Gardaanimalia.com - Jakarta yang terbentuk dari 13 sedimentasi anak sungai (kali) memang merupakan kampung rawa dari dahulu. Persoalan ekosistem kali dan daerah pinggiran sungai pun sudah ada sejak lama di Jakarta. Kali Ciliwung yang dijadikan kanal adalah persoalan kronis di utara Jakarta pada era 1800-an–saat itu masih disebut Batavia.
Memasuki abad ke-21, ketika VOC dan Belanda sudah hengkang dari Indonesia, persoalan Jakarta rupanya masih sama, yaitu ekosistem Kali Ciliwung. Bukan lagi soal bibit penyakit yang tersebar dan terbawa oleh air dari daerah selatan Jakarta, melainkan spesies invasif yang menguasai habitat ikan lokal.
Seiring Waktu Ikan Sapu-Sapu di Kali Jakarta
Sejak 10 April 2026 hingga tulisan ini diterbitkan, sudah lebih dari 12 ton ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) diangkat dari kali di Jakarta. Namun, angka itu bahkan belum bisa menggambarkan populasi sebenarnya ikan sapu-sapu yang ada di sana.
Di balik pemusnahan ikan sapu-sapu oleh pemerintah, satwa yang dianggap hama ini justru memutar roda perekonomian masyarakat bawah.
Kami menyusuri daerah Ciliwung, di bawah flyover Kalibata yang menghubungkan Kalibata dengan Cililitan. Di bagian bawah yang terbuka, tampak tiga orang sedang sibuk menyiangi (proses membersihkan sebelum diolah) ikan sapu-sapu. Setumpuk ikan sapu-sapu disayat dan diambil dagingnya.
Tidak hanya itu, ikan sapu-sapu yang kedapatan bertelur akan diambil telurnya dan disimpan di wadah berbeda. Telur-telur tersebut dapat dijadikan umpan memancing.
“Cari sekitar sini aja pakai ini (menunjuk jala),” ujar Ali, salah satu nelayan pencari ikan sapu-sapu saat ditanya tentang area pencariannya (18/5/2026).
Daging ikan sapu-sapu dapat dibeli dengan harga Rp20.000 per kilogram. Dalam sehari, Ali dan beberapa orang pencari ikan sapu-sapu dapat mengumpulkan 20-30 kilogram.
Daging ikan sapu-sapu disebut akan dibawa ke pengepul di daerah Bogor. Ali tidak menjelaskan pengepul akan menggunakan daging tersebut untuk apa.
Meskipun kontroversi penggunaan daging ikan sapu-sapu sebagai bahan makanan, seperti siomai dan olahan lainnya, sudah lama didengar, perdagangan daging ikan sapu-sapu tetap menemukan pasarnya.
Perputaran ekonomi sekitar Rp400.000 - Rp600.000 per hari bagi Ali dan beberapa nelayan adalah cara untuk membuat dapur mereka tetap bisa mengepul. Besaran pendapatan itu masih harus dibagi oleh beberapa orang.
Alarm Ekologis dan Ekosisem Kali CIliwung
Perdagangan daging ikan sapu-sapu bukan penyebab utama menyebarnya ikan sapu-sapu di Indonesia, khususnya Jakarta.
Eny Suparyani, Kepala Bidang Perikanan, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta, menjelaskan bahwa ikan tersebut sudah ada sejak medio 1970-an hingga 1980-an yang masuk melalui perdagangan ikan hias.
“Awal persebarannya dari para penggemar ikan hias yang membeli ikan sapu-sapu dan ditaruh dalam akuarium. Lalu, setelah besar dan sudah tidak lucu lagi dilepas begitu saja,” ujar Eny, saat ditemui di Kantor DKPKP, Jakarta Pusat (30/4/2026).
Apa yang dijelaskan Eny dibenarkan oleh Charles P.H. Simanjuntak, iktiologis (ahli ikan) dari Institut Pertanian Bogor (IPB), yang menjelaskan penyebaran ikan sapu-sapu berasal dari pelepasliaran penggemar ikan hias saat sudah besar.
“Bukan karena mereka ingin merusak perairan, tidak. Ini karena ketidaktahuan saja bahwa ikan sapu-sapu ini nanti bisa seperti ini, karena orang belum sadar,” ujar Charles, saat diwawancarai melalui panggilan telepon (13/5/2026).
Kekhawatiran bahwa ikan sapu-sapu mengancam ikan lokal karena memangsanya secara langsung adalah asumsi yang setengah benar dan setengah salah. Kenyataannya, ikan sapu-sapu adalah jenis ikan pemakan segala, tetapi bukan pemangsa ikan lokal. Namun, telur-telur ikan lokal yang ada di dasar kali memang menjadi makanan bagi ikan sapu-sapu.
Ikan lokal seperti ikan baung, ikan betutu, ikan wader, dan ikan lainnya menyusut bukan karena dimangsa ikan sapu-sapu. Kondisi sungai yang tercemar oleh limbah domestik, industri, dan logam berat membuat jenis ikan lokal tidak dapat bertahan hidup.
“Jadi ikan sapu-sapu itu tidak memangsa si ikan lokal. Dia hanya menunggu si ikan lokal tersisih saja,” ujar Charles.
Ia menambahkan bahwa ikan sapu-sapu memiliki mekanisme penyesuaian diri yang sangat luar biasa bernama bioakumulasi. Bioakumulasi memungkinkan ikan sapu-sapu mengakumulasi dan mengisolasi logam berat yang dimakan. Karena kemampuannya itu, ikan sapu-sapu atau pleco, menjadi hewan yang sangat kuat hidup di lingkungan ekstrem.
“Selain itu, ikan sapu-sapu bisa hidup di air yang tingkat oksigennya rendah (anoksik). Jadi dia bisa menghirup udara dan sistem pencernaannya dapat berfungsi layaknya paru-paru (stomach air pouch),” ujar Charles.
Permasalahan fenomena ikan sapu-sapu bisa menjadi lebih parah pada dampak ekologis yang dapat merugikan manusia. Charles berkata, sebuah penelitian di Meksiko menyatakan ikan sapu-sapu berkontribusi pada erosi daerah aliran sungai (DAS).
Ikan sapu-sapu memang membuat lubang di pinggiran sungai dengan kedalaman yang pernah ditemui sekitar 140 sentimeter dengan lebar lubang 30 sentimeter. Namun, di Indonesia belum ditemui lubang ikan sapu-sapu yang sebesar dan sepanjang itu, rata-rata hanya sedalam 30-40 sentimeter dengan diameter 7-8 sentimeter.
Bisa dibayangkan jika lubang-lubang itu terbentuk sebanyak ratusan ribu bahkan jutaan. Bukan tidak mungkin daerah sempadan sungai akan alami erosi.
Solusi Jangka Pendek dan Pelanggaran Hak pada Binatang
Penanganan pertama untuk mengurangi ikan sapu-sapu di Kali Jakarta secara cepat sudah dilakukan dengan metode capture-removal (tangkap-musnahkan). Dalam rentang waktu lebih dari sebulan berhasil menangkap lebih dari 100 ribu ekor ikan sapu-sapu.
Namun, metode tangkap dan musnahkan ternyata menimbulkan polemik tersendiri. Ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap langsung dimusnahkan dengan cara dikubur hidup-hidup tanpa dimatikan terlebih dahulu.
Eny menjelaskan, karena jumlah ikan yang ditangkap sangat banyak, petugas di lapangan kesulitan dan kekurangan waktu jika harus mematikannya satu per satu. Praktik inilah yang kemudian dinilai tidak etis oleh para aktivis penggiat kesejahteraan hewan.
Fiolita Berandhini Saichu, Advokat Animals Don't Speak Human yang fokus pada perlindungan hukum satwa, mengatakan penguburan ikan sapu-sapu secara hidup-hidup tidak memperhatikan aspek penderitaan individu hewan.
“Penangkapan harus meminimalkan stres. Jika pemusnahan dilakukan, harus menggunakan metode cepat seperti stunning atau teknik yang mematikan fungsi otak secara instan. Itu dilakukan agar tidak menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan,” jelas Fio, sapaan akrabnya, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp, Sabtu (30/5/2026).
