Edukasi

Mengingat Kematian Dua Harimau Benggala karena Panleukopenia, Penyakit Apa Itu?

30/04/2026|Irvan Sjafari
Ilustrasi harimau benggala di Kebun Binatang Bandung Foto bandunggoid - Mengingat Kematian Dua Harimau Benggala karena Pa...

Ilustrasi harimau benggala di Kebun Binatang Bandung. | Foto: bandung.go.id

Gardaanimalia.com - Kebun Binatang Bandung dan para pencinta satwa liar berduka cita. Sebulan lalu, tepatnya 26 Maret 2026, dua anak harimau benggala dinyatakan tewas akibat penyakit feline panleukopenia.

Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat Eri Mildranaya mengumumkan kedua anakan harimau itu terjangkit penyakit panleukopenia.

Kedua harimau dilaporkan meninggal pada pagi hari, bertepatan dengan pergantian jadwal piket petugas. Sebelumnya, sempat muncul harapan setelah salah satu anakan menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Eri menyitir tim dokter hewan yang mengatakan peluang hidup biasanya meningkat jika satwa mampu bertahan lebih dari 48 hingga 72 jam. Namun, kondisi salah satu anakan kembali menurun drastis hingga akhirnya tidak tertolong.

Gejala yang muncul pada kedua harimau antara lain muntah, diare, hingga feses berdarah menunjukkan indikasi kuat infeksi virus yang menyerang sistem pencernaan dan imunitas.

Menanggapi kejadian ini, pihak kebun binatang langsung melakukan langkah antisipatif, termasuk pembersihan kandang secara menyeluruh serta penyemprotan disinfektan secara intensif guna mencegah penyebaran virus.

“Kami sangat berduka. Kedua anak harimau ini bukan sekadar satwa tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung,” ujar Eri di Kebun Binatang Bandung, Kamis 26 Maret 2026

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengaku sangat terpukul atas kejadian itu. Ia menyebut, hasil pemeriksaan para ahli menunjukkan kedua anak harimau terinfeksi virus yang dalam sepekan terakhir berkembang sangat ganas dan bersifat akut.

“Ini sangat memprihatinkan dan menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Meski panleukopenia tergolong virus yang umum, tetapi ketika menyerang kucing besar usia muda, tingkat fatalitasnya sangat tinggi,” kata Farhan.

Pakar penyakit satwa liar drh. Sugeng Dwi Hastono dari Forum HarimauKita dan Amanah Veterinary Services ketika dihubungi Garda Animalia pada 27 Maret 2026, mengatakan feline panleukopenia adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat mematikan. Virus dari famili Parvovirus ini sangat mudah menyerang dan menular pada kelompok keluarga kucing.

Penyakit ini mengakibatkan gangguan sistem pencernaan dan kemerosotan berbagai jenis sel darah putih (kekebalan tubuh) kucing, sehingga sering berakhir pada kematian. Semua cairan yang keluar dari individu yang terinfeksi merupakan sumber penularan bagi individu lainnya.

Satwa Indonesia yang mungkin berisiko terserang penyakit tersebut adalah keluarga kucing (subordo Feliformia), antara lain harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), macan tutul (Panthera pardus melas), macan dahan (Neofelis sp.), kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), berbagai jenis musang - binturong, dan lain sebagainya.

“Penyakit yang sebelumnya tidak ada, kemudian muncul dan menyerang pada satwa, ini menandakan bahwa ancaman penyakit (baru) itu sesuatu yang pasti. Namun, kapan akan terjadi sulit diprediksi, termasuk di Indonesia,” tutur Sugeng.

Kehadiran dan munculnya virus panleukopenia menandakan bahwa lingkungan satwa yang terinfeksi telah tercemar oleh virus. Dibutuhkan desinfektan tertentu untuk dapat membunuh virus yang sangat berbahaya bagi kelompok kucing ini.

“Kabar tidak baiknya, secara prinsip hampir sebagian besar virus tidak bisa dibunuh dengan obat. Untuk itu fluid therapy dan supportif therapy diharapkan mampu meningkatkan daya tahan tubuh (sel darah putih) sehingga individu yang terserang bisa bertahan melawan virusnya hingga menuju kesembuhan,” ungkapnya.

Sugeng mengatakan isolasi (karantina) individu yang terinfeksi sangat penting dilakukan untuk meminimalisir penularan dan penyebaran penyakit.

Untuk satwa captive (dalam kurungan, seperti kebun binatang), vaksinasi perlu dipertimbangkan dan dikaji sebagai salah satu upaya pengebalan terhadap penyakit tersebut. Pembatasan pengunjung untuk mendekat ke satwa, penerapan sanitasi dan desinfeksi yang ketat diharapkan bisa meminimalisir ancaman penyakit pada satwa captive.

Sayangnya, hutan sebagai habitat alami harimau sumatera dan berbagai jenis keluarga kucing, tentu tidak mudah untuk dijaga dari ancaman penyakit.

Pelajaran yang bisa dipetik ialah untuk memastikan semua pihak yang bertugas di kawasan konservasi (tim patroli, peneliti dan sebagainya) harus dalam kondisi bersih dan tidak tercemar dari agen penyakit sangat mutlak diperlukan guna memastikan tidak adanya ancaman penyakit.

Ia melanjutkan, penting juga untuk memastikan tidak ada kucing peliharaan masyarakat (atau yang menjadi liar) yang berpotensi membawa atau menularkan penyakit masuk ke dalam kawasan konservasi.

Begitu juga satwa yang keluar dari kawasan karena mencari mangsa atau berkonflik di pemukiman, merupakan faktor risiko tertular berbagai penyakit dari lingkungan tinggal manusia.

Surveilance dan kajian atas penyakit panleukopenia di sekitar kawasan konservasi juga penting dilakukan untuk antisipasi dan menyusun strategi terbaik yang akan datang,” simpul Sugeng.