Menu
Khas

Nyanyian Siamang: Nyawa Ekosistem Hutan Bukit Lumut Balai

03/11/2026|Afifah Putri Ningdiyah
Siamang adalah primata arboreal yang dikenal lewat nyanyiannya yang khas Foto Rinando Eko SaputraWikimedia Commons - Nyan...

Siamang adalah primata arboreal yang dikenal lewat nyanyiannya yang khas. | Foto: Rinando Eko Saputra/Wikimedia Commons

Gardaanimalia.com - Suaranya menembus batas hutan, meski wujudnya tak selalu tampak. Siamang dan masyarakat Semende telah bersepakat untuk tidak mengganggu satu sama lain.

Langit pagi tak berawan. Kidung merdu dari dalam hutan di kaki Bukit Lumut Balai menjadi tanda yang menggerakkan masyarakat pergi ke kebun kopi.

Nyanyian pagi itu disenandungkan oleh siamang. Penjaga rimba yang memiliki suara bak beker alami, menandakan fungsi ekologis hutan masih hidup, serta ajakan menyambut pagi bagi masyarakat setempat untuk segera pergi ke ladang atau kebun untuk bekerja.

“Nyanyian” siamang masih ramai terdengar setiap pagi di Ataran Datas Pagi, Desa Tanjung Tiga, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim. Wilayah ini masih termasuk kaki Bukit Lumut Balai, bagian dari jajaran Bukit Barisan Sumatera Selatan. 

Masyarakat Semende yang Hidup Harmonis dengan para Satwa

Perkebunan yang menjadi sumber mata pencaharian rata-rata masyarakat Semende adalah tanaman kopi. Setiap pagi mereka berkebun, memetik, dan menjemur kopi. Nyanyian siamang dari hutan, adalah alunan alam yang menemani mereka bekerja.

Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Maryam dan Ikral sebagai masyarakat Semende yang hidup harmonis dengan siamang.

Ikral dan Maryam, pasangan suami istri yang menetap di Desa  Tanjung Tiga mengatakan bahwa suara siamang sudah jadi ringtone pagi dan menjelang petang di wilayahnya.

Ikral sebagai warga asli suku Semende mengungkapkan, sebagian besar masyarakat Semende meyakini bahwa nenek moyang Suku Semende dan siamang telah membuat perjanjian untuk hidup rukun dan tidak mengusik satu sama lain.

Dahulu, cerita tersebut kerap diceritakan turun-temurun kepada anak cucu dalam suasana keluarga atau ketika masyarakat beraktivitas di kebun. Sayangnya, kini kebiasaan menyampaikan cerita itu dalam keluarga, mulai memudar.

Walau suaranya selalu terdengar, Maryam dan Ikral mengaku tidak pernah berjumpa langsung dengan siamang. Mereka menduga, semakin didekati manusia, siamang akan semakin menjauh dan tidak mengeluarkan nyanyian.

“Saya rasa selama Bukit Barisan masih alami dan lestari, suara siamang akan terus terdengar,” ucap Ikral sambil mengingat masa kecilnya.

Uploaded content
Ikral memetik kopi di kebunnya, di Ataran Datas Pagi, Desa Tanjung Tiga. | Foto: dokumentasi pribadi

Perkebunan yang dimiliki masyarakat Semende juga tidak pernah diganggu oleh satwa liar, termasuk siamang. Hal itu karena masyarakat Semende mempertahankan pohon semantung, sebagai tanaman kesukaan siamang, beruk, dan monyet ekor panjang1.

Ikral mengatakan bahwa pohon semantung tumbuh dengan sendirinya, tanpa campur tangan masyarakat. Pohon-pohon semantung biasanya juga tumbuh di daerah curam yang sulit dilalui manusia. Ia menduga bahwa pohon tersebut tumbuh karena penyebaran feses oleh satwa liar, termasuk siamang, yang memakan buah dari pohon semantung.

“Biasanya burung suka bawa buahnya, beruk juga, lalu siamang. Dari situ mungkin buahnya jatuh, lalu tumbuh sendiri pohon semantung itu.”

Selain siamang, pohon semantung juga merupakan tumbuhan favorit bagi gajah sumatera. Keberadaan pohon semantung sangat penting bagi satwa tropis, sehingga sangat baik jika dilestarikan dan diperbanyak di wilayah konservasi dan habitat satwa terancam punah2.

Waktu dan Fungsi Vokalisasi Siamang untuk Bernyanyi di Hutan

Uuk uuk uwuk wuk wuk kuk kuk kuk woo woo…

Sebagai petani kopi, suara siamang menjadi dering yang mengiringi Ikral berkebun dan menjemur kopi. Matahari muncul, suara siamang terdengar saling bersahut-sahutan.

“Saat cuaca cerah, biasanya suaranya (siamang) terdengar ramai. Tapi kalau mendung atau hujan tidak terdengar,” ungkap Maryam.

Uploaded content
Maryam, pendatang yang kini menetap di Ataran Datas Pagi dan menjadi petani kopi bersama suaminya. | Foto: dokumentasi pribadi

Menurut penelitian, siamang tidak melakukan vokalisasi pagi saat mendung dan hujan karena suhu yang lebih rendah membuat siamang harus meningkatkan kebutuhan energi untuk bernyanyi.

Jika waktu untuk siamang bernyanyi telah terlewati akibat hujan, maka mereka akan memilih untuk mencari makan alih-alih bernyanyi3.

Selain itu, suara hujan di pagi hari menyamarkan suara siamang sehingga nyanyian pagi tersebut tidak dapat didengar oleh kelompok siamang lainnya. Akibatnya, fungsi dari nyanyian tersebut tidak akan tercapai4.

Nyanyian pagi (morning call) sangat penting untuk siamang5.Vokalisasi ini adalah bagian dari cara mereka berkomunikasi6. Perilaku tersebut untuk menunjukkan keberadaan mereka, menandai wilayah suatu kelompok, serta untuk mencari pasangan78.

Sebagai satwa arboreal, pemilihan pohon untuk melakukan nyanyian pagi juga penting bagi siamang agar fungsi dari nyanyian tersebut dapat bermanfaat bagi individu yang melakukannya9.

Berbeda dengan Ikral, Maryam adalah pendatang.  Ia mengaku bahagia hidup dengan lingkungan desa di Ataran Datas Pagi. Dibandingkan di kota dengan suara riuh lalu lintas kendaraan, huru-hara, dan lainnya, Maryam mengaku suara siamang dan gemerisik daun di pohon-pohon lebih menenangkan hati.

Menjaga Nyanyian Hutan Tetap Lestari

Merujuk keterangan dari Ketua Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA Sumsel, Andre, belum ada data populasi siamang di Sumatera Selatan. Namun, kantung-kantung habitat siamang tersebar di Gunung Raya, Isau-Isau Lahat, termasuk di Bukit Barisan.

Ancaman utama yang dihadapi siamang adalah kerusakan habitat yang mengakibatkan fragmentasi habitat dan penurunan vegetasi pakan bagi siamang.  Karena merupakan satwa arboreal, mereka sangat bergantung dengan tajuk hutan. 

Perburuan siamang untuk perdagangan serta pemeliharan anak siamang oleh masyarakat menjadi ancaman lainnya. 

Berbagai upaya dilakukan demi melestarikan siamang. Mulai dari upaya rehabilitasi oleh Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Aspinall Foundation, pelepasliaran, hingga perlindungan habitat siamang.

Saat ini ada sekitar 30 individu siamang yang dirawat di PRS Aspinall Punti Kayu di Palembang. Andre menjelaskan, mayoritas diselamatkan dari kasus pemeliharaan ilegal.

Dirinya menyebut, ada satu kasus perdagangan siamang yang terkuak pada 2019 yang telah diproses hukum. 

Upaya preventif pun dilakukan BKSDA melalui patroli kawasan untuk mencegah perburuan, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi menjadikan satwa liar, khususnya yang dilindungi seperti siamang, sebagai peliharaan.

Andre kembali mengingatkan bahwa satwa liar memiliki peran dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Seandainya satu saja spesies kunci hilang, alam akan terganggu keseimbangannya. 

“Satwa liar juga dilindungi secara hukum. Sama-sama kita lestarikan satwa liar, apalagi yang terancam punah,” tuturnya.

Pesan pelestarian satwa liar juga dituturkan Maryam dengan sederhana, “Kita tidak dengan sengaja melestarikan. Selama tidak saling mengusik, masih akan terus terdengar (suara siamang).”


1 https://mongabay.co.id/2026/05/28/menjaga-semantung-untuk-kelestarian-siamang-di-bukit-lumut-balai/
2 https://mongabay.co.id/2026/05/28/menjaga-semantung-untuk-kelestarian-siamang-di-bukit-lumut-balai/
3 Effects of Meteorology, Astronomical Variables, Location and Human Disturbance on the Singing Apes: Hylobates Albibarbis, American Journal of Primatology, 70, 2008, 386 – 392.
4 The Ooa Duet of The Gibbon (Hylobates Lar) a Group Call which Triggers Other Groups to Respond in Kind, Folia Primatol, 42, 1984, 209 – 215.
5 Morning Calls of Siamang (Symphalangus syndactyllus) in Subayang River, Riau – Indonesia, International Journal of Ecophysiology Vol. 01, No. 02, 2019: 125 – 130, hlm. 126.
6 Panduan Lapangan Primata Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2000
7 Malayan Forest Primates: Ten Years Study in Tropical Rain Forest, New York, 1980.
8 Song Function in Gibbons, Behaviour, 12, 1992, 131 – 153.
9 Morning Calls of Siamang (Symphalangus syndactyllus) in Subayang River, Riau – Indonesia, Ibid.