Opini  

Berhenti Kasih Makan Monyet di Persimpangan Jalan

Gambar Monyet ekor panjang (Macaca Fascicularis) di Curug Sentral, Kelapanunggal- Sukabumi. | Foto: Rianda Akbari
Gambar monyet ekor panjang (Macaca sascicularis) di Curug Sentral, Kelapanunggal, Sukabumi. | Foto: Rianda Akbari

Gardaanimalia.com – Predasi secara harfiah dapat diartikan sebagai konsep pada rantai makanan yang terdiri dari pemangsa dan dimangsa. Seperti contohnya satwa karnivora memangsa satwa herbivora.

Kendatipun konsep ini adalah sistem yang sejatinya alamiah, tetap saja segelintir dari kita menganggap hal tersebut adalah konsepsi tidak bermoral.

Seperti beberapa waktu lalu, sebuah video di media sosial yang menunjukkan seekor kera dililit oleh ular hingga mati.

Alhasil, dalam kolom komentar itupun mengundang banyak netizen yang menyayangkan sikap pembuat video (tidak diketahui) dengan membiarkan kera tersebut mati dililit ular.

Beberapa dari kita tentu memiliki alasan dengan mengatakan bahwa membiarkan hewan mati sama dengan tidak bermoral atau tidak berdasarkan rasa kasihan.

Namun, konsep predasi juga tak dapat dipersalahkan karena merupakan peristiwa yang alamiah. Untuk itu, mari kita coba untuk menelisik kembali apa itu predasi.

Seperti yang telah disebutkan di awal, predasi merupakan konsep mangsa dan dimangsa. Dalam menjaga keseimbangan ekosistem, rantai makanan tersebut seyogianya memang harus terus berputar.

Artinya, ketika satwa satu memangsa satwa lainnya dalam predasi bukanlah kekeliruan. Karena masing-masing dari satwa memiliki peran dan fungsinya di alam liar.

Akan tetapi, konsep predasi sendiri terkadang menjadi hal yang masih sulit diterima bagi beberapa orang. Misalnya, hewan pemangsa dianggap sebagai satwa yang kejam. Begitulah, manusia kerap menerapkan fungsi moralnya terhadap satwa, dan ini adalah keliru.

Gambar seekor monyet ekor panjang. | Foto: IPB
Gambar seekor monyet ekor panjang. | Foto: Primata IPB

Selain pengunggah video seekor kera dililit ular yang dianggap tindakannya kurang tepat karena melakukan pembiaran terhadap kejadian tersebut, contoh lainnya masih berhubungan dengan fungsi moral yang tak tepat sasaran.

Manusia kerap beranggapan atau bertindak sesuatu yang tak seharusnya dilakukan terhadap satwa. Misal, dalam hasil liputan IDN Times yang menyambangi wilayah Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.

BACA JUGA:
Atraksi Topeng Monyet Ganggu Perilaku Alami Satwa

Berada di dua lokasi berbeda yakni Hutan Kota Jalan Minyak, Balikpapan dan di Hutan Bukit kilometer 38, akses menuju Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.

Saat itu ditemukan gerombolan monyet ekor panjang yang berlarian di jalan pada waktu siang dan sore hari. Di tengah lalu lalang kendaraan yang berseliweran, monyet-monyet tampak biasa saja dan tidak takut sama sekali.

Seperti halnya yang diungkapkan oleh Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Ivan Yusfi tentang monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

“Jadi, monyet ekor panjang ini memang terkenal paling adaptif, bisa hidup di lingkungan manusia yang tidak ada hutannya,” ujar Ivan Yusfi.

Meskipun, di jalan kilometer 38 yang merupakan kawasan hutan dengan tujuan khusus yang dikelola oleh Balai Teknologi KSDA Samboja, Unit Kerja dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu diketahui tidak berdampak besar terhadap satwa khususnya monyet ekor panjang.

Tetapi, beberapa pengemudi yang kerap melintas di jalan tersebut selalu memberi makan monyet. Sehingga pemberian makan itu akan mengubah perilaku monyet ekor panjang, menjadi bergantung kepada pemberian.

“Gangguan di sana minim, cuma masalah juga ada di manusia, begitu lihat ada monyet di pinggir jalan langsung dikasih makan,” ungkapnya.

Memberi makan satwa bukanlah hal yang sepenuhnya salah, namun jika dipelajari lebih dalam maka kita akan mengetahui bahwa itu merupakan tindakan yang keliru.

Karena berakibat pada perilaku liar satwa yang akan berkurang. “Salah (memberi makan) dan membuat monyet malas untuk mencari makan sendiri,” sambung Ivan.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan pada Senin (31/1/2022) ke arah persimpangan Jalan Samboja arah jalan masuk Sepaku.

Tak berselang lama sekitar pukul 10.00 WITA, seekor monyet ekor panjang melintas dan duduk di pinggir jalan sembari memakan bekas makanan di tumpukan sampah.

BACA JUGA:
Monyet Sasar Tanaman Palawija dan Buah-buahan di Ladang Warga

Plastik yang membungkus makanan tersebut rupanya cukup merepotkan monyet ketika mengunyah. Sesekali monyet itu mengeluarkan makanan untuk memisahkannya.

Hal yang tak jauh berbeda, saat tim kembali melintas di jalan yang sama pada sore hari pukul 15.02 WITA. Sekitar 5 menit berada di sana, satu kendaraan roda 4 memacu laju kendaraan cukup pelan kemudian melemparkan makanan ke kawanan monyet.

Meski telah ditegur agar jangan memberi makan, tetap saja pengendara mobil tadi tak menghiraukan. Mungkin, mereka merasa kasihan atau sayang terhadap satwa tersebut hingga memberikan makan.

Namun ketahuilah, terkadang rasa kasih dan sayang yang ditunjukkan tak sesuai dengan porsinya atau tidak mempertimbangkