Edukasi

Melewati Benua dan Samudra, Mengapa Burung Bermigrasi Setiap Tahun?

18/05/2026|Atika Byputri
Ratusan trinil pantai Actitis hypoleucos yang bermigrasi Foto Harry Sanjaya PutraWikipedia - Melewati Benua dan Samudra M...

Ratusan trinil pantai (Actitis hypoleucos) yang bermigrasi. | Foto: Harry Sanjaya Putra/Wikipedia

Gardaanimalia.com - Miliaran burung melakukan perjalanan menakjubkan melintasi benua dan samudra, terbang ribuan kilometer demi bertahan hidup saat musim berganti di habitat asalnya. Momen menakjubkan ini dapat kita saksikan di Indonesia, salah satu negara yang masuk jalur migrasi burung global.

Hari Migrasi Burung Dunia atau World Migratory Bird Day (WMBD) dirayakan dua kali dalam setahun. Tahun ini, hari tersebut jatuh pada 9 Mei lalu dan 10 Oktober mendatang, bertepatan dengan puncak musim migrasi di berbagai belahan dunia.

WMBD 2026 mengangkat tema “Every Bird Counts – Your Observations Matter!” atau “Setiap Burung Berharga – Pentingnya Pengamatan Anda!”, menyoroti peran penting sains warga (citizen science) untuk konservasi burung migrasi.

Perjalanan panjang penuh tantangan dilewati burung migran demi mencari tempat berkembang biak, sumber makanan, serta iklim yang lebih baik.

Bagaimana Burung Bermigrasi?

Burung memiliki kompas magnetik bawaan yang memungkinkan mereka menentukan arah menggunakan medan magnet bumi. Mereka pun mempunyai reseptor di mata yang dapat mendeteksi sudut medan magnet untuk mengidentifikasi utara atau selatan.

Selain itu, burung juga dapat mendeteksi pola cuaca dan angin. Angin yang kencang dapat membantu burung menghemat energi saat bermigrasi.

Ketersediaan makan juga menjadi faktor burung migran bermigrasi. Ketika makanan di daerah asal sulit didapatkan, mereka akan mencari tempat baru untuk tinggal sementara.

Beberapa spesies burung bahkan melakukan isyarat sosial dengan sesama spesies, serta melihat pola bintang atau fase bulan untuk menentukan waktu migrasi. 1

Kapan Mereka Bermigrasi?

Uploaded content
Peta empat bagian Global Flyways (Jalur Migrasi Global) burung-burung migrasi. | Foto: BirdLife International

Jalur migrasi burung global atau global flyways darat dibagi menjadi empat, yaitu Afrika-Eurasia (African-Eurasia Flyway), Asia Timur-Australia (East Asian-Australasian Flyway), Amerika (Americas Flyway), dan Asia Tengah (Central Asian Flyway).

Lintasan-lintasan itu, dilewati oleh burung dalam beberapa fase per satu siklus tahunan. 

Memasuki Agustus sampai November, musim gugur yang dingin menyergap. Pada masa ini, burung dari belahan Bumi utara mulai bermigrasi ke selatan untuk mendapatkan tepat yang lebih hangat.2 

Mereka akan menetap di daerah migrasi pada Desember hingga Februari. 

Pada bulan berikutnya, mereka bersiap untuk "pulang ke rumah" di belahan Bumi bagian utara.  Ini terjadi pada Maret sampai Mei, yang disebut migrasi musim semi. Kepulangan ini bertujuan untuk menyambut musim berbiak pada Juni hingga Juli.3

Puncak pergerakan ini terjadi pada Maret hingga April, sehingga ketika Mei datang, mereka telah tiba di breeding ground dan mulai mencari pasangan. 

Indonesia adalah Salah Satu Tempat Singgah

Indonesia merupakan salah satu wilayah terpenting dalam jalur migrasi burung dunia karena berada di lintasan East Asian–Australasian Flyway (EAAF), salah satu jalur migrasi terbesar.

Jalur ini menghubungkan wilayah Arktik dan Siberia dengan Asia Tenggara hingga Australia dan Selandia Baru.

Negara yang kita cintai ini disebut “stopover site” atau lokasi persinggahan penting karena menyediakan lahan basah, mangrove, rawa, dan pantai berlumpur yang kaya makanan, yang menjadikannya salah satu lokasi transit penting terutama bagi burung pantai dan burung air di jalur EAAF.

Tidak hanya burung pantai dan burung air, kawanan elang (raptor) juga melintasi negara kita.

Diperkirakan sekitar satu juta raptor melintasi koridor EAAF yang membentang lebih dari 7.000 kilometer.

Beberapa spesies dari Asia Timur menempuh dua rute utama, yaitu East Asian Continental Flyway (EACF) yang melalui Thailand, Malaysia, hingga Indonesia, dan East Asian Oceanic Flyway (EAOF) yang melalui Filipina.

Di samping itu, burung kicau (atau burung hutan) juga menjadikan Indonesia sebagai negara transit.

Berada tepat di garis khatulistiwa dan diapit dua belahan bumi, Indonesia menjadi wilayah strategis bagi burung migran untuk beristirahat dan mencari makan sebelum melanjutkan perjalanan ke selatan.

