Edukasi

Bagaimana GPS Membantu Mengungkap Informasi tentang Elang Jawa?

26/12/2025|Bayu Nanda
Proses pemasangan GPS untuk Raja Dirgantara Di kepalanya terpasang raptor hood yang bertujuan agar satwa tidak stres dan t...

Proses pemasangan GPS untuk Raja Dirgantara. Di kepalanya terpasang raptor hood yang bertujuan agar satwa tidak stres dan tetap tenang. | Foto: dokumentasi Oki Hidayat

Gardaanimalia.com - Tahukah kamu bahwa ada gajah dan harimau yang mengenakan “kalung”? Namun, ini bukan kalung biasa! Kalung tersebut berfungsi menangkap beragam informasi penting tentang satwa liar. 

Kalung itu adalah GPS Collarmerupakan teknologi pelacak berbentuk kalung yang bekerja dengan prinsip Global Positioning System (GPS) untuk mendeteksi posisi satwa.

Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) dewasa bernama Lestari yang hidup di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dipasangkan GPS Collar pada 19 Juli 2024.

Teknologi serupa juga pernah digunakan pada harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) korban konflik sebelum dilepasliarkan kembali ke alam pada 29 Juli 2024, yaitu Puti Malabin.

Penggunaan GPS Collar dalam tiga dekade terus meningkat untuk melacak mamalia berukuran menengah hingga besar. Tujuannya antara lain untuk mempelajari pergerakan satwa, habitat, serta mitigasi konflik satwa dan manusia.

Jika pada mamalia GPS berbentuk kalung, maka pada kelompok aves GPS hadir dalam bentuk backpack atau ransel. 

Ransel inilah yang melekat di punggung Raja Dirgantara, seekor elang jawa (Nisaetus bartelsi) yang dilepasliarkan di kawasan Danau Situ Gunung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada 13 Desember 2025.

Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pun terpilih menjadi tempatnya pulang, setelah Raja Dirgantara memperoleh skor kelayakan 405 berdasarkan standar perhitungan para peneliti dan pemerhati elang untuk menentukan kelayakan pelepasliaran.

Skor tersebut diraih setelah Raja Dirgantara menjalani rehabilitasi di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa (PPKEJ) Cimungkad selama satu tahun tiga bulan hingga insting liarnya kembali aktif.

Sebelumnya, Raja Dirgantara diserahkan oleh seorang warga Cianjur pada September 2025. Saat itu, ia belum genap berusia satu tahun dan masih menunjukkan perilaku jinak.

Sebagaimana GPS Collar pada harimau dan gajah, alat ini mampu mendeteksi posisi elang jawa setelah dilepasliarkan. Namun, fungsinya tidak berhenti di situ. GPS ini diharapkan dapat membuka “tabir” pengetahuan tentang elang jawa yang selama ini masih menjadi misteri.

Penggunaan GPS Tak Abai Animal Welfare

Uploaded content
GPS berbetuk backpack yang dipasang untuk Raja Dirgantara. | Foto: dokumentasi Oki Hidayat

Pemasangan GPS pada satwa liar tidak dilakukan secara sembarangan. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Oki Hidayat, memastikan bahwa penggunaan alat ini telah mempertimbangkan aspek kesejahteraan satwa.

“Kalau dari hasil kajian dan pengalaman di lapangan, berat GPS tidak lebih dari 3-5 persen bobot burung. GPS Raja Dirgantara kurang lebih sekitar 20 gram, ringan sekali dan kecil,” kata Oki, Minggu (14/12/2025).

Tali yang mengikat GPS pada tubuh elang juga dirancang agar dapat rapuh dalam jangka waktu sekitar lima tahun, menyesuaikan usia pakai alat tersebut. Dengan demikian, GPS tidak akan menempel permanen pada tubuh elang.

“Jadi, bukan tali yang berumur panjang, apalagi alatnya akan kena panas matahari. Kurang lebih, ya, dalam jangka waktu paling lama 5 tahun, si tali itu akan rapuh,” jelasnya.

Selain itu, pemasangan tali juga memperhitungkan jarak toleransi sekitar 1 hingga 2 sentimeter dari tubuh elang. Jarak ini memberi ruang ketika tubuh elang bertambah besar, sekaligus mencegah alat menjadi terlalu longgar dan lepas.

