Perburuan Kura-kura dan Burung Paruh Bengkok Terus Terjadi Di Asmat


Kura-kura moncong babi banyak diburu dan diselundupkan keluar Asmat karena harganya yang tinggi. Foto : Istimewa

Papua menjadi salah satu wilayah di dunia yang menyimpan keanekaragaman satwa dengan tingkat kekayaan dan endemisitas tinggi. Kayanya jenis-jenis satwa mulai dari serangga hingga mamalia menjadikan kawasan ini dijuluki Tropical Wilderness Area. Sayangnya, kekayaan satwa yang dimiliki Papua tidak lepas dari ancaman dari manusia seperti deforestasi, pengalihan tata guna lahan, dan perburuan satwa liar. Seperti yang terjadi di Kabupaten Asmat, Papua.

Kabupaten Asmat merupakan salah satu kabupaten di Papua dengan wilayah yang didominasi oleh sungai dan hutan. Pembangunan pemukiman penduduk hanya di sekitar tepian sungai. Hal ini menyebabkan masih begitu luas wilayah yang belum pernah tersentuh oleh manusia. Satwa liar hidup tenang di dalam hutan, tetapi tidak sedikit yang terancam oleh keberadaan manusia.

Suku Asmat adalah suku yang mayoritas mendiami wilayah Kabupaten Asmat yang hingga saat ini masih mempraktekan budaya hidup berburu dan meramu. Hidup berdampingan dengan alam, yang walaupun jika dilihat tidak lagi menaati aturan-aturan adat yang sifatnya melindungi dan menjaga kelestarian alam.

Semakin banyak kehidupan warganya bersentuhan dengan modernitas, maka semakin terancam pula kondisi alamnya. Eksploitasi besar-besaran hutan oleh perusahaan sejak awal 80an hingga awal tahun 2000 menghabiskan jutaan kubik pohon kayu besi ditebang. Sekarangpun masih banyak para penebang kayu ilegal hilir mudik ke wilayah pedalaman Asmat. Semakin besar kota dibangun maka semakin banyak hutan dibabat.

Jika dahulu orang Asmat menganggap kalau hutan adalah rumah dan juga Ibu bagi mereka, sekarang fungsi hutan hanya sebatas tempat mencari makan. Mereka biasa memasang jerat dan juga berburu menggunakan anjing di dalam hutan untuk mendapatkan satwa buruan seperti Kasuari, Babi, Kangguru, Buaya, Biawak dan juga Kuskus. Jumlahnya tak seberapa karena tidak setiap hari dapat dan bisa dihitung jari.

Ketika banyak pendatang dari suku lain (suku dari luar Papua) datang ke Asmat mengadu nasib, semakin banyak orang Asmat mengikuti cara pendatang mencari uang. Salah satunya dengan mencari telur kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta).

Mulanya hanya pendatang yang pergi sampai ke hulu sungai untuk mencari telur kura-kura di habitatnya berupa sungai berpasir. Kini orang-orang Asmat yang menguasai wilayah tersebut. Mereka membawa hasil tangkapan telur ke penadah untuk dijual. Besarnya uang yang dihasilkan dari menjual telur kura-kura sangatlah besar terutama bagi orang Asmat.

Dahulu, sudah menjadi kebiasaan orang Asmat mencari telur kura-kura pada saat musim bertelur antara bulan Agustus-Oktober untuk dikonsumsi sehari-hari. Berbeda dengan sekarang, mereka mengambil telur dari sarang hanya untuk dijual.

Menurut Yoseph (38) salah seorang pendatang yang berprofesi sebagai pencari telur dan penadah, lebih dari 50 ribu tukik (anak kura-kura) keluar wilayah Asmat untuk kemudian di dikirim ke Surabaya setiap tahunnya. Bisa menggunakan transportasi kapal dan juga pesawat melalui Timika.

“Biasanya kami terima telur dari masyarakat (orang Asmat) lalu kami tetaskan di rumah. Setelah menetas baru kami jual ke bos besar. Kami ini hanya penadah telur saja. Tidak tahu mereka untuk apa kura-kura moncong babi. Untuk obat kah!?”, ujarnya saat wawancara dengan Gardaanimalia.com.

Tetapi menurutnya tahun ini penjualan tukik-tukik itu sepi dari pembeli, “Saya masih punya 15 ribu yang baru menetas hasil tangkapan tahun lalu. Belum laku. Mungkin banyak yang kena tangkap kah?”, ujar Yoseph

Sementara di wilayah Asmat sendiri tidak ada larangan ataupun sanksi tegas yang melarang perburuan telur kura-kura. Berdasarkan pernyataan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Asmat, ada kuota yang diperbolehkan untuk penangkapan telur kura-kura. Sementara penangkapan terus terjadi, belum ada juga tempat penangkaran untuk menjaga populasi kura-kura moncong babi yang semakin menipis jumlahnya di alam liar.

Lain halnya dengan Burung paruh bengkok yang juga menjadi salah satu target perburuan. Harga jualnya yang cukup tinggi menjadikan burung paruh bengkok paling banyak ditangkap dari alam liar untuk dijual kepada para pendatang. Penjualannya juga selalu meningkat seiring semakin populernya burung paruh bengkok untuk dijadikan peliharaan.

Di Asmat, burung-burung ini lebih terkenal dengan sebutan Burung Yakop (kakatua Jambul Kuning/Cacatua Galerita Triton), Burung Urip (Nuri Kepala Hitam/Lorius Lory), dan Burung Kakatua Hitam (Kakatua Raja/Probosciger Atterimus). Urutannya berdasarkan harga paling murah hingga harga paling mahal : Burung Urip, Burung Yakop dan Burung Kakatua Hitam.

Para pendatang senang menjadikan ketiga jenis burung paruh bengkok ini sebagai hewan peliharaan, karena sifatnya yang jinak dan pintar jika dipelihara sejak masih kecil.

Anakan burung paruh bengkok banyak dicari masyarakat karena sifatnya yang jinak dan pintar. Foto : Istimewa

Menurut Agus Aose salah seorang masyarakat yang biasa mencari anakan burung di musim menetas, anakan burung yang masih kecil dan baru menetas biasa dicari di hutan. “Bulan-bulan begini urip dan yakop menetas, bulan-bulan februari sampai maret.” terangnya.

Apabila Urip dan Yakop dipelihara karena memiliki sifat yang pintar, beda lagi dengan burung Kakatua hitam. Burung ini banyak dicari dan mahal harganya karena merupakan satwa langka. Apalagi jika mereka menjualnya ke Kapal Barang ataupun kapal penumpang, harga sangat tinggi.

Burung-burung paruh bengkok dari wilayah Timur  banyak diselundupkan untuk kembali dijual di wilayah Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Agar tidak ketahuan oleh aparat, burung-burung ini diselundupkan ke dalam botol plastik.

“Kami biasa kasih masuk urip di dalam botol air mineral kecil, baru kami kasih lubang-lubang kecil supaya masih bisa bernapas. Supaya burung juga tidak berisik jadi orang tidak tahu, aman.” ujarnya.

Maraknya Perburuan dan penyelundupan burung paruh bengkok dan Kura-kura moncong babi dari wilayah Timur, salah satunya Kabupaten Asmat, mengancam kelangsungan dan kelestarian hidup satwa-satwa ini di habitatnya. Perlu adanya tindakan tegas dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum untuk menghentikan kegiatan yang merugikan negara hingga triliunan rupiah ini. (Gana/AW)


1 Respon

  1. surya berkata:

    burung kktua klu ad org magrib brisik ap obatnja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 5 =