Mendalam

Mengurai Benang Kusut Konflik Harimau dan Manusia di Matur, Kabupaten Agam

08/05/2026|Andri Mardiansyah
Seekor harimau yang terekam kamera jebak Foto Andri Mardiansyah - Mengurai Benang Kusut Konflik Harimau dan Manusia di Ma...

Seekor harimau yang terekam kamera jebak. | Foto: Andri Mardiansyah

Gardaanimalia.com - Konflik antara harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dengan masyarakat di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, memasuki fase kritis sejak 2 Mei 2026.

Seekor harimau dilaporkan masuk ke area perkebunan warga di dua lokasi berbeda, yakni Jorong Taruyan, Nagari Tigo Balai dan Jorong Matua Katik, Nagari Matua Hilia.

Interaksi negatif ini terjadi pada Sabtu 2 Mei 2026. Suasana Kampung Taruyan yang tenang seketika pecah saat sepasang lansia, Samsuir (74) dan Syafmiati (57), bersama keponakan mereka, Pendi (40), berhadapan langsung dengan satwa pemuncak yang dijuluki "Inyiak Balang" saat sedang beraktivitas di kebun.

Ketiganya terjebak dalam situasi mencekam. Berada tepat di tengah zona merah konflik, Samsuir beserta keluarga terkurung oleh rasa takut yang hebat. Mereka tak berani melangkah setapak pun untuk keluar dari kebun lantaran sang predator tetap bergeming di sekitar lokasi mereka berada.

Laporan darurat tersebut segera direspons cepat oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melalui Resor Konservasi Wilayah II Maninjau. Dibantu tim Patroli Anak Nagari (Pagari) Baringin dan Salareh Aia, proses evakuasi dilakukan pukul 13.00 WIB hingga akhirnya ketiga warga itu berhasil diselamatkan dalam kondisi trauma.

Pasca-evakuasi, tim gabungan tetap bersiaga di lokasi untuk memulai operasi penanganan konflik. Fokus utama tim adalah mengamankan zona bahaya guna memastikan keselamatan satwa maupun warga. Dampaknya, aktivitas pertanian masyarakat yang biasanya dimulai sejak pagi hari kini terhenti total.

Uploaded content
Patroli yang dilakukan oleh tim gabungan merespons laoran keberadaan harimau sumatera di area perkebunan. | Foto: Andri Mardiansyah

Selang empat hari kemudian, tepatnya Selasa (5/5/2026), tim gabungan kembali mengevakuasi 10 petani yang mengalami nasib serupa di Jorong Matua Katik, Nagari Matua Hilia. Para petani yang tengah menggarap sawah tersebut terkejut melihat penampakan harimau muncul secara tiba-tiba di dekat lahan garapan mereka.

Sejak insiden itu hingga Kamis (7/5/2026), monitoring intensif dilakukan secara berkala pada pagi, siang, hingga malam hari. Langkah ini diambil karena laporan kemunculan harimau terus meluas dan mulai mendekati area sensitif di sekitar permukiman warga.

Upaya Penghalauan Belum Membuahkan Hasil

Investigasi lapangan menunjukkan pola pergerakan satwa ini sudah melintasi batas perkebunan. Berdasarkan data awal, petugas memastikan bahwa individu harimau yang muncul di Matua Katik merupakan individu yang sama dengan yang muncul di Taruyan beberapa hari sebelumnya.

Selain upaya penghalauan, langkah teknis berupa pemasangan camera trap (kamera jebak) di titik-titik strategis yang terindentifikasi menjadi area perlintasan juga dilakukan. Kamera ini diharapkan mampu menangkap citra visual untuk mengidentifikasi perilaku, usia, jenis kelamin, hingga kondisi fisik satwa sebagai basis penentuan langkah mitigasi selanjutnya.

Namun, upaya penghalauan selama sepekan terakhir belum membuahkan hasil maksimal. Harimau tersebut tampak mulai "terbiasa" berada di area budidaya, sebuah anomali perilaku yang diduga dipicu oleh menyempitnya ruang hutan serta ketersediaan pakan berupa ternak kerbau milik warga yang cukup banyak di kawasan tersebut.

Uploaded content
Pengecekan kamera jebak di Jorong Tarayun. | Foto: Andri Mardiansyah

Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumbar, Ade Putra, menyebut kondisi yang kian tidak kondusif memaksa pihaknya mengambil langkah pamungkas. Protokol penanganan konflik kini dinaikkan ke tahap evakuasi fisik dengan pemasangan kandang jebak.

"Kandang jebak dipasang sebagai langkah terakhir karena upaya penghalauan tak berdampak signifikan. Hasil tangkapan visual kamera dan temuan jejak mengindikasikan harimau ini masih menetap di area perkebunan, sehingga opsi ini diambil demi keselamatan satwa dan warga," kata Ade Putra, Kamis (7/5/2026).

Ade menjelaskan bahwa kemunculan harimau di Taruyan dipicu oleh tekanan individu lain dari lanskap Palupuh. Karena lanskap Taruyan berhubungan langsung dengan Palupuh dan Pasaman, individu yang mulanya berada di Koto Rantang dan Pasis Laweh bergeser mencari wilayah baru.

