Edukasi

Usia Owa Lebih Panjang di Pusat Rehabilitasi, Gibbonesia: Itu adalah Sekolah, Bukan Tujuan Akhir

29/05/2026|Ruhana Maysarotul Muwafaqoh
Siamang bergelantungan di dahan pohon Foto gibbonesiaid - Usia Owa Lebih Panjang di Pusat Rehabilitasi Gibbonesia Itu ada...

Siamang bergelantungan di dahan pohon. | Foto: gibbonesia.id

Gardaanimalia.com - Pagi belum benar-benar matang ketika konser siamang datang dari arah perbukitan. Panjang, melengking, dan berlapis, seolah memantul dari satu lembah ke lembah lain.

Suara siamang selalu terasa seperti pengingat bahwa di balik rimbun yang tak sepenuhnya terlihat, ada kehidupan yang berjalan dengan caranya sendiri. Liar, bebas, dan tak sepenuhnya bisa dijangkau manusia.

Namun, di luar hutan itu, ada kenyataan lain yang tak kalah kuat hingga tiket konser gratis pagi hari tanpa bersusah payah war kian sulit didapat. Siamang (Symphalangus syndactylus) dihadapkan dengan berbagai ancaman untuk tetap menggelar konser. Kanopi hutan sebagai panggung megah dirampas. Diganti dengan sawit yang tak bisa memberikan fungsi utuh ruang gerak siamang.

Uploaded content
Siamang diberi mie instan setelah masuk ke warung di sekitar permukiman warga, hal ini menjadi salah satu akibat penyempitan batas hutan dan permukiman. | Foto: gibbonesia.id

Dalam catatan Gibbonesia–platform media edukasi, kampanye, dan penyadartahuan untuk pelestarian dan perlindungan owa Indonesia–siamang yang hidup di alam liar rata-rata bertahan hingga 25-30 tahun. Sementara, usianya di pusat rehabilitasi bisa lebih panjang bahkan mencapai sekitar 40 tahun. Artinya, angka harapan hidup siamang di pusat rehabilitasi bisa 10-15 tahun lebih panjang dibanding saat hidup di alam liar.

Fakta ini memunculkan pertanyaan menarik, tapi jawabannya ternyata tidak sesederhana angka usia. 

Jika Memungkinan Hidup Lebih Lama, Mengapa Tidak Membiarkan Siamang Tetap di Pusat Rehabilitasi?

Pertanyaan itu terdengar masuk akal, terutama jika kehidupan di alam liar dibayangkan sebagai ruang yang penuh risiko. Mulai dari perburuan siamang untuk dipelihara pribadi, perdagangan ilegal, hingga ancaman terbesar hari ini, yaitu deforestasi, termasuk kawasan konservasi. 

Namun, cara pandang ini juga menyimpan jebakan. Sebab cenderung melihat kehidupan hanya dari seberapa lama ia berlangsung, bukan bagaimana ia dijalani.

Menurut penjelasan Gibbonesia, pada umumnya satwa yang hidup di pusat rehabilitasi memang memiliki angka harapan hidup lebih tinggi dibanding di alam liar. Ada beberapa faktor yang memengaruhi hal tersebut, seperti rendahnya ancaman predator, ketersediaan makanan yang lebih terjamin, serta penanganan kesehatan yang lebih intensif.

“Pusat rehabilitasi harus menjamin animal welfare dengan baik, sehingga hal-hal seperti yang disebutkan, keberadaannya (benar-benar) rendah,” tulis pihak Gibbonesia.

Dalam sistem pusat rehabilitasi, prinsip animal welfare atau kesejahteraan satwa juga harus dipenuhi. Artinya, kebutuhan dasar satwa – mulai dari makanan, kesehatan, hingga kondisi lingkungan – harus diperhatikan agar mereka tetap hidup dengan layak.

“Namun, hal ini tidak berarti satwa lebih baik tinggal di pusat rehabilitasi. Kualitas hidup satwa juga dinilai penting. Karena di habitatnya, satwa bisa lebih bebas mengekspresikan perilaku alaminya, begitu juga dengan adanya fungsi ekologis dari satwa di ekosistem,” lanjutnya.

Gibbonesia memandang kondisi terbaik bagi satwa liar untuk hidup tetaplah bebas di alam, sedangkan ancaman dan kondisi habitat menjadi tanggung jawab bersama bagi manusia untuk memperbaikinya. Siamang tidak harus mengorbankan kebebasannya karena ulah manusia. 

Hutan adalah Rumah, Bukan Sekadar Tempat Tinggal

Kanopi hutan yang selama ini menjadi panggung termegah bagi siamang untuk menggelar konser paginya semakin tergulung. Padahal siamang sendiri adalah satwa arboreal yang hampir seluruh hidupnya berlangsung di atas pohon. Mereka membutuhkan kanopi hutan yang rapat untuk berpindah, mencari makan, dan membangun wilayah sosialnya.

Karena itu, sistem hutan monokultur seperti perkebunan sawit tidak dapat sepenuhnya menggantikan fungsi hutan alami. Pohon sawit tidak menyediakan struktur tajuk yang ideal bagi siamang untuk bergelantung maupun menjelajah, layaknya pohon-pohon besar sebagai ruang untuk menjadi ‘siamang’ sepenuhnya.

