Gardaanimalia.com - Tujuh tahun sudah gerakan konservasi penyu dilakukan oleh berbagai komunitas lingkungan di kawasan Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Salah satu yang giat dengan upaya konservasi penyu itu adalah Komunitas Sahabat Penyu melalui Festival Penyu Mempie dan Komunitas Laut Biru.
Kini, telur penyu hampir tak lagi dijual di pasar-pasar Polewali Mandar setelah tujuh tahun Festival Penyu Mampie digelar. Festival Penyu Mampie merupakan bagian dari kampanye pelestarian penyu agar warga tidak lagi berburu telur penyu.
Perkembangan menggembirakan itu diungkap Founder Festival Penyu Mampie, Yusri, dalam Dialog Suara Nusantara RRI Mamuju, Rabu 20 Mei 2026.
Ia menyebutkan bahwa sejak pertama kali digelar, warga pelan-pelan meninggalkan praktik lama memperjualbelikan telur penyu sebagai konsumsi harian.
Yusri menceritakan, dulu telur penyu mudah ditemukan di pasar-pasar Sulawesi Barat dan dianggap makanan yang lazim di banyak keluarga.
Namun, tak berhenti di ancaman akibat konsumsi telur. keberlangsungan penyu juga masih menghadapi tantangan lain,di antaranya abrasi pantai dan sampah.
Yusri mengatakan garis pantai yang semakin dekat dengan permukiman membuat ruang aman bagi penyu untuk bertelur semakin sempit dari tahun ke tahun.
Terkikisnya garis pantai tersebut bahkan mendekati rumah penduduk di Dusun Mampie, Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo. Akibatnya, dalam beberapa tahun terakhir, sebagian warga Mampie sudah sekian kali memindahkan rumah mereka.
Menyelamatkan Penyu, Menyelamatkan Ekosistem
Di Polewali Mandar, Komunitas Biru Laut juga menyadari bahwa menyelamatkan penyu berarti menyelamatkan ekosistem kelautan.
Ketua Komunitas Laut Biru Putra Ardiansyah menyampaikan bahwa konservasi tidak hanya dilakukan di pantai saat melindungi sarang atau melepas tukik, tetapi juga melalui pendidikan.
“Kami fokus membangun kesadaran sejak dini agar lahir generasi yang memiliki kepedulian terhadap laut dan satwa yang hidup di dalamnya. Selama Mei hingga Juni, kami telah melakukan berbagai kegiatan edukasi kepada pelajar dan mahasiswa di terkait pentingnya menjaga penyu dan habitatnya,” ujar Putra Kepada Garda Animalia, 10 Juni 2026.
Komunitas Laut Biru memberikan pemahaman mengenai peran penyu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan kelestarian penyu di antaranya adalah perburuan telur, sampah laut, dan kerusakan habitat, serta bagaimana generasi muda dapat terlibat dalam upaya pelestariannya.
Dalam dua bulan ini, Komunitas Laut Biru melaksanakan kegiatan pembersihan sampah pantai sebagai bagian dari upaya menjaga habitat penyu dan mengurangi ancaman sampah laut.
Kegiatan pembersihan difokuskan di kawasan konservasi yang menjadi wilayah kerja komunitas ini, yaitu di pesisir Desa Lapeo dan Desa Laliko, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar.
Warga pun mengetahui bahwa jual beli maupun konsumsi telur penyu adalah kegiatan ilegal, sehingga sudah tidak banyak yang memanfaatkannya.
Hanya saja, perburuan masih terjadi di beberapa pantai yang “kosong” dari aktivitas kelompok konservasi. Misalnya, pantai di Kecamatan Campalagian, seperti Desa Panyampa (Pantai Panyampa), Kelurahan Pappang yang punya pantai ujung. Begitu juga dengan Pantai Palippis di Desa Bala, Kecamatan Balanipa, serta Pantai Tanjung buku di Kecamatan Mapilli.
“Dari informasi warga, para pemburu telur itu mengirimkannya ke Kalimantan,” imbuhnya.
Ancaman Sampah Laut
Sampah laut menjadi salah satu ancaman serius bagi penyu, karena dapat tertelan atau menjerat penyu.
Komunitas Biru Laut mengajak masyarakat dan generasi muda untuk memahami bahwa menjaga kebersihan pantai merupakan bagian penting dari upaya konservasi penyu.
Habitat yang bersih akan memberikan ruang yang lebih aman bagi penyu untuk mencari makan, bermigrasi, maupun bertelur di kawasan pesisir.
Putra mengaku memang ada rasa lelah, apalagi sebagian besar kegiatan dilakukan secara sukarela oleh teman-teman relawan.
Namun, ketika melihat pantai menjadi lebih bersih dan semakin banyak masyarakat yang ikut peduli terhadap lingkungan, rasa lelah itu terbayar.
“Selama Mei hingga Juni, kami melakukan beberapa kegiatan pembersihan pantai di kawasan konservasi kami di Desa Lapeo dan Desa Laliko, Kecamatan Campalagian. Untuk jumlah sampah yang berhasil diangkut sekitar 650 kilogram,” tuturnya.
Ia melanjutkan, jenis sampah yang paling banyak ditemukan masih didominasi oleh sampah plastik sekali pakai, kemasan makanan dan minuman, serta sampah kiriman yang terbawa arus laut ke kawasan pesisir.
“Bagi kami, yang terpenting bukan hanya berapa kilogram sampah yang berhasil diangkat, tetapi bagaimana kegiatan ini dapat mengurangi ancaman terhadap penyu dan satwa laut lainnya, sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke lingkungan,” ungkap Putra.
Menurutnya, media sosial menjadi salah satu sarana yang efektif untuk menjangkau lebih banyak orang, khususnya generasi muda. Lalu, ia pun percaya bahwa konservasi tidak hanya dilakukan oleh komunitas atau pemerintah, tetapi membutuhkan dukungan masyarakat luas.
Karena itu, bagi Putra, kampanye publik menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran dan kepedulian bersama terhadap perlindungan penyu di Polewali Mandar.
“Ancaman terbesar bagi penyu bukan hanya hilangnya habitat, tetapi juga kurangnya kesadaran manusia. Karena itu kami tidak hanya bekerja di pantai, tetapi juga membangun kesadaran publik melalui edukasi dan kampanye yang menjangkau masyarakat luas,” pungkas Putra.