Oki menjelaskan bahwa Raja Dirgantara merupakan elang jawa pertama di Indonesia yang menggunakan GPS raptor berbasis GSM (Global System for Mobile Communications).

Sebelumnya, Indonesia sempat menggunakan GPS dengan sistem satelit Argos untuk memantau elang yang dilepasliarkan. Namun, setelah dievaluasi, data yang dihasilkan dinilai kurang optimal dan lebih sesuai untuk raptor migran.

Tak hanya itu, biaya penggunaan GPS sistem Argos juga lima hingga tujuh kali lebih mahal dibandingkan GPS berbasis GSM.

GPS berbasis GSM dipasangkan pada tubuh Raja Dirgantara pada Selasa (9/12/2025), hari yang sama dengan proses translokasi dari PPKEJ Cimungkad ke kandang habituasi di tepi Danau Situ Gunung.

Oki bersama dua peneliti lainnya, Prof. Pramana Yuda dari Universitas Atma Jaya dan Usep Suparman dari Raptor Conservation Society, memasang GPS tersebut sekitar lima hari sebelum pelepasliaran untuk memantau satwa dan alatnya.

“Artinya, kita memonitor si elang kondisinya dengan alat yang dipasang itu oke atau tidak. Kedua, alatnya bekerja atau tidak. Setelah si elang kita translokasi, kita ambil juga sampel darah untuk uji genetik selanjutnya,” papar Oki.

Mengisi Gap Knowledge Elang Jawa

Uploaded content
Proses pemasangan GPS pada elang jawa. Alat ini diharapkan dapat memberikan banyak informasi ekologis elang jawa. | Foto: dokumentasi Oki Hidayat

Oki memaparkan bahwa terdapat dua sensor utama yang aktif pada GPS, yakni sensor posisi dan ketinggian, serta sensor kecepatan terbang elang. Data yang dikumpulkan dari dua sensor ini diharapkan mampu mengisi gap knowledge tentang elang jawa, termasuk terkait akurasi estimasi populasinya.

Dalam lokakarya Peringatan Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa yang digelar pada 11–12 Desember 2025 di IPB International Convention Center, Oki menjelaskan bahwa estimasi populasi elang jawa selama ini diperoleh melalui pemodelan data hasil kompilasi catatan lapangan dari peneliti, konservasionis, dan pemerhati elang.

Menurutnya, meski data yang tersedia sudah cukup banyak, tetapi metode pengumpulan data yang digunakan belum sepenuhnya terstandar dan sistematis.

“Makanya kemarin dikompilasi data, pendekatan yang digunakan adalah dengan memodelkan. Namun, kembali lagi, untuk mendapatkan nilai akhir estimasi populasi itu sebenarnya dibutuhkan validasi di lapangan,” ujarnya.

Estimasi populasi ini berkaitan erat dengan home range atau wilayah jelajah elang jawa. Luas home range dapat menjadi indikator jumlah individu optimal di suatu kantong habitat.

Penelitian terdahulu mendapatkan nilai home range melalui observasi lapangan dan metode triangulasi. Kini, dengan bantuan GPS, seluruh titik pergerakan seekor elang jawa dapat direkam secara detail sehingga luas wilayah jelajahnya dapat diidentifikasi dengan lebih akurat.

“Inilah yang mengisi gap knowledge itu. Ketika sudah dapat clear ukuran home range secara akurat dengan teknologi GPS, kita nanti bisa mengoptimalkan hasil pemodelan yang sudah dilakukan,” kata Oki.

Data GPS juga dapat mengungkap preferensi habitat elang jawa, pola perilaku, serta cara mereka memanfaatkan energi.

Misalnya, diketahui bahwa elang jawa menyukai wilayah perbatasan antara hutan dan kebun. Maka para peneliti dapat mencari tahu, apa yang menyebabkan elang suka mengitari daerah tersebut, apakah ketersediaan pakan lebih melimpah dan tingkat ancaman rendah?

Selanjutnya, Kementerian Kehutanan maupun UPT terkait bisa mengambil kebijakan dengan memperkuat patroli di wilayah-wilayah tersebut.

Dengan melimpahnya informasi ekologis dan pembaruan perkiraan populasi elang jawa, implikasinya bisa panjang: asesmen kembali status IUCN elang jawa dan pengambilan kebijakan oleh para pemangku kepentingan untuk mendukung upaya konservasi lebih efektif.