Gardaanimalia.com - Mungkin peran primata, seperti orangutan, sebagai penjaga hutan cukup sering terdengar, tapi pernahkah terlintas tentang peran feses atau kotoran mereka?
Feses yang dikeluarkan primata pemakan buah seperti orangutan memiliki peran sangat penting dalam menjaga hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya.
Bagaimana tidak? Dalam artikel yang ditulis dalam situs Discover Wildlife, peneliti mengungkap, terdapat 828 biji tumbuhan dengan variasi yang berbeda dalam satu kotoran yang dikeluarkan orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). Ratusan biji tersebut ditemukan dalam 73 persen sampel kotoran yang dikumpulkan.
Tidak hanya itu, peran primata pemakan buah ini juga dapat dilihat dari proses pencernaannya.
Dalam penelitian yang diunggah di situs Gunung Palung Orangutan Conservation Program, Andrea Blackburn, menerangkan bagaimana sebuah biji membutuhkan waktu 39–120 jam atau sekitar lima hari untuk dicerna.
Selam proses pencernaan tersebut, orangutan, si satwa yang suka berkelana melakukan kegiatan rutinnya mengelilingi hutan sambil membuang kotoran yang berisi calon pohon-pohon yang akan tumbuh di hutan.
Hebatnya lagi, penelitian juga menemukan fakta, proses pencernaan orangutan membantu proses perkecambahan biji-biji lebih cepat daripada biji-biji yang tidak diproses oleh satwa. Dengan kata lain, cepatnya perkecambahan akan mendukung percepatan regenerasi pohon-pohon di hutan.
Mengingat peran penting pohon bagi kehidupan, yakni sebagai penyerap karbon, penghasil oksigen, pengatur siklus air, peredam polusi, dan masih banyak lagi, menjadikan orangutan sebagai aktor penting untuk memitigasi krisis iklim yang makin hari makin terasa. Hutan yang kaya akan pohon yang sehat jelas lebih tahan terhadap ancaman seperti penyakit, krisi iklim, dan bencana alam.
Mengutip jurnal berjudul “An ecophysiologically informed model of seed dispersal by orangutans: linking animal movement with gut passage across time and space”, yang ditulis Esther Tarszisz dan tim dijelaskan, hutan hujan tempat orangutan hidup menyerap sekitar 1,5 hingga 2,5 miliar metrik ton karbondioksida setiap tahun.
Terjaganya pohon-pohon di hutan tidak lain merupakan peran para primata sebagai pemakan buah dan kotorannya.
Sedihnya, populasi satwa penyebar biji yang memiliki kotoran yang luar biasa ini masih harus menghadapi ancaman kepunahan, mulai dari perambahan habitat hingga perdagangan dan perburuan liar. Kejahatan ekologi ini harusnya menjadi tamparan bagi manusia yang seringkali mengeksploitasi kayu-kayu yang telah ditanam para primata untuk menjaga hutan.
Seharusnya, yang paling berhak memanfaatkan hasil alam yang ada di hutan adalah mereka para petani hutan.
Bayangkan, bagaimana hutan kita jika tidak ada satwa besar berambut itu? Siapa yang sanggup menghasilkan kotoran yang mengandung ratusan biji dan menyebarkannya ke seluruh sisi hutan? Terlebih, orangutan membawa biji lebih jauh daripada hewan kecil.
Kehilangan orangutan tidak hanya berarti kehilangan spesies karismatik, tapi juga kehilangan makhluk hidup yang memiliki kotoran yang berisi calon kehidupan di dalamnya.
Kehilangan orangutan sama dengan langkah menuju kehancuran ekosistem penting yang membentuk struktur hutan tropis itu sendiri.
Tulisan ini masuk ke dalam 10 tulisan terpilih dalam Lomba Micro-Essay Primata untuk Iklim yang diselenggarakan oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) dan Kukangku.
















