Khas

Ilmu Titen Cuaca, Membaca Alam dengan Nyanyian Siamang di Pagi Hari

07/04/2026|Ruhana Maysarotul Muwafaqoh
Satu individu siamang di dalam hutan Sebagian masyarakat Sumatera percaya bahwa nyanyian siamang bisa memberikan informasi...

Satu individu siamang di dalam hutan. Sebagian masyarakat Sumatera percaya bahwa nyanyian siamang bisa memberikan informasi prakiraan cuaca. | Ilustrasi: Canva

Gardaanimalia.com - “Kok nyesel, ya, tadi nggak menjemur kopi, padahal udah dikasih kabar sama nyamang,” keluh Ibuk yang melewatkan cuaca panas hari itu.

Sebelumnya Ibuk pernah berkata padaku, bagi sebagian warga, bunyi yang menggema dari dalam rimba itu menjadi pertanda. Jika terdengar nyaring di pagi hari, maka matahari akan terik saat siang.

Namun, barangkali kabar dari penyanyi hutan Sumatera kali ini sempat diabai olehnya dan menyisakan penyesalan saat matahari pamit, berganti shift dengan bulan.

Meski berakar dari budaya Jawa, ilmu titen semacam ini menemukan ruang hidup baru di tanah Sumatera. Tumbuh, berbaur, dan beradaptasi dengan lanskap yang berbeda.

Titen, yang berarti mengamati dan mengingat pola, pada dasarnya adalah cara manusia membaca alam melalui pengalaman berulang. Di tangan para perantau Jawa yang menetap di Sumatera, pengetahuan ini tidak hilang, justru berkembang dengan tanda-tanda baru yang mereka temui di lingkungan sekitar. Ilmu titen berpindah bersama manusia, lalu menyesuaikan diri dengan alam yang baru.

Sejak memutuskan pindah ke Bengkulu pada 1997, Abah selalu memperhatikan kebiasaan warga setempat yang menanti kabar dari siamang di pagi hari, “Ilmu turun-temurun, memang sudah dipakai dari dulu. Abah juga ikut niteni.”

Siamang, Primata Hutan Sumatera

Di tengah hutan dan perbukitan wilayah tempat tinggalku, ilmu titen tidak lagi hanya berbicara tentang arah angin atau bentuk awan seperti di tanah asalnya. Ia juga merangkul suara-suara hutan, termasuk panggilan siamang di pagi hari. Di Sumatera, hutan menjadi ‘kitab’ baru untuk dibaca dan siamang – tanpa disadari – menjadi salah satu ‘penandanya’.

Siamang (Symphalangus syndactylus) termasuk anggota famili Hylobatidae dengan badan terbesar dan diselimuti bulu hitam legam.

Bentuk jarinya yang menyatu membedakan siamang dari owa lainnya, disebut sindaktili. Pada siamang, sindaktili ini berupa kondisi di mana jari tangan bagian tengah dan telunjuk menyatu. Inilah yang menjadi dasar nama ilmiahnya, syndactylus.

Kehadiran fisik primata arboreal hutan Sumatera ini jarang sekali terlihat mendekati permukiman warga.

Dia adalah penghuni setia kanopi hutan hujan tropis yang lebat. Hidup tinggi di atas pepohonan, berpindah dari dahan ke dahan tanpa harus turun ke tanah. Ketika bergerak di kanopi hutan, siamang seperti melayang dari satu dahan ke dahan lain.

Hutan perbukitan yang rapat dengan pohon tinggi yang saling terhubung menjadi rumah ideal bagi mereka untuk mencari buah, daun muda, sekaligus berlindung dari gangguan.

Karena itulah, meski suaranya kerap menggema hingga di permukiman warga, keberadaan siamang sebenarnya berada jauh di dalam rimbun hutan. Yang sampai ke telinga warga hanyalah gema nyanyian paginya, meluncur mengikuti lembah dan lereng, seolah membawa pesan dari hutan kepada orang-orang yang tinggal di sekitar.

Dalam sebuah legenda karya Sumni To, siamang berasal dari bahasa Batak Toba (Sumatera Utara), yaitu “Amang”, sebuah panggilan sayang dari orang tua kepada anaknya. Begitulah Hatora, seorang raja dari Kerajaan Hatorusanta di Sumatera, memanggil anak laki-lakinya bernama Mangaraja yang diharapkan tumbuh sebagai pribadi yang kuat, gagah, dan berani.

Tapi, Mangaraja tumbuh jauh dari harapan dan dikutuk oleh Datu Bolon.

Laaraii bebbebebaba luuuu birong bulu bulu ambebbe karrmamanan!

Tubuh Amang berubah menjadi kera berbulu hitam legam. Lalu, ia berlari jauh masuk ke hutan, menghindar dari permukiman. Dan setiap kali bersuara, penduduk setempat menyebutnya sebagai jeritan siamang.

Nyanyian Siamang yang Menggema

Wuk..wuk..wuk..wuk..

Suara itu memecah konsentrasiku, membawa tubuhku yang masih duduk di atas kasur keluar rumah demi menyaksikan kehadiran gibbon terbesar dan berlengan panjang dengan bantuan bioakustik.

Aku berdiri di teras tepat pukul delapan lewat tujuh menit dan menyimak dengan seksama. Ini suara siamang. Suara yang kunanti setelah mendengar pernyataan Ibuk.