Oleh karena itu, pengendalian ikan sapu‑sapu yang etis dengan meminimalkan penderitaan satwa, tetap menghargai kehidupan, dan memperbaiki ekosistem secara berkelanjutan.
Mitigasi Serius Setelah Panen Ikan Sapu-Sapu
Fenomena ikan sapu-sapu tidak bisa diselesaikan dengan cara tangkap dan musnahkan saja. Perlu sebuah langkah mitigasi yang jelas dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu.
Eny menjelaskan, untuk mitigasi jangka menengah, fokus DKPKP pada program rutin edukasi ke masyarakat terkait dengan sampah dan pemusnahan ikan sapu-sapu.
“Kalau dulu mereka jaring sampah, kalau ada ikan sapu-sapu dibiarin aja gitu. Kalau sekarang tidak lagi, ketemu ikan sapu-sapu, ambil, matiin,” jelasnya.
Ia memaparkan, bentuk edukasinya berawal dari lisan, tetapi akan dibuatkan regulasi yang jelas agar seragam.
“Kita akan berproses membentuk satu aturan, apakah itu Pergub (Peraturan Gubernur) nantinya gitu,” tambah Eny.
Hal senada juga dikatakan oleh Charles, mitigasi jangka menengah fenomena membludaknya ikan sapu-sapu di Jakarta adalah memulihkan sungai. Selain itu, dibarengi dengan memberikan edukasi kepada warga untuk pembuangan limbah, baik itu domestik atau industri.
Mitigasi jangka panjang yang akan dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) adalah menggandeng ahli untuk menyusun pengendalian ikan sapu-sapu. Karena tidak mungkin untuk melakukan restocking ikan predator lokal begitu saja tanpa melakukan mitigasi jangka menengah.
“Kalau di Jakarta, itu kita buang-buang saja, nah kalau mau itu mungkin masih bisa dilakukan di sekitar Bogor,” ujar Charles.
Daerah Bogor, dirasa masih tepat untuk melakukan restocking. Beberapa tempat di Kali Ciliwung, Bogor, ikan baung masih ditemukan. Hal itu menandakan kualitas air masih lebih baik. Ikan baung sendiri dapat memangsa ikan sapu-sapu yang masih kecil.
“Karena yang dimakan kan ikan kecil, ukurannya 6-7 sentimeter, karena kalau dia [ikan sapu-sapu] di atas 10 sentimeter, kulitnya sudah keras,” jelas Charles tentang ikan baung.
Persoalan pemulihan kualitas air di Kali Jakarta menjadi pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai. Novita Anggraini, Environmental and Social Expert Islamic Development Bank (IsDB), yang juga merupakan peneliti dan pegiat sungai mengatakan masalahnya adalah tidak ada yang menjadi pemimpin dalam masalah ini.
“Perlu ada pemusatan persoalan limbah, jika tidak maka tidak akan selesai,” ujarnya saat diwawancarai melalui sambungan telepon (14/5/2026).
Saat dirinya masih bekerja di Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jakarta, persoalan sampah tidak pernah selesai. Mulai dari edukasi ke masyarakat, hingga penegakan regulasi pada sisi industri perlu dilakukan.
Persoalan sampah saling berkelindan dengan persoalan ekosistem sungai dan dampak ekologisnya. Ketidakpahaman dan ketidaktahuan hanya terus memperparah.
Pada akhirnya fenomena ikan sapu-sapu di Kali Jakarta menjadi tanda sebuah kegagalan kolektif dalam merawat lingkungan hidup daerah sungai.
Fio juga menambahkan masalah ini seharusnya menjadi pelajaran penting untuk pemerintah untuk lebih ketat dalam mengontrol perdagangan satwa agar tidak terjadi lagi pelepasan spesies non-endemik, serta memperbaiki kualitas lingkungan perairan.
Tanpa perubahan sistemik tersebut, tindakan eliminasi atau penangkapan massal hanya akan menjadi solusi jangka pendek terhadap masalah yang dapat terulang kembali di masa depan.
















