Berita

Habitat Harimau di Sumbar Diprediksi Rontok 42 Persen Dalam Waktu Setengah Abad

02/06/2026|Andri Mardiansyah
Kayu-kayu yang ditebang bersisian dengan Kawasan yang terkikis arus air di Kecamatan Pauh Padang Sumbar Foto Arif Pribadi...

Kayu-kayu yang ditebang bersisian dengan Kawasan yang terkikis arus air di Kecamatan Pauh, Padang, Sumbar. | Foto: Arif Pribadi/Antara

Gardaanimalia.com - Tren penurunan tutupan hutan di Provinsi Sumatera Barat kian menunjukkan arah yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru menggunakan pemodelan spasial, bumi Minangkabau tercatat masih memiliki tutupan hutan seluas 1.726.925 hektare pada 2000 silam. Namun, angka tersebut menyusut tajam menjadi 1.445.064 hektare pada 2015. Angka ini diprediksi terus merosot hingga menyisakan 1.209.684 hektare pada 2030, serta menyentuh angka kritis 951.765 hektare pada 2050.

Peneliti Landskap Ekologi, Yayasan Sarasah Alam Nusantara Taufiq menegaskan jika laju deforestasi ini tidak dihentikan, dalam rentang waktu 50 tahun ke depan, Sumatera Barat diproyeksikan bakal kehilangan sekitar 775.160 hektare tutupan hutannya atau setara dengan runtuhnya hampir 45 persen paru-paru hijau.

Kata Taufiq, prediksi data yang mencengangkan ini diperoleh secara ilmiah melalui penelitian berbasis pemodelan spasial yang menggunakan perangkat lunak IDRISI TerrSet dengan metode Land Change Modeler (LCM) berbasis jaringan saraf tiruan Multilayer Perceptron (MLP Neural Network).

Riset ini, menurut Taufiq, mengacu pada data dasar tutupan lahan tahun 2000 dan 2015 yang dirilis resmi oleh Pemerintah yang waktu itu masih bernama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dengan mengintegrasikan variabel pendorong topografi seperti kemiringan lahan (slope) serta ketinggian (elevasi).

"Dengan tingkat keakuratan permodelan yang mencapai angka 79,31 persen, hasil prediksi simulasi ini dinilai memiliki legitimasi ilmiah yang sangat kuat untuk dijadikan pijakan kebijakan bagi para pemangku kepentingan," kata Taufiq, Sabtu (30/5/2026).

Dia menambahkan, akar masalah dari hilangnya bentang alam hijau ini didominasi oleh masifnya alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan monokultur skala besar, seperti kelapa sawit dan karet.

Selain itu, pembukaan akses jalan baru yang membelah jantung hutan serta aktivitas pertanian masyarakat di wilayah dataran rendah yang berbatasan langsung dengan zona hijau, juga turut memperparah keadaan.

"Pola deforestasi dalam kajian ini menunjukkan bahwa penyusutan hutan berlangsung jauh lebih agresif di wilayah landai dan dataran rendah yang mengikuti alur urat nadi sungai serta celah perbukitan. Ironisnya, begitu akses jalan perdana berhasil menembus kawasan hutan, pembukaan lahan baru biasanya akan terus menyebar secara beruntun tanpa kendali," ujar Taufiq.

Menurutnya, jika dibedah per wilayah administratif, peta kehilangan tutupan hutan paling parah di Sumatera Barat mengarah pada tiga daerah utama dalam periode 2000 hingga 2050. Peringkat pertama ditempati oleh Kabupaten Dharmasraya dengan proyeksi tingkat kerusakan mencapai 93 persen, disusul Kabupaten Sijunjung sebesar 77 persen, dan Kabupaten Pasaman Barat di angka 55 persen.

Secara umum, Taufiq melanjutkan, tingginya angka kerusakan di ketiga wilayah tersebut dipicu oleh industri perkebunan, baik yang dikelola korporasi maupun kelompok masyarakat yang terus-menerus menggerus lambung batas kawasan hutan dari sisi dataran rendah secara masif.

Pun, maraknya aktivitas PETI menjadi salah satu penyebab menurunnya kelayakan hutan sebagai rumah bagi satwa.

Ancaman Nyata di Pasaman dan Agam

Taufiq melanjutkan, di luar tiga wilayah kritis tersebut, dua kabupaten lain yang wajib mendapatkan perhatian ekstra dan penanganan serius dari pemerintah daerah adalah Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Agam.

Dari hasil kajian, Kabupaten Pasaman memegang peran krusial karena tercatat sebagai pemilik benteng tutupan hutan terluas di Sumatera Barat dengan luasan mencapai 232.043 hektare pada tahun 2000.

Taufiq mengingatkan bahwa kondisi ini membuat Kabupaten Pasaman berada pada posisi dilematis. Meski persentase proyeksi kehilangannya terlihat kecil, yakni hanya 24 persen, tetapi jika dikonversi secara absolut, total luasan rimba yang hilang di lapangan tetap berukuran sangat raksasa dan berimbas fatal pada kestabilan ekologi daerah.

Sementara itu, Kabupaten Agam memegang status yang tidak kalah vital sebagai salah satu benteng pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati.

Bersama dengan Kabupaten Lima Puluh Kota dan Pasaman, wilayah Kabupaten Agam dinilai sebagai kawasan yang memiliki tingkat kesesuaian habitat harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) tertinggi di Sumatera Barat.

Karakteristik ekologis yang spesifik ini menyebabkan setiap jengkal kehilangan tutupan hutan yang terjadi di bumi Agam akan langsung memberikan dampak yang sangat kritis, instan, dan mengancam keberlangsungan hidup raja hutan sumatera dari kepunahan.

Taufiq menegaskan bahwa dampak domino dari laju deforestasi yang tidak terkendali ini dipastikan bakal memicu ledakan konflik vertikal antara satwa liar dan manusia.

Menyusutnya luasan rimba otomatis memotong rantai makanan dan menipiskan sumber pakan alami satwa karnivora, misalnya harimau sumatra, karena mamalia buruannya seperti babi hutan, rusa, dan kijang terpaksa bermigrasi lebih jauh ke puncak-puncak pegunungan.

"Pola perpindahan mangsa inilah yang mendorong harimau keluar dari teritorinya dan mendekati permukiman warga untuk bertahan hidup. Jika pola perusakan ini terus dibiarkan, wilayah kesesuaian habitat harimau di Sumbar yang pada tahun 2000 seluas 650.476 hektare, diprediksi akan rontok hingga menyisakan hanya 373.956 hektare pada 2050, sebuah kehilangan ruang hidup sebesar 42 persen hanya dalam waktu setengah abad,” tutup Taufiq.