besar. Sebaliknya, ketika dalam masa subur dan tidak bertemu dengan lawan jenisnya, betina akan rentan terjangkit kanker, kista, dan penyakit lainnya. Situasi ini akan berujung pada kemandulan bagi betina yang jumlahnya menurut Ardi mencapai 55 persen dari total populasi.
Menurut penuturan Daryan, sejauh ini setidaknya terdapat 95 badak jawa yang berhasil teridentifikasi. Penemuan jumlah yang melonjak ini dikatakan Ardi sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah. Di sisi lain, hal tersebut tak serta merta menjadi sinyal baik bagi eksistensi badak jawa itu sendiri.
“Nah, ingat. Kalau jumlah populasi itu banyak, tetapi dia DNA-nya jelek, dia [badak jawa] akan habis, ya. Jadi, kita jangan terlalu terpaku pada jumlah yang paling banyak sepanjang sejarah. Tetapi bisa jadi ini ‘the end’ dari sebuah sejarah, itu karena kawinnya udah di antara mereka (kawin sedarah),” ucap Ardi.
Badak jawa awal mulanya memiliki tiga jenis DNA. Fakta tersebut disampaikan oleh Arief Rubianto, Program Manager dari YABI. Namun setelah dikaji, badak jawa kini hanya memiliki dua jenis DNA, yaitu haplotype 1 dan haplotype 2. Dari total semuanya, Ardi mengungkapkan bahwa jumlah haplotype 1 lebih banyak hingga mencapai 65 persen. Angka ini menunjukkan banyaknya badak jawa yang lahir dari satu generasi yang sama sehingga berbuntut pada kecacatan hingga berpotensi merenggut nyawa.
Adapun ciri-cirinya tercermin pada bagian komponen kaki yang tidak lengkap, kulitnya yang tebal menyerupai baju zirah tidak berbentuk sempurna sehingga mengganggunya berjalan, robekan pada telinga yang bentuknya tampak bercabang serta terdapat pula yang telinganya lampeh ke bawah.
Selain itu, buntut yang semestinya lurus menjadi bengkok atau pendek. Ukuran tubuhnya pun turut mengecil, dahulu pada 1980-an masih dapat ditemukan tapak kaki badak jawa yang diameternya mencapai 30 cm. Namun, yang saat ini dijumpai rata-rata hanya berkisar 28 cm.
Menurut Arief, keterlambatan penanganan konservasi badak jawa berbuntut pada penurunan kondisi fisik dan kesehatannya. Spesimen badak jawa jantan di Tasikmalaya yang ditembak pada 1938 memiliki bobot 2,38 ton. Sementara saat ini, bobot terbesar yang ditemukan tak lebih dari 1,7 ton.
Memburuknya kualitas genetik yang terus menerus terjadi, mengindikasikan bencana bagi eksistensi badak jawa. Oleh karena itu, diperlukan langkah analitis terstruktur untuk melindunginya dari kepunahan. Meniru breeding terkontrol yang diterapkan Taman Nasional Way Kambas, yakni SRS Sumatran Rhino Sanctuary (SRS) sejak 1996, Ardi mengakui TNUK mengambil tindakan selaras tetapi menyebutnya dengan breeding sistematis yang dinamai Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA).
Penulis: Hanna Tiosenia, Ira Nazliyah, Nadia Larisa
