Secara ekologi, perilaku harimau yang diprediksi masih anakan berusia dibawah 2 tahun ini, dinilai masih dalam tahap normal sebagai satwa yang sedang melakukan orientasi di habitat baru.

Meski demikian, tim gabungan tetap mengimbau warga untuk menghentikan aktivitas di ladang serta membatasi kegiatan di luar rumah pada sore hingga malam hari.

Ancaman Hilangnya Insting Liar

Praktisi sekaligus dokter hewan, Daniel Sianipar, menilai kelainan perilaku harimau yang kehilangan insting menghindari manusia merupakan ancaman serius. Menurutnya, fenomena di Taruyan dan Matua Katik ini adalah sinyal adanya gangguan berat pada lingkungan dan kesehatan satwa tersebut.

"Secara alami, harimau bersifat soliter dan teritorial. Tekanan ekstrem berupa kerusakan habitat atau kurangnya wilayah teritori dan kelangkaan mangsa, terkadang memaksa harimau keluar dari hutan menuju permukiman demi bertahan hidup," ujar Daniel Sianipar.

Selain faktor ekosistem, Daniel menyoroti risiko serangan penyakit seperti Canine Distemper Virus (CDV) yang menyerang sistem saraf dan memicu disorientasi. Kelemahan fisik akibat usia atau cedera juga bisa menjadi alasan satwa beralih memburu mangsa yang lebih mudah didapat, seperti ternak.

Proses inilah yang menciptakan respons adaptif harimau untuk terpapar lingkungan permukiman. Situasi ini sangat berbahaya karena meningkatkan risiko kontak fisik mematikan sekaligus mengancam kelangsungan hidup populasi harimau di alam liar secara jangka panjang.

Daniel menambahkan, interaksi yang berulang di zona penyangga menciptakan proses pembiasaan atau habituation. Harimau mulai kehilangan rasa takut terhadap aroma, suara, dan kehadiran manusia, yang secara drastis menurunkan ambang batas konflik.

Ketika harimau tidak lagi melihat manusia sebagai ancaman, risiko serangan mematikan meningkat tajam. Kondisi ini seringkali berakhir tragis, baik bagi manusia maupun bagi harimau itu sendiri yang kerap menjadi korban tindakan defensif atau penurunan kondisi kesehatan.

"Memperbaiki integritas habitat adalah langkah mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Kita harus mencegah predator puncak ini punah akibat rusaknya rumah alami mereka," tegas Daniel.

Evakuasi Tidak Direkomendasikan Sebelum Ada Kajian Mendalam

Koordinator Biodiversity Team SINTAS Indonesia, Fernando Dharma, menyebutkan adanya beberapa aspek krusial terkait interaksi negatif yang terjadi di Kabupaten Agam.

Berdasarkan temuan Closed Circuit Television (CCTV) di area Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Koto Tabang serta kamera pengintai milik BKSDA Sumatera Barat dan tim Patroli Anak Nagari (PAGARI), teridentifikasi adanya perilaku induk harimau sumatera yang sedang mengasuh anak dalam usia sapih.

Menurut Fernando, pada fase ini anak harimau masih dalam proses pengasuhan dan pembelajaran dari induknya, sehingga keduanya tidak boleh dipisahkan. Interaksi tersebut terjadi di kawasan Hutan Lindung Palupuh dan Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. Lantaran lokasi ini sangat berdekatan dengan ladang dan permukiman, maka upaya penanganan yang perlu diprioritaskan saat ini adalah tindakan penghalauan.

"Perlu menjadi perhatian khusus bahwa individu yang berkonflik adalah anak harimau, sehingga evakuasi sangat tidak direkomendasikan sebelum adanya kajian mendalam terlebih dahulu," tegas Fernando Dharma.

Uploaded content
Pemasangan kandang jebak untuk mengevakuasi harimau. | Foto: Andri Mardiansyah

Ia menambahkan bahwa Yayasan SINTAS Indonesia telah melakukan pemantauan satwa, termasuk harimau sumatera, di Bentang Alam Palupuh Agam dan Lima Puluh Kota sepanjang 2025 lalu.

Hasilnya, harimau betina (induk) yang sedang membawa anak tersebut merupakan individu residen di Bentang Alam Palupuh Agam. Hal ini dibuktikan melalui histori deteksi individu yang sama pada 2021 dan 2025.

Fernando mencontohkan, pola konflik serupa pernah terjadi di Nagari Batang Barus dan Nagari Gantung Ciri, Kabupaten Solok. Penanganan interaksi negatif di Gantung Ciri kala itu dilakukan dengan mengevakuasi dua anak harimau (Putra dan Putri Singgulung) yang masih dalam usia sapih. Namun, dalam kasus tersebut, kedua individu itu terbukti belum mampu bertahan hidup secara mandiri di alam setelah dilepasliarkan.

Oleh sebab itu, diperlukan kolaborasi multipihak antara BKSDA, pemerintah daerah, organisasi non-profit, pemerintah nagari, PAGARI, serta masyarakat luas dalam menanggulangi interaksi negatif antara manusia dan harimau ini.

"Masyarakat juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak beraktivitas sendirian di ladang, serta memanfaatkan bunyi meriam sebagai salah satu upaya penghalauan satwa guna meminimalkan potensi konflik saat terjadi interaksi negatif," tutup Fernando Dharma.