Beberapa lokasi strategis yang menjadi tujuan transit adalah Taman Nasional Wasur, Rawa Singkil, Pulau Moyo dan daerah Sumbawa, Teluk Jakarta, Kawasan pesisir Sumatera bagian timur, Kalimantan, Jawa bagian utara, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua.

Jenis-Jenis Burung Migran

Lintasan East Asian–Australasian Flyway memiliki luas area sekitar 85 juta kilometer yang mencakup 22 negara.

Dari 500 jenis burung yang melewati jalur terbang tersebut, lebih dari 200 jenis burung migran istirahat dan mencari makan di seluruh habitat di Indonesia.

Beberapa spesies burung migran yang dapat ditemui antara lain:45

  • Trinil pantai (Actitis hypoleucos) yang berstatus tidak dilindungi dan termasuk kategori least concern (LC) atau resiko rendah dalam IUCN Red List.
  • Layang-layang api (Hirundo rustica) yang merupakan burung migran dengan status tidak dilindungi, termasuk kategori LC atau resiko rendah dalam IUCN Red List. Namun, populasinya kian menurun. 
  • Kuntul cina (Egretta eulophotes) yang berkembang biak di Cina dengan status vulnerable (VU) atau rentan berdasarkan IUCN Red List.
  • Gajahan timur (Numenius madagascariensis) dari bagian timur Rusia termasuk dalam kategori terancam punah atau endangered (EN) dalam IUCN Red List.
  • Kedidi leher-merah (Calidris ruficollis) yang termasuk kategori hampir terancam atau near threatened (NT).
  • Cerek kalung kecil (Charadrius mongolus) dari pegunungan Himalaya termasuk dalam kategori terancam punah (EN) dalam IUCN Red List dan populasinya kian menurun.
  • Elang alap muka kelabu (Butastur indicus) yang berasal dari Jepang dengan status risiko rendah (LC) dengan tren populasi menurun.
  • Cikalang natal (Fregata andrewsi) yang merupakan burung endemik Christmas Island di Australia dengan status vulnerable (VU).
Uploaded content

Biru-laut ekor-blorok. | Foto: Burung Indonesia

Ancaman yang Dihadapi Burung Migrasi 

Burung migrasi lebih rentan terhadap hilangnya dan degradasi habitat di seluruh wilayah jelajahnya.

Perburuan untuk makanan dan perdagangan hewan, spesies invasif, dan tabrakan dengan struktur buatan manusia mengancam burung migrasi di sejumlah lokasi persinggahan. Sementara, perubahan iklim dan hilangnya habitat menjadi perhatian yang semakin meningkat di wilayah perkembangbiakannya.7

Perkebunan kelapa sawit yang kian meluas di sebagian besar wilayah Sunda Asia Tenggara membuat hanya beberapa burung kicau migran yang dapat beradaptasi karena jenis burung ini sangat bergantung pada hutan.8

Demikian pula, daerah perkotaan umumnya juga miskin akan keanekaragaman dan kelimpahan burung migran musim dingin.

Ketidaksesuaian antara waktu migrasi dan ketersediaan makanan di tempat tujuan juga menjadi faktor, serta rute yang lebih panjang terpaksa ditempuh karena angin dominan yang dipengaruhi iklim. 

Apa Peran Kita?

Burung migran merupakan salah satu indikator keseimbangan ekosistem. Ia mengendalikan hama, melakukan penyerbukan tanaman serta menyebarkan benih pada jalur migrasinya. Semua ini tentu berpengaruh terhadap kehidupan kita.

Prioritas konservasi utama adalah melakukan survei lapangan intensif di seluruh wilayah sambil secara bersamaan mengumpulkan data sains warga (citizen science).

Citizen science adalah pelibatan masyarakat dalam konservasi burung migran, dengan cara aktif mengamati dan mendata jenis burung migran yang ada di lingkungan sekitar.

Data dari sains warga merupakan dukungan penting dalam memperkaya informasi untuk konservasi.

Yuk, kita ikut menjaga burung migran demi kelestarian bumi!


1 https://birdharbor.com/birds/bird-migration/
2 https://burung.org/migrasi-burung-perjalanan-panjang-yang-penuh-tantangan/
3 https://burung.org/hari-migrasi-burung-sedunia-mengapa-melindungi-burung-migran-penting-bagi-kita/
4 https://journal.unirow.ac.id/index.php/binar/article/view/726/498
5 https://www.idntimes.com/science/discovery/6-burung-migran-yang-singgah-di-indonesia-jangan-lewatkan-kesempatan-melihatnya-c1c2-01-hgxjz-y0tp7j
6 https://www.cambridge.org/core/journals/bird-conservation-international/article/migratory-songbirds-in-the-east-asianaustralasian-flyway-a-review-from-a-conservation-perspective/1E634FEE86BF1FC06994120EC50B4028?utm_source=chatgpt.com
7 https://www.cambridge.org/core/journals/bird-conservation-international/article/migratory-songbirds-in-the-east-asianaustralasian-flyway-a-review-from-a-conservation-perspective/1E634FEE86BF1FC06994120EC50B4028?utm_source=chatgpt.com
8 https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0169534708002528