Meski begitu, Gibbonesia menilai siamang memiliki daya bertahan hidup yang cukup tinggi. Dalam kondisi tertentu, mereka masih dapat bertahan di petak-petak habitat tersisa dan menyesuaikan pola makan ketika sumber buah berkurang.

“Dari penelitian yang ada, siamang punya jiwa survival yang tinggi dan cenderung makan ujung daun ketika persediaan buah di alam terbatas.” 

Akan tetapi, kemampuan bertahan bukan berarti ancaman telah hilang. Deforestasi tetap menjadi persoalan utama yang mempersempit ruang hidup siamang. Ketika hutan terfragmentasi, jalur pergerakan mereka ikut terputus.

Pada titik tertentu, kehilangan habitat dapat memaksa satwa semakin dekat dengan manusia. Di sinilah risiko perburuan maupun perdagangan meningkat. 

Pusat Rehabilitasi adalah 'Sekolah' bagi Siamang

Salah satu penjelasan menarik dari Gibbonesia adalah cara mereka memandang pusat rehabilitasi. Bagi mereka, pusat rehabilitasi bukan tujuan akhir maupun rumah baru bagi siamang. Ia lebih mirip sekolah, ruang sementara bagi siamang yang diselamatkan.

Di sana, mereka tidak sekadar dirawat, tetapi juga dilatih kembali untuk belajar memanjat, menjaga jarak dari manusia, hingga mengenali kembali ritme hidup yang pernah hilang. Pusat rehabilitasi adalah sekolah bagi satwa untuk mengembalikan ‘binatangisme’ sehingga mereka bisa dilepasliarkan kembali.

“Satwa yang berada di pusat rehabilitasi akan ada klasifikasi tertentu yang tidak memungkinkan mereka untuk bertahan hidup di alam liar, contohnya jika siamang ada kecacatan fisik. Untuk hal-hal yang bisa diperbaiki seperti mengembalikan sifat liar, mereka (siamang) yang berada di pusat rehabilitasi bisa dilepasliarkan kembali ke alam,” tuturnya.

Uploaded content
Penyerahan siamang bernama Rio setelah dipelihara warga Kulon Progo, DIY selama 5 tahun. | Foto: gibbonesia.id

Dalam bayangan ideal, sekolah ini memiliki kelulusan. Siamang yang pulih dengan indikasi mampu kembali mengekspresikan perilaku alaminya, akan dilepasliarkan. Mereka kembali ke hutan, ke kanopi yang luas, ke suara yang dulu mereka kenal sebagai bahasa sehari-hari. Namun, seperti sekolah pada umumnya, tidak semua murid bisa lulus. 

Sebagian besar siamang di pusat rehabilitasi berasal dari hasil sitaan atau penyerahan masyarakat. Banyak dari mereka sebelumnya dipelihara manusia secara ilegal. Akibatnya, sebagian kehilangan sifat liar, mengalami trauma psikologis, atau bahkan memiliki gangguan kesehatan fisik.

Dalam kondisi seperti ini, pelepasliaran bukan lagi pilihan yang aman – baik bagi siamang itu sendiri maupun bagi ekosistem.

Adapun bagi siamang yang berada di alam liar atau yang telah dilepasliarkan setelah berada di pusat rehabilitasi, tidak boleh dipisahkan dari habitatnya. Sebab, primata yang memiliki jari sindaktili ini dilindungi oleh UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE).

Status konservasi siamang di Daftar Merah IUCN adalah endangered atau terancam. Primata ini juga termasuk ke dalam Apendiks I CITES. Perburuan dan penjeratan bisa jadi tindak pidana nantinya. 

Uploaded content
Pelepasliaran siamang (dalam kandang biru) yang berasal dari translokasi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tegal Alur BKSDA DKI Jakarta ke tempat penyelamatan satwa (TPS) BKSDA Jambi di Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. | Foto: gibbonesia.id

Dilema Ini Bukan Pilihan yang Setara

Jika melihat kenyataan tersebut, maka dilema antara ‘usia panjang di pusat rehabilitasi’ dan ‘kebebasan di alam liar’ sebenarnya bukan pilihan yang setara.

“Pusat rehabilitasi adalah solusi dari masalah yang diakibatkan oleh manusia sendiri. Maka yang kita harapkan juga tidak ada lagi satwa liar yang diperdagangkan dan dipelihara, supaya mereka bisa bebas dan sehat di alam,” tegas Gibbonesia.

Dalam konteks ini, pusat rehabilitasi menjadi tanda bahwa ada rantai yang terputus di alam. Yang perlu diselamatkan bukan hanya individu siamang, tetapi juga rumah mereka. Hutan yang memungkinkan mereka tetap hidup sebagai satwa liar.

Optimisme terhadap masa depan siamang masih ada. Gibbonesia percaya bahwa dengan perlindungan habitat, edukasi publik, dan penghentian perdagangan satwa liar, siamang tetap memiliki peluang untuk lestari di tengah berbagai tantangan.