Gardaanimalia.com – Jika mendengar kata “cinta” apa yang ada di pikiranmu? Mungkin bayangan tentang hubungan atau perasaan romansa dua manusia yang saling terikat secara emosional.
Lantas, pernahkah terbesit di benak kalian apakah hubungan ini juga dapat dirasakan oleh makhluk hidup lain, seperti satwa?
Pasti kita pernah melihat sepasang satwa betina dan jantan menunjukkan perilaku yang mirip dengan manusia yang sedang jatuh cinta, seperti membentuk ikatan emosional hingga mengasuh bersama. Namun, apakah mereka benar-benar merasakan emosi yang kompleks seperti cinta pada manusia?
Mengutip artikel Do Animal Fall in Love?, Bianca Acevedo, seorang psikolog dari University of California menjelaskan ada banyak teori tentang cara melihat “cinta”. Salah satu yang cukup banyak diterima adalah bagaimana cinta bisa dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu cinta romantis atau penuh gairah, dan cinta penuh kedekatan atau keakraban, yaitu rasa sayang yang kita punya terhadap saudara, anak, orang tua, atau teman dekat.
Bukan Cinta, tetapi Reaksi Hormon
Dilansir dari Tandem Global, sains telah menunjukkan bahwa secara fisiologis, hewan mampu mengalami emosi seperti cinta dengan cara yang mirip dengan manusia. Manusia dan hewan berbagi banyak sistem otak dan bahan kimia yang serupa, seperti dopamin dan oksitosin yang menyertai perasaan cinta.
Segala kegiatan satwa yang terlihat seperti jatuh cinta, menurut BBC Science Focus merupakan reaksi hormon, seperti hormon oksitosin yang meningkat pada anjing ketika mereka berinteraksi dengan pemiliknya, sehingga memperkuat ikatan mereka.
Melansir BBC, oksitosin adalah hormon pada mamalia yang bertanggung jawab untuk memberi sensasi cinta. Hormon ini terlibat dalam pengakuan dan ikatan sosial, dan diyakini berperan dalam pembentukan kepercayaan di antara orang-orang. Itulah yang membuat ikatan ibu dan bayi begitu kuat.
Salah satu bentuk cinta yang dihasilkan oleh hormon ini dapat dilihat pada vole prairie (Microtus ochrogaster). Satwa ini bersifat monogami, mereka terkenal setia pada pasangannya, bahkan pejantan mereka sering menunjukkan pengasuhan orang tua dan melindungi pasangan mereka. Menurut penelitian, ini terjadi karena adanya hormon dopamin yang meningkat setelah kawin.
Sebaliknya, vole meadow (Microtus pennsylvanicus) bersifat poligini, yaitu pejantan kawin dengan banyak betina. Mereka hampir tidak menunjukkan pengasuhan terhadap anak maupun perlindungan pada pasangannya.
Perbedaan ini dapat dijelaskan dari sisi biologi otak. Vole prairie memiliki lebih banyak reseptor vasopresin di bagian otak tertentu dibandingkan vole meadow. Vasopresin bekerja bersama oksitosin yang dikenal sebagai hormon pengikat hubungan.
Karena perbedaan inilah, vole prairie cenderung setia dan pengasih, sedangkan vole meadow tidak.
Dalam pola pengasuhan anak, hubungan yang kuat antar-pasangan juga dapat dilihat pada rangkong gading (Rhinoplax vigil) yang menjadi simbol kesetiaan.
Melansir Kompas, sepasang rangkong memiliki perannya masing-masing dalam mengasuh anak. Selama masa pengeraman yang berlangsung sekitar 150 hari, rangkong jantan berperan dalam memberikan makana kepada sang betina yang berdiam di lubang pohon untuk mengerami dan membesarkan anaknya.
Di periode tersebut, bulu-bulu rangkong betina akan rontok sehingga mampu memberikan kehangatan bagi telur, namun membuatnya tidak bisa terbang hingga anaknya tumbuh besar. Lahirnya generasi baru ini terjaga berkat kerja sama erat anatar rangkong jantan dan betina.
Jadi, satwa memang menunjukkan perilaku yang mirip dengan manusia ketika “jatuh cinta”, seperti menarik perhatian lawan jenis, merawat anak, dan berpasangan. Namun, secara ilmiah hal tersebut dijelaskan sebagai hasil kerja hormon dan sistem otak, bukan “cinta” dalam arti kompleks seperti yang dirasakan manusia.
Hormon seperti oksitosin dan dopamin berperan besar dalam membentuk ikatan sosial, rasa sayang, hingga kesetiaan pada beberapa spesies. Hal ini menunjukan, meskipun satwa mungkin tidak merasakan cinta dalam makna manusia, mereka tetap memiliki bentuk ikatan emosional dan kasih sayang yang nyata, lahir dari biologi tubuh mereka.








![Kota yang Membelai dan Mengusir: Zoonosis dan Relasi Manusia–Hewan yang Berubah di Kota Besar [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kota-yang-membelai-dan-mengusir-zoonosis-dan-relasi-manusia-hewan-yang-berubah-di-kota-besar-bagian-1.webp)







