Edukasi

Hiu Karpet Berbintik: Sang Penjaga Laut Raja Ampat yang Terancam Punah

23/04/2026|Ike Fitriani
Hiu karpet berbintik spesies hiu berjalan asal Raja Ampat yang terancam punah Foto Monaco Nature Encyclopedia - Hiu Karpe...

Hiu karpet berbintik, spesies hiu berjalan asal Raja Ampat yang terancam punah. | Foto: Monaco Nature Encyclopedia

Gardaanimalia.com - Di antara gugusan karang yang menjadi ekosistem bawah laut, tersembunyi sebuah rahasia kecil yang merayap di kegelapan malam. Ikan berbintik yang lebih memilih berjalan daripada berenang, lebih gemar mengendap-endap daripada tampil. Namun, dirinya bukan sekadar ikan, ia adalah warisan hidup dari jutaan tahun evolusi yang kini berdiri di ujung kepunahan.

Sekilas Profil: Siapakah Ia?

Hiu karpet berbintik, nama unik dengan profil yang juga menawan. Nama “karpet” yang disandangnya bukan tanpa alasan, pola bintik heksagonal berwarna cokelat hingga kehitaman yang tersebar di sekujur tubuhnya memang menyerupai motif karpet macan tutul.

Masyarakat lokal Papua, khususnya Raja Ampat biasa menyebutnya kalabia sebagai panggilan kasih sayang. Hiu dengan nama ilmiah Hemiscyllium freycineti ini hanya dapat dijumpai di sekitar Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat, tepatnya di perairan dangkal yang dipenuhi terumbu karang, rumput laut, serta pasir.

Biasanya ia dapat dijumpai pada kedalaman 0-12 meter di bawah permukaan laut ketika sedang berkamuflase di antara terumbu karang.

Uploaded content

Menurut data yang tercatat, hiu karpet berbintik muda terkecil memiliki panjang 21,4 sentimeter, sedangkan yang terpanjang mencapai 66,3 sentimeter, meskipun belum diketahui seberapa panjang maksimumnya (Indonesian Speckled Carpet Shark, n.d.).

Dengan tampilan dan ukuran tersebut, tak heran jika hiu ini jauh dari gambaran predator bawah laut yang sering dibayangkan. 

Namun, di balik tubuhnya yang kecil, tetap tersembunyi ketangkasan seorang pemburu malam yang terasah selama jutaan tahun.

Kemampuan Berjalan yang Legendaris

Di antara banyaknya spesies ikan yang teridentifikasi, hanya segelintir yang memiliki keunikan untuk berjalan di dasar laut. Sirip dada dan perutnya yang cukup besar memungkinkan ia merayap di atas terumbu karang, pasir, dan bebatuan dengan keluwesan yang menawan.

Namun, kemampuan unik tersebut bukan sekadar estetika. Menurut Ocean Society (2022), kemampuan berjalan ini membantunya beradaptasi dengan kondisi habitat yang sering terdampak pasang surut, terutama di antara terumbu karang. Ketika air laut surut dan celah karang menjadi dangkal, ia akan berpindah dari satu karang ke karang lain dengan cara berjalan di atas batu yang hampir kering.

Sang Pemburu Malam

Hiu karpet berbintik adalah jiwa malam sejati, hewan nokturnal yang baru bergerak aktif ketika sang baskara terlelap dan kegelapan mulai menyelimuti perairan Raja Ampat.

Di bawah cahaya rembulan yang menembus permukaan laut, ia mengendap di celah karang untuk memburu mangsanya. Biasanya hiu karpet berbintik akan mencari mangsa di area karang atau pasir yang landai agar lebih mudah menangkapnya. Hewan kecil sejenis invertebrata, seperti ikan kecil, cacing laut, dan krustasea merupakan makanannya sehari-hari.

Namun, jangan meremehkan kemampuan hiu ini. Meskipun ukurannya terbilang kecil, ia pun dapat memangsa hewan dengan ukuran jauh lebih besar daripada dirinya. 

Status Konservasi: Di Manakah Ia Berdiri?

Uploaded content
Status konservasi hiu karpet berbintik. | Foto: IUCN Red List

Berdasarkan penilaian oleh IUCN (International Union for Conservation of Nature) pada tahun 2020, Hemiscyllium freycineti resmi masuk ke dalam Daftar Merah IUCN dengan status near threatened atau hampir terancam.

Kerusakan ekosistem laut akibat perubahan iklim dan penangkapan ikan dengan bahan peledak telah membuat habitat hiu ini hancur. Belum lagi, ancaman lain dari pencemaran laut akibat sampah plastik yang hanyut ke perairan dangkal.

Selain itu, harganya yang mahal di pasaran membuat perburuan hiu karpet berbintik terus meningkat. Tak heran, akibat campur tangan manusia itulah populasi hiu karpet berbintik pun semakin mengalami penurunan.

Status tersebut menjadi peringatan bahwa tanpa penanganan yang serius, spesies ini berpotensi meluncur ke kategori yang lebih kritis.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia telah mengambil langkah nyata dengan menetapkan seluruh spesies hiu berjalan dari genus Hemiscyllium, termasuk H. freycineti sebagai jenis ikan yang dilindungi penuh sejak 2023. Langkah tersebut semakin diperkuat dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Raja Ampat Nomor 9 Tahun 2012 yang melarang penangkapan hiu di perairan Raja Ampat.

Lebih dari Sekadar Penghuni Karang

Sebagai predator puncak di ekosistem terumbu karang, kehadiran hiu karpet berbintik memegang peran yang krusial. Ia berperan sebagai penjaga keseimbangan rantai makanan dengan memangsa ikan kecil dan krustasea di perairan.

Apabila eksistensinya sebagai predator puncak punah dari ekosistem, dikhawatirkan akan terjadi ledakan populasi mangsa yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.

Pelestarian hiu karpet berbintik bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga konservasi, ia menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai warga negara sekaligus sesama penghuni planet bumi.

Langkah kecil yang dapat dimulai ialah dengan menebarkan kesadaran. Ceritakan tentang sang penjaga dasar laut asal Raja Ampat kepada khalayak. Siapa yang tahu? Mungkin saja kata-kata tersebut datang di waktu yang tepat sehingga mampu menggerakkan perubahan lebih banyak daripada yang pernah dibayangkan sebelumnya.