Opini

Warisan Jane Goodall: Dari Hutan Gombe ke Masa Depan Planet

26/10/2025|Randi Syafutra
Ilustrasi Jane Goodall dan simpanse. | Foto: shutterstock

Ilustrasi Jane Goodall dan simpanse. | Foto: shutterstock

Gardaanimalia.com - Dame Jane Morris Goodall DBE, sebelumnya bernama Baroness Jane van Lawick-Goodall, atau dikenal sebagai Jane Goodall, menutup usia di California, Amerika Serikat pada 1 Oktober 2025.

Kabar wafatnya perempuan yang sejak lama menjadi wajah harapan konservasi satwa liar itu segera menyebar ke berbagai media internasional. Dunia sains, aktivis lingkungan, hingga generasi muda yang terinspirasi oleh gerakan Roots & Shoots serentak merasa kehilangan. 

Seorang peneliti yang sejak awal dianggap berbeda dalam pendekatan, kini menjadi nama yang tidak hanya diingat dalam literatur akademik, tetapijuga dalam ruang diskusi publik, kelas-kelas sekolah, hingga kampanye global tentang penyelamatan bumi.

Goodall lahir di London pada 3 April 1934. Sejak kecil ia sudah menunjukkan ketertarikan luar biasa pada hewan dan alam. Ketika sebagian anak seusianya sibuk dengan boneka, ia memilih membawa buku-buku tentang satwa dan mengamati perilaku hewan di sekitarnya.

Ia tumbuh dengan kondisi neurologis yang disebut prosopagnosia, sebuah kesulitan dalam mengenali wajah orang. Namun, hal itu tidak menjadi penghalang dalam membangun karier. Justru ia mengasah kepekaan terhadap perilaku dan gerak tubuh makhluk hidup lain.

Pada 1960, Goodall yang masih berusia 26 tahun berangkat ke Afrika Timur. Taman Nasional Gombe Stream di Tanzania menjadi laboratorium hidupnya. Tidak ada laboratorium tertutup dengan peralatan modern, tidak ada pagar yang membatasi jarak antara peneliti dengan subjek. Hutan adalah ruang utama. Di situlah ia menulis ulang tafsir tentang hubungan manusia dengan primata.

Penelitiannya awalnya dianggap aneh oleh sebagian besar komunitas ilmiah. Saat itu standar akademik lebih menyukai angka, kode, dan data yang kaku.

Akan tetapi, Goodall justru memberi nama pada simpanse yang ditelitinya, bukan nomor. Ia mencatat karakter, kebiasaan, dan ikatan emosional antarindividu.

Ia menemukan bahwa simpanse memiliki kepribadian, bisa menggunakan alat, bahkan memiliki tradisi sosial yang diwariskan.

Temuan itu mengguncang dunia sains. Untuk waktu yang lama, manusia dianggap satu-satunya makhluk pembuat alat. Data Goodall membantah anggapan itu.

Dari situlah reputasi Goodall mengalir. Riset di Gombe berkembang menjadi studi jangka panjang yang kini tercatat sebagai salah satu riset satwa liar terlama di dunia. Lebih dari 165.000 jam pengamatan lapangan terkumpul, melibatkan ratusan peneliti dan ribuan catatan detail.

Menurut data Jane Goodall Institute (JGI), lebih dari 320 individu simpanse pernah menjadi bagian dari basis data penelitian. Observasi ini tidak hanya membicarakan soal perilaku makan atau kawin, melainkan juga perang antar kelompok, strategi berburu, ikatan ibu-anak, dan bahkan perasaan duka ketika kehilangan anggota.

Pada 1986, titik balik terjadi. Dalam sebuah konferensi ilmiah, Goodall disodori data yang menunjukkan ancaman serius terhadap simpanse. Deforestasi menggerus hutan Afrika. Perburuan ilegal dan perdagangan daging satwa liar semakin merajalela. Populasi simpanse yang dulunya jutaan, kini tinggal sekitar 340.000 di seluruh Afrika.

Fakta itu mengguncang hatinya. Sejak saat itu, ia beralih peran. Dari peneliti murni, Goodall menjelma menjadi advokat global. Ia keliling dunia, berbicara tentang konservasi, memberi inspirasi bahwa setiap orang bisa berkontribusi.

Menolak Narasi Pesimisme

Jane Goodall Institute didirikan pada 1977 untuk mengawal penelitian di Gombe sekaligus memperluas misi konservasi. Salah satu program terbesarnya adalah Roots & Shoots, diluncurkan pada 1991. Gerakan ini berfokus pada generasi muda, mendorong anak-anak dan remaja untuk membuat proyek nyata di bidang satwa, lingkungan, dan masyarakat.

Hingga kini Roots & Shoots aktif di lebih dari 60 negara. Model ini sederhana, tetapi revolusioner: memulai perubahan dari skala kecil, melibatkan generasi muda sebagai agen, lalu menjalin jaringan global.

Pendekatan Goodall yang penuh empati kerap dipuji sekaligus dikritik. Bagi kalangan konservatif akademik, memberi nama pada simpanse dianggap subjektif. Namun, justru karena pendekatan itu, masyarakat luas merasa terhubung. Simpanse tidak lagi dilihat sekadar data statistik, melainkan individu yang punya cerita. Publik mulai peduli, bahkan yang tidak berlatar belakang sains sekalipun.

Data terbaru menunjukkan bahwa ancaman pada simpanse dan ekosistem Afrika masih serius. Menurut laporan The Guardian pada Juni 2025, proyek konservasi besar bernama Hope Through Action yang dijalankan JGI Tanzania menghadapi pemotongan dana signifikan dari USAID.

Proyek dengan nilai 29,5 juta dolar AS itu awalnya mencakup reboisasi, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan habitat. Pemotongan ini berpotensi memperlemah upaya perlindungan jangka panjang. Jika dukungan internasional terhambat, masa depan konservasi makin rapuh.

Goodall memahami bahwa konservasi tidak mungkin berhasil tanpa masyarakat lokal. Ia mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi dalam proyek konservasi.

Bagi warga desa di sekitar hutan, simpanse hanyalah bagian kecil dari kehidupan. Mereka harus diberi akses pada kesehatan, sekolah, dan sumber penghidupan berkelanjutan. Dengan begitu mereka memiliki alasan untuk menjaga hutan, bukan merambahnya. Model ini terbukti efektif. Beberapa desa yang terlibat dalam program JGI berhasil menurunkan angka deforestasi sekaligus meningkatkan pendapatan warga.

Dalam banyak kesempatan, Goodall selalu menekankan pentingnya harapan. Ia menolak menyerah pada narasi pesimisme. Baginya, perubahan memang sulit, tetapi bukan mustahil. Ia percaya pada kekuatan individu. Satu orang yang mengambil langkah sederhana bisa memicu rantai perubahan.

Sampai Kapan Warisan Jane Goodall Bertahan?

Kini, setelah kepergiannya, dunia menghadapi pertanyaan besar. Apakah warisan Goodall akan bertahan, atau tenggelam dalam gelombang krisis iklim, politik, dan ekonomi global? Jawabannya bergantung pada seberapa jauh manusia belajar dari hidupnya.

Pelajaran pertama adalah pentingnya riset jangka panjang. Banyak proyek penelitian dibatasi oleh siklus dana yang pendek. Padahal alam bergerak lambat, butuh observasi lintas generasi. Gombe membuktikan bahwa kesabaran menghasilkan pemahaman mendalam.

Indonesia, dengan kekayaan biodiversitas, bisa belajar banyak. Satwa endemik seperti orangutan, tarsius, atau badak hanya bisa dipahami jika penelitian dilakukan puluhan tahun, bukan hitungan proyek singkat.

Pelajaran kedua adalah keterlibatan masyarakat. Konservasi tidak bisa hanya menjadi urusan ilmuwan atau pemerintah. Masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan hutan harus menjadi aktor utama. Mereka yang merasakan langsung dampak positif atau negatif dari hilangnya ekosistem. Jika pendekatan tidak melibatkan mereka, konservasi akan gagal.

Pelajaran ketiga adalah komunikasi yang menyentuh hati. Goodall menembus batas dunia akademik dengan cara bercerita.

