Sebuah Upaya Mencegah Gelombang Kepunahan Primata Indonesia

  • Share
Ilustrasi orangutan sumatera (Pongo abelii). | Foto: hgubatz/Pixabay
Ilustrasi orangutan sumatera (Pongo abelii). | Foto: hgubatz/Pixabay

Gardaanimalia.com – Primata memiliki peran yang begitu signifikan dalam kehidupan manusia dan alam liar. Spesies ini berjasa besar dalam penyebaran benih tanaman-tanaman ekosistem hutan tropis.

Mereka juga berkontribusi dalam perluasan ilmu pengetahuan manusia di berbagai bidang, di antaranya adalah bidang biologi, ekologi, kesehatan, hingga perilaku manusia.

Namun, sangat disayangkan saat mengetahui fakta bahwa spesies primata tersebut lambat laun terancam menghilang dari muka bumi ini.

Penilaian terkini dari konservasi primata global menunjukkan bahwa separuh dari spesies primata di seluruh dunia mendekati kepunahan akibat aktivitas umat manusia yang semakin tidak ramah lingkungan.[1]Alejandro Estrada, Paul A. Garber et al. (18 Januari 2017).Impending extinction crisis of the world’s primates: Why primates matter
https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.1600946

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Di negara kita sendiri, kelompok satwa ini terus tersudutkan ke jurang kepunahan dengan berbagai masalah yang semakin runyam.

Salah satu penelitian terbaru memberi kita suatu gambaran yang sangat mengkhawatirkan bagi masa depan primata Indonesia.

Penelitian tersebut dari IPB University yang memperkirakan bahwa separuh spesies primata Indonesia akan punah pada tahun 2050 akibat perubahan iklim.[2]Aryo Adhi Condro, Lilik Budi Prasetyo et al. (15 Februari 2021). Predicting Hotspots and Prioritizing Protected Areas for Endangered Primate Species in Indonesia under Changing … Continue reading

Penelitian ini mengungkapkan bahwa orangutan sumatera, kukang jawa, beserta 30 spesies primata Indonesia akan lenyap karena terjadi eksploitasi yang sangat berlebihan terhadap habitat mereka.

Tak hanya itu, aktivitas manusia juga disebut menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan intensitas perubahan iklim semakin bertambah.

Aryo Adhi Condro, Kandidat Doktor IPB sekaligus salah satu penulis studi ini menjelaskan bahwa sekitar 37 jenis primata akan menyusut habitatnya sekitar 90% dari kondisi saat ini akibat dari perubahan iklim pada tahun 2050.

BACA JUGA:
Kala Harimau dalam Lindungan Kearifan Lokal

Penyusutan habitat akan memberi tekanan besar bagi primata-primata yang tidak memiliki kecakapan beradaptasi dalam lingkungan yang baru (dispersal capability), seperti orangutan sumatera.

Selain penyusutan lahan, kenaikan suhu regional yang tinggi juga diyakini memberi beban berat bagi kehidupan primata. Fenomena ini dipercaya menyebabkan penurunan metabolisme dan penurunan laju reproduksi kelompok satwa tersebut.[3]I-Ching Chen, Jane K.Hill et al.(19 Agustus 2011). Rapid Range Shifts of Species Associated with High Levels of Climate Warming.https://www.science.org/doi/abs/10.1126/science.1206432

Lebih dari itu, apabila kelimpahan pakan di dalam habitat mereka menurun, maka hal tersebut pun dinilai dapat meningkatkan ancaman kepunahan kelompok primata.

Aryo Adhi Condro beserta para peneliti yang memprediksi hal ini juga menyarankan untuk efektivitas kawasan-kawasan konservasi primata, seperti taman nasional.

Menurutnya, peningkatan efektivitas ini dapat dilakukan melalui penanaman vegetasi alami atau endemik kawasan konservasi tersebut.[4]Aryo Adhi Condro. (25 Januari 2022). Bagaimana mencegah gelombang kepunahan primata Indonesia pada 2050 mendatang?. … Continue reading

Di mana vegetasi ini dapat dimanfaatkan untuk sumber pakan dan perlindungan bagi primata dan satwa-satwa di kawasan tersebut.

Lain daripada itu, mereka juga mengindikasikan beberapa kawasan konservasi yang memiliki stabilitas iklim dan kualitas vegetasi yang baik bagi primata untuk menjaga kelangsungan hidup mereka dari ancaman saat ini maupun di masa mendatang.

Di samping hal tersebut, mereka merekomendasikan penetapan Kawasan Ekosistem Esensial, yakni area dengan nilai konservasi tinggi, tapi berada di luar kawasan konservasi.[5]Ibid

Contohnya: lahan basah, koridor kehidupan liar, dan taman keanekaragaman hayati. Yang mana pengelolaan area ini dapat dilakukan oleh masyarakat, pemerintah daerah, hingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Area di luar kawasan konservasi ini dinilai krusial, mengingat sekitar 70% satwa liar dilindungi justru hidup di luar kawasan tersebut, seperti orangutan kalimantan.[6]LIPI. (11 Februari 2009). Kebanyakan Orangutan Hidup di Luar Kawasan Konservasi. http://lipi.go.id/berita/single/kebanyakan-orangutan-hidup-di-luar-kawasan-konservasi/4181

Secara biologis, primata adalah hewan yang memiliki kekerabatan paling dekat dengan manusia.

BACA JUGA:
BKSDA Jemput Siamang di Deli Serdang

Menjaga keberlangsungan hidup mereka tidak hanya menjaga keberlanjutan tatanan alam dan kehidupan liar, namun juga melindungi kerabat kita yang turut memperluas cakrawala ilmu pengetahuan dan kehidupan umat manusia seperti sekarang.

Referensi[+]

  • Share
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments