Gardaanimalia.com - Belahan utara kawasan Asia Timur, seperti Korea dan Jepang, mulai memasuki musim dingin pada akhir Oktober menjelang November.
Saat musim dingin, suhu udara turun sangat ekstrem mencapai -25 derajat celsius, membuat sejumlah satwa seperti sikepmadu asia (Pernis ptilorhynchus) harus bermigrasi.
Ribuan sikepmadu asia akan pergi ke kawasan khatulistiwa saat musim migrasi tiba. Rombongannya akan terlihat di beberapa daerah di Indonesia, seperti Banyumas.
Meskipun musim migrasi belum dimulai, satwa ini sudah muncul di Indonesia. Pada 9 Maret 2026, seekor sikepmadu asia menyasar ke pemukiman warga di Pulau Bawean. Ia sempat dirawat warga sampai akhirnya diserahkan ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur.
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Muda BBKSDA Jawa Timur Fajar Dwi Nur Aji menyebut lembaganya sudah punya spot-spot pemantauan di pegunungan, seperti Ijen dan Arjuna. Pihaknya juga kerap melakukan survei melintasi pulau-pulau kecil antara Jawa dan Kalimantan.
Sikepmadu asia melintas Bawean karena sarang lebah di pulau tersebut masih banyak jumlahnya. Seperti yang diketahui, sarang lebah adalah pakan alami spesies ini.
“Sikepmuda berisiko ditangkap untuk kesenangan ketika melakukan migasi. Untungnya, masyarakat di Bawean yang kerap kami edukasi memiliki kesadaran yang tinggi untuk menyerahkan,” cerita Fajar kepada Garda Animalia, Selasa (28/7/2026).
Pada 25 Juli 2026, siap sikepmadu asia ini dilepasliarkan di Bawean setelah menyelesaikan seluruh tahap rehabilitasi dan dinyatakan layak kembali ke habitat.
Proses rehabilitasi meliputi pemulihan kondisi fisik, pemeriksaan kesehatan, latihan terbang, hingga pembentukan kembali respons alaminya terhadap lingkungan di Pos Riset RKW 09 Gresik–Bawean.
Satwa dilepasliarkan di kawasan Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Titik ini dipilih karena memiliki tutupan hutan yang masih baik dengan ketersedian sumber pakan alami.
Karena proses penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran berlangsung pada bentang alam yang sama, tim menggunakan metode hard release, yaitu pelepasan langsung ke habitat tanpa melalui kandang habituasi.
Pendekatan ini dinilai tepat karena individu tersebut telah mengenali karakteristik habitat Pulau Bawean sehingga risiko disorientasi relatif rendah.
Kepala BBKSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan bahwa setiap pelepasliaran satwa liar bukan sekadar mengembalikan satu individu ke alam, melainkan memastikan fungsi ekologisnya kembali berjalan di habitat asli.
"Konservasi tidak berhenti pada proses penyelamatan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika satwa mampu kembali menjalankan peran ekologisnya di alam,” ujarnya di laman BBKSDA Jawa Timur.
Sebelum dilepasliarkan, petugas memasang tanda indetitas individu. Fungsinya sebagai sistem monitoring pascapelepasliaran untuk mendukung data apabila satwa itu kembali pada musim imgrasi berikutnya.