Ia menulis buku, tampil dalam film dokumenter, berbicara di panggung internasional. Pesan yang dibawa bukan angka semata, melainkan kisah nyata tentang keluarga simpanse, konflik, dan kasih sayang. Publik menjadi peduli karena merasa ada kedekatan emosional.

Pelajaran keempat adalah keberanian melawan arus. Saat Goodall mulai menamai simpanse, banyak ilmuwan meremehkan. Namun, keyakinannya terbukti. Penemuan bahwa simpanse bisa menggunakan alat akhirnya diterima sebagai fakta ilmiah. Keberanian untuk berbeda sangat penting, terutama di era sekarang ketika tekanan politik dan ekonomi sering mendikte arah riset.

Tantangan hari ini semakin kompleks. Perubahan iklim mempercepat degradasi habitat. Penyakit zoonosis seperti Ebola pernah menghantam populasi simpanse di Afrika. Perdagangan ilegal satwa liar terus berlangsung. Teknologi bisa menjadi solusi sekaligus ancaman. Satelit, drone, dan analisis DNA bisa membantu pemantauan populasi. Namun, eksploitasi sumber daya untuk kebutuhan teknologi juga mempercepat kerusakan ekosistem.

Dalam konteks global, Jane Goodall memberi contoh tentang kepemimpinan moral. Ia tidak hanya berbicara di forum akademik, tetapi juga di markas besar PBB, di sekolah-sekolah, bahkan di desa terpencil.

Pada 2002, PBB mengangkatnya sebagai Utusan Perdamaian. Pengakuan ini menunjukkan bahwa pesan tentang konservasi tidak terpisah dari pesan tentang kemanusiaan.

Indonesia bisa mengambil inspirasi dari Goodall. Kepulauan Nusantara memiliki kekayaan hayati luar biasa, tetapi ancaman deforestasi dan tambang juga besar. Program konservasi sering terjebak dalam konflik kepentingan.

Dengan pendekatan Goodall, strategi bisa diarahkan pada sinergi antara kebutuhan manusia dengan kelestarian alam. Ekowisata berbasis komunitas, hutan desa, atau restorasi mangrove yang melibatkan warga bisa menjadi contoh konkret.

Kisah Goodall juga mengingatkan bahwa perempuan memiliki peran besar dalam sains dan lingkungan. Pada masa ia memulai, dunia riset primata didominasi laki-laki. Goodall hadir dengan gaya yang berbeda dan berhasil menunjukkan kualitas. Ia menjadi inspirasi bagi banyak perempuan muda untuk menekuni sains dan aktivisme lingkungan.

Dunia memang kehilangan sosok fisiknya, tetapi gagasan Goodall masih hidup. Setiap kali seseorang menanam pohon, menyelamatkan satwa, atau menginspirasi anak muda untuk peduli alam, warisan itu berjalan. Seperti hutan yang tumbuh pelan, pengaruh Goodall akan terus merambat dari satu generasi ke generasi lain.

Masa depan konservasi membutuhkan lebih dari sekadar nostalgia. Dunia harus bergerak dengan data yang sudah ada, menambah riset baru, memperkuat jejaring global, dan membangun fondasi keuangan yang stabil untuk konservasi jangka panjang.

Pengalaman pahit pemotongan dana proyek di Tanzania harus menjadi alarm. Konservasi tidak bisa digantungkan pada kemurahan hati sesaat, melainkan harus menjadi prioritas kebijakan.

Kita bisa melihat akhir hidup Goodall sebagai penutup bab, atau justru sebagai pembuka cerita baru.

Jika pesan yang ia tinggalkan benar-benar dijalankan, maka generasi mendatang masih bisa mendengar suara simpanse liar di hutan Afrika. Jika tidak, maka hutan akan sunyi, dan yang tersisa hanya dokumentasi arsip.

Tulisan ini bukan sekadar mengenang. Ini ajakan agar pelajaran hidup Goodall dipraktikkan di setiap level, dari kebijakan pemerintah hingga langkah sederhana individu.

Dunia membutuhkan lebih banyak orang yang berani mendengar suara hutan. Goodall sudah melakukannya selama lebih dari enam dekade. Kini giliran kita semua menjaga agar suara itu tidak tenggelam.