Opini

Dari The Wild Thornberrys ke Dunia Nyata: Kehilangan Orangutan Serangkai dengan Hutannya

19/08/2026|Muhammad Wildan Al Gifari
The Wild Thornberrys pertama tayang pada 1998 serial ini diproduksi Klasky Csupo untuk Nickelodeon dan memiliki 5 musim de...

The Wild Thornberrys pertama tayang pada 1998, serial ini diproduksi Klasky Csupo untuk Nickelodeon dan memiliki 5 musim dengan 91 episode. | Foto: Imdb.com

Gardaanimalia.com - Bagi Kawan Satwa angkatan 90-an, mungkin tidak asing dengan animasi Nickelodeon berjudul The Wild Thornberrys.

Walaupun tidak sepopuler animasi Nickelodeon lain, seperti SpongeBob SquarePants, animasi yang pertama kali dirilis pada 1998 oleh studio Klasky Csupo ini cukup ikonik dan sempat ditayangkan oleh salah satu televisi nasional di Indonesia dekade 2000-an.

Animasi ini bercerita tentang Eliza Thornberry, seorang gadis yang memiliki kemampuan berbicara dengan hewan. Bersama keluarganya, ia berkeliling dunia untuk membuat film dokumenter kehidupan liar.

Dari sana, The Wild Thornberrys tidak sekadar menawarkan petualangan anak-anak, tetapi juga menyelipkan pesan tentang lingkungan dan konservasi.

Uploaded content
Keluarga Thornberry terdiri dari Nigel, Marianne, Eliza, Debbie, Donnie, dan Darwin | Foto: Wikimedia Commons

Dalam keluarga Thornberry, ada Nigel Thornberry, ayah Eliza sekaligus pembawa acara dokumenter; Marianne Thornberry, ibu Eliza sekaligus kameraman; Debbie Thornberry, kakak Eliza; Darwin, simpanse peliharaan keluarga; serta Donnie, saudara angkat Eliza dari belantara Kalimantan.

Ya, secara eksplisit animasi ini cukup sering mengambil latar Indonesia, mulai dari Sumatera, Pulau Rinca, hingga Kalimantan, tempat Donnie ditemukan.

Dalam episode The Origin of Donnie, dikisahkan oleh sesepuh masyarakat Dayak bahwa sebelum diadopsi keluarga Thornberry, Donnie merupakan anak yatim piatu yang diasuh oleh induk orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus).

Orang tua kandung Donnie, Michael dan Lisa, adalah pasangan primatolog yang bertugas meneliti orangutan di Kalimantan. 

Suatu hari, Michael dan Lisa memergoki pemburu yang hendak mencuri anak orangutan dari induknya. Nahas, keduanya dibunuh saat berusaha menyelamatkan orangutan dari bidikan pemburu itu. 

Sesaat setelah kedua orang tua Donnie dimakamkan oleh masyarakat setempat, Donnie memilih tinggal bersama orangutan yang sebelumnya diselamatkan oleh mendiang orang tuanya.

Meski kisah ini hanya hadir dalam sebuah kartun, ada bagian yang justru sangat dekat dengan realitas biologis orangutan. Orangutan, seperti manusia, memiliki ikatan yang sangat kuat antara induk dan anak. Anak orangutan pun bergantung kepada induknya dalam waktu yang sangat panjang. 

Uploaded content
Dalam episode The Origin of Donnie, Donnie dirawat oleh orangutan yang diselamatkan orang tuanya. | Foto: Ranker.com

Bagaimana Anak dan Induk Orangutan Saling Bertaut?

Penelitian terbaru terhadap orangutan di Danum Valley, Sabah, Malaysia, menunjukkan bahwa masa menyusui anak orangutan dapat mencapai usia 6,5 tahun1. Jika disamakan dengan manusia, anak seusia itu bahkan sudah berada di sekitar awal masa sekolah.

Kehilangan induk tentu menjadi musibah besar bagi kelangsungan hidup anak orangutan. Penelitian di Ketambe, Aceh, terhadap orangutan sumatera (Pongo abelii) menunjukkan bahwa dari 29 kelahiran yang diamati, hanya dua bayi yang mati sebelum berusia satu tahun, dan salah satunya berkaitan dengan kematian induknya2.

Anak orangutan yang kehilangan induk bukan hanya kehilangan sosok pengasuh. Ia juga kehilangan akses terhadap makanan, perlindungan dari bahaya, serta pengetahuan mengenai bagaimana bertahan hidup di hutan yang harus dipelajari selama bertahun-tahun dari induknya.

Pedoman International Union for Conservation of Nature (IUCN) 2025 pun menegaskan bahwa penanganan bayi dan orangutan juvenil yang ditemukan sendirian di hutan harus dilakukan secara hati-hati karena pada usia tersebut mereka masih berada dalam fase pengasuhan induk. 

Jika benar-benar yatim piatu atau induknya tidak ditemukan, anak orangutan perlu diserahkan kepada pihak rehabilitasi untuk dirawat dan memperoleh pembelajaran yang sedapat mungkin menggantikan fungsi pengasuhan induk di alam3.

Kembali pada cerita Donnie. Meskipun ia adalah seorang anak manusia, kehilangan kedua orang tua pada usia balita tentu merupakan pukulan telak.

Dalam cerita tersebut, Donnie kemudian tumbuh bersama induk orangutan yang telah diselamatkan orang tuanya. 

Bayangkan sebaliknya: satu anak orangutan kehilangan induk karena dibunuh pemburu. Ia diangkut, diubah labelnya dari satwa liar menjadi komoditas. Ia "dirawat", tetapi dalam belenggu yang memutusnya dari kehidupan alaminya. Keduanya–Donnie dan anak orangutan– bernasip serupa, sama-sama kehilangan orang tua yang seharusnya menjadi tempat bergantung.

Uploaded content
Potret induk orangutan yang sedang mendekap anaknya dalam animasi The Wild Thornberrys. | Foto: cinemaparadiso.co.uk

Kisah Michael dan Lisa Merefleksikan Nasib Pembela Lingkungan

Kisah terbunuhnya Michael dan Lisa juga merefleksikan betapa beratnya pekerjaan orang-orang yang berusaha melindungi satwa liar dan habitatnya.

Di dunia nyata, orang-orang seperti Michael dan Lisa tidak hanya berhadapan dengan pemburu, tetapi juga dengan berbagai kepentingan ekonomi dan pihak-pihak berkuasa yang kepentingannya dapat terganggu ketika hutan dipertahankan.

Mengutip data Global Witness, sepanjang 2012–2023 saja setidaknya 20 pembela lingkungan dan tanah di Indonesia terbunuh4.

Di Indonesia, salah satu kasus yang paling dikenal adalah Salim Kancil dari Lumajang, Jawa Timur, yang tewas dibunuh pada 2015 setelah menolak aktivitas penambangan pasir yang dianggap merusak lingkungan dan lahan pertanian.

Ada pula Golfrid Siregar, advokat dan aktivis WALHI Sumatera Utara yang terlibat dalam advokasi terkait pembangunan PLTA Batang Toru. Ia ditemukan tidak sadarkan diri dengan luka berat di kepala dan kemudian meninggal pada 2019. Perlu diketahui, kawasan Batang Toru merupakan habitat penting bagi orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), salah satu spesies orangutan paling langka di dunia.

Meski tidak berada dalam konteks perlindungan orangutan secara langsung, kasus Salim Kancil dan Golfrid Siregar, maupun kisah fiktif Michael dan Lisa dalam The Wild Thornberrys, memperlihatkan satu persoalan yang sama: melindungi ekosistem bukan pekerjaan tanpa risiko. 

Belum lagi para pembela lingkungan yang menghadapi intimidasi, kriminalisasi, hingga penggunaan gugatan hukum untuk membungkam partisipasi publik melalui SLAPP (Strategic Lawsuit Against Public Participation).

Jika manusia yang mempertahankan hutan saja dapat menghadapi risiko sebesar itu, bagaimana dengan satwa yang sama sekali tidak memiliki suara dalam proses pengambilan keputusan?

Orangutan tidak bisa berdebat dengan pemburu. Tidak bisa menggugat perusahaan yang membuka hutan. Tidak bisa datang ke pengadilan untuk mempertahankan pohon tempatnya mencari makan. Yang bisa dilakukan hanyalah berpindah, sejauh hutan yang tersisa masih memungkinkan.

Masalahnya, hutan itu semakin sedikit.

Uploaded content
Adegan Michael dan Lisa ditangkap oleh pemburu orangutan dalam episode The Orign of Donnie. | Foto: Ranker.com

Nasib Hutan, Nasib Orangutan, Nasib Peradaban

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2008–2009 di tiga provinsi di Kalimantan dengan mewawancarai 6.983 orang dari 687 desa memperkirakan sekitar 750–1.800 orangutan dibunuh dalam satu tahun sebelum survei.

Berdasarkan rata-rata pengalaman responden, estimasinya bahkan mencapai 1.950–3.100 orangutan per tahun.

Penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari 15 tahun lalu pun tekanan perburuan terhadap orangutan sudah sangat tinggi5.

Di masa yang lebih baru, penelitian yang diterbitkan pada 2022 dan menganalisis data kejahatan orangutan sepanjang 2007–2019 menemukan terdapat 2.229 kasus kejahatan orangutan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa hingga kini orangutan belum benar-benar aman dari tindak kriminal, meskipun angka tersebut merupakan kasus yang terdeteksi dan bukan jumlah seluruh kejadian yang sebenarnya6

Di saat yang sama, habitat mereka terus menyusut.

Pertambangan, pembukaan perkebunan, pembangunan jalan, pertanian, pembalakan, dan berbagai bentuk perubahan penggunaan lahan membuat hutan orangutan semakin terfragmentasi. Di Kalimantan, salah satu kajian memperkirakan wilayah distribusi orangutan turun dari sekitar 141.500 km² pada 1992 menjadi 85.835 km² pada 2002, atau berkurang sekitar 39 persen7.

Kondisi di Sumatra bahkan memperlihatkan kisah yang lebih ekstrem, khususnya bagi orangutan tapanuli. Penelitian mengenai sejarah sebaran spesies ini menunjukkan bahwa pada 1890-an orangutan tapanuli diperkirakan memiliki wilayah sebaran sekitar 40.796 km². Pada 1940-an, wilayah tersebut telah menyusut menjadi sekitar 21.313 km². Kini, sebarannya diperkirakan hanya sekitar 1.023 km².

Artinya, orangutan tapanuli bukan sekadar kehilangan hutan. Mereka kehilangan sebagian besar dunia tempat mereka pernah hidup. 

Uploaded content
Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) menjadi salah satu spesies primata paling terancam dengan populasi kini tersisa sekitar 716 individu. | Foto: Tim Laman/Wikimedia Commons

Hari untuk Mengingat Orangutan

Dari satu episode The Wild Thornberrys berjudul The Origin of Donnie, kita akhirnya bisa melihat sesuatu yang mungkin dulu luput ketika menontonnya sebagai anak-anak. Kartun tersebut memang fiksi. Donnie tidak benar-benar ditemukan di hutan Kalimantan, Michael dan Lisa tidak pernah benar-benar ada, dan orangutan tentu tidak akan mengasuh seorang anak manusia seperti dalam cerita.

Namun, pesan besarnya justru terasa semakin nyata ketika kita dewasa.

Ketika induk orangutan dibunuh, yang hilang bukan hanya satu individu. Ada anak yang kehilangan induknya. Ada pengetahuan yang tidak pernah diwariskan. Ada kemungkinan reproduksi yang ikut terputus. Dan ketika pohon-pohon dihabisi, yang hilang bukan hanya kayu, melainkan rumah bagi generasi orangutan yang belum sempat lahir.

Mungkin dulu kita menonton The Wild Thornberrys hanya untuk melihat Eliza berbicara dengan hewan. Hari ini, di tengah hutan yang terus menyusut, kita justru perlu bertanya: kalau orangutan tidak bisa berbicara kepada manusia, siapa yang akan berbicara untuk mereka?

Pada Hari Orangutan Sedunia, pertanyaan itu seharusnya tidak berhenti sebagai pesan moral. Karena pada akhirnya, menyelamatkan orangutan bukan hanya soal menyelamatkan satu spesies. Ini tentang mempertahankan hutan yang menjadi rumah bersama, dan memastikan bahwa kisah tentang orangutan tidak berhenti sebagai kenangan dari sebuah kartun masa kecil.


#ActForOrangutans #TheirForestOurFuture #OrangutanDay2026


1 https://www.nature.com/articles/s42003-026-09968-2?utm_source=chatgpt.com
2 https://paperzz.com/doc/7725902/life-history-of-wild-sumatran-orangutans--pongo-abelii-?utm_source=chatgpt.com
3 https://portals.iucn.org/library/sites/library/files/documents/2025-031-En.pdf?utm_source=chatgpt.com
4 https://globalwitness.org/en/campaigns/land-and-environmental-defenders/missing-voices/?gad_campaignid=12799823747&gad_source=1&utm_source=chatgpt.com
5 https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22096582/
6 https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S000632072200297X?utm_source=chatgpt.com
7 https://www.cambridge.org/core/journals/oryx/article/distribution-and-conservation-status-of-the-orangutan-pongo-spp-on-borneo-and-sumatra-how-many-remain/B42B98D9C564B54EF7EDC2D140818BA4?utm_source=chatgpt.com