“Siamang memang cenderung lebih aktif bersuara ketika cuaca cerah. Hal ini disebabkan karena vokalisasi siamang digunakan sebagai penanda teritori, di mana ketika kelompok siamang menemukan pohon makan, mereka pasti akan memilih pohon tidur yang dekat dengan pohon makan tersebut, sehingga pada pagi hari siamang akan bersuara untuk memperingati kelompok lainnya,” jelas Albert Feliciano Ferrari, seorang field biologist dari Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT) atau Cikananga Wildlife Center (CWC) yang berhasil kuhubungi melalui WhatsApp.

Pola vokalisasi siamang umumnya paling aktif sekitar pukul enam hingga sembilan pagi. Vokalisasinya akan menurun saat menjelang siang hari seiring dengan penurunan aktivitas yang biasa dilakukan, yaitu hanya bersantai atau makan di atas pohon.

Pada sore hari, intensitas vokalisasi siamang akan meningkat, tetapi tidak sesering pagi hari.

Lain cerita ketika cuaca mendung atau hujan dan kondisi suhu lebih rendah. Sebab siamang cenderung akan mengurangi aktivitas bergerak dan bersuara yang dapat menyebabkan kehilangan panas tubuh, sedangkan aktivitas yang lebih sering dilakukan untuk menjaga panas tubuh tetap stabil adalah makan.

Layaknya manusia, siamang perlu menjaga suhu normal tubuhnya di angka 36,5 hingga 37 derajat celsius. Selain itu, suara berisik akibat hujan juga dapat menghambat sinyal suara sehingga komunikasi antar kelompok siamang menjadi tidak efektif.

Uuuk..uwuuk..wuk.. Kuk..kuk..kuk.. Woo..woo..woo.. Wuk..wuk..wuk.. Ngook..ngok..ngok..ngok.. Ouu..ouu..ouu..

Awalnya aku sempat mengira kalau penghuni hutan bukit seberang berasal dari berbagai jenis owa, sebab tak hanya satu suara yang terdengar.

Dari video berdurasi satu menit empat belas detik yang kukirim, Albert mengoreksi asumsiku yang hanya sebatas mengandalkan bioakustik. Video itu menangkap nyanyian pagi pembawa kabar gembira, terlebih bagi mereka yang halaman rumahnya tertutup terpal lengkap dengan beratus ribu hingga jutaan butir kopi, menanti sengatan matahari. Kata Albert, tak ada owa lain yang turut bernyanyi. Dari banyaknya nada yang terdengar, itu hanya nyanyian milik siamang yang saling bersahutan dan diiringi kicau burung dari famili Columbidae. Dimulai perlahan dan kecepatannya meningkat, lengkap dengan great call yang panjang dan nyaring.

“Ngawur, suaranya memang terdengar sampai sini. Tapi itu jauh di dalam hutan sana,” sahut Abah saat kuajak melihat penghuni hutan perbukitan belakang rumah kakek imam masjid.

Suara nyanyiannya terngiang di kepala. Terus membuatku takjub. Meski belum pernah berjumpa, aku tetap jatuh hati pada suara yang begitu stabil dalam kurun waktu yang cukup untuk jogging sejauh tujuh kilometer. Berkat gular sac (kantung suara) di leher yang mengembang seperti balon saat siamang bersuara, nyanyian yang panjang, melengking nan menggema berhasil menembus jarak sekitar tiga kilometer. Lebih jauh lagi bisa mencapai enam setengah kilometer.

Ilmu Titen Dapat Menjadi Pijakan Awal Kajian Ilmiah

Suara siamang disebut-sebut sebagai penanda wilayah teritorial, ikatan pasangan, komunikasi sosial bersama kawanan, hingga peringatan ancaman bagi habitat mereka.

Berbeda dengan beberapa artikel penelitian di search engine yang mengatakan demikian, penduduk desa di salah satu perbukitan Kaur Bengkulu menandai suara siamang di pagi hari sebagai ramalan cuaca. Barangkali keyakinan orang-orang rural ini terdengar tak masuk akal. Tapi bagiku, ini tidak berbeda dengan sebagian kawula muda urban yang mengandalkan aplikasi ramalan cuaca di gadget sebelum memutuskan keluar rumah.

“Kepercayaan masyarakat ini memang menarik untuk dilihat melalui kaca kajian ilmiah, memang dalam kajian ilmiah juga sudah disebutkan bahwa cuaca akan berpengaruh terhadap aktivitas siamang terutama pada aktivitas bersuaranya,” ujarnya.

Namun, Albert menjelaskan kalau ini bukanlah faktor tunggal. Masih ada banyak faktor penyebab siamang melakukan vokalisasi, sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa cuaca dan vokalisasi siamang memiliki hubungan sebab akibat secara langsung. Seperti halnya dalam kondisi hujan, siamang akan bersuara keras ketika ada kelompok lain atau kehadiran predator. Dari sini aku paham. Pantas saja kabar yang dibawa siamang di pagi hari terkadang meleset dari perkiraan.

Meski demikian, kabar itu lebih sering tepat sasaran sehingga terus diyakini sebagian warga. Sama halnya kepercayaan sebagian masyarakat pada ramalan cuaca di gadget yang terus disandingnya.

Menurut Albert, ilmu titen berpeluang besar untuk berdialog dengan pendekatan ilmiah karena pada dasarnya ilmu ini juga berasal dari observasi lapangan jangka panjang yang bersifat empiris, meski belum diuji secara sistematik.

Adanya pengetahuan lokal seperti ilmu titen justru akan membantu kajian ilmiah. Bahkan seringkali menjadi titik awal dan inspirasi dalam berbagai penelitian ekologi (mulai dari ide, pengambilan data, dan validasi ilmiah), seperti dalam penelitian perilaku satwa.