Gardaanimalia.com - Ketika sebuah kawasan terbakar, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya berapa hektare yang terbakar atau berapa lama api berhasil dipadamkan. Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah: berapa banyak kehidupan dan nilai ekologis yang ikut hilang ditelan api?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan ketika melihat rangkaian kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Maluku Utara sepanjang musim kemarau saat ini.
Data Bidang Penanganan Kebakaran Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Maluku Utara mencatat, ada 63 titik kebakaran yang muncul sepanjang Juli hingga 18 September 2026, dengan total luas lahan terdampak mencapai sekitar 302 hektare. Sebanyak 24 titik di antaranya berada di sekitar permukiman.
Di Kota Tidore Kepulauan, salah satu rangkaian kebakaran terjadi selama empat hari, sejak Rabu, 16 September 2026. Api kemudian menyebar di sejumlah kawasan dan berhasil dipadamkan pada Sabtu, 19 September 2026.
Titik Api Menyebar ke Empat Kelurahan
Abdullah Muhammad, warga Tidore, mengatakan berdasarkan informasi, titik api mulai ditemukan di Kelurahan Topo Tiga, kemudian menyebar ke Tambula, Folarora, dan wilayah Topo Gunung.
Data BPBD Kota Tidore Kepulauan dalam laporan penanganan kebakaran di hari keenam menunjukkan luas kawasan terdampak diperkirakan mencapai sekitar 51 hektare.
Sementara itu, pemantauan pada 20 September 2026 masih mendapati area dengan titik api sekitar 35 meter persegi.
Kemarau dan angin kencang turut mempercepat penyebaran api. Pemadaman menjadi sulit dilakukan karena terkendala akses menuju beberapa lokasi kebakaran.
Selain itu, ketersediaan air yang terbatas selama kemarau, memunculkan tantangan besar dalam upaya pemadaman. Sementara, penyebab awal kebakaran belum dapat dipastikan.
Kehilangan yang Kasat Mata dan Tak Kasat Mata
Ketika melihat kawasan terbakar, perhatian sering kali berhenti pada jumlah hektare yang terdampak. Padahal, luas wilayah hanya menggambarkan ukuran ruang yang terbakar, bukan seluruh nilai yang ada di dalamnya.
Hutan dan kawasan vegetasi di Tidore merupakan ruang hidup bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa. Dengan demikian, dampak kebakaran tidak hanya berupa kehilangan pohon, itu juga kehilangan habitat satwa dan sumber pakannya.
Lebih dari itu, satwa liar berpotensi berhadapan langsung dengan api. Dibuktikan dengan berkali-kali evakuasi satwa liar korban karhutla di berbagai daerah, baik dalam keadaan mati maupun hidup.
Tidak semua satwa ditemukan mati di kawasan terbakar. Sebagian dapat berpindah mencari tempat yang masih memiliki sumber makanan dan perlindungan.
Namun, perpindahan tersebut juga dapat menimbulkan tekanan baru apabila habitat di sekitarnya terbatas atau sudah ditempati populasi satwa lain.
Setiap kawasan hutan memiliki fungsi ekologis yang tidak dapat dihitung secara sederhana. Sebuah pohon, misalnya, tidak hanya bernilai karena kayunya. Pohon dapat menjadi sumber makanan bagi manusia dan satwa, sumber obat-obatan lokal, termasuk hal terkecil seperti menjaga kualitas udara dan air. Bersama vegetasi lain di sekitarnya, ia turut mendukung kehidupan mikroorganisme tanah.
Kerugian Ekonomi bagi Masyarakat
Nilai suatu kawasan pun menjadi semakin penting ketika kawasan yang terbakar juga bersinggungan langsung dengan ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat Tidore.
Sebagian masyarakat Tidore menggantungkan pendapatan dari tanaman perkebunan yang tumbuh di sekitar kawasan mereka beraktivitas.
Ketika tanaman produktif seperti pala, cengkih, dan kelapa ikut terbakar, kerugiannya tidak hanya berupa hilangnya tanaman saat kejadian. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menggantikan tanaman yang rusak berat atau mati sehingga kembali produktif. Artinya, masyarakat dapat kehilangan potensi pendapatan dari hasil panen selama masa pemulihan tersebut.
Api mungkin sudah tidak menyala, tetapi tanaman yang rusak, lahan yang harus dipulihkan, dan pendapatan yang hilang adalah persoalan setelah api padam.
Ruang Hidup yang Hilang, Bagi Manusia dan Satwa
Setelah empat hari kebakaran melanda wilayah Tidore, api berhasil dipadamkan pada Sabtu, 19 September 2026.
Setelah itu, vegetasi perlu tumbuh, tanah perlu dipantau. Pada saat yang sama, kondisi habitat dan keberadaan satwa di kawasan terdampak juga perlu diperhatikan. Semuanya membutuhkan data untuk mengawal proses pemulihan.
Kebakaran hutan dan lahan di Tidore pada akhirnya bukan hanya persoalan api, yang hilang bukan hanya pohon. Yang ikut terdampak adalah ruang hidup, biodiversitas, dan nilai ekonomi yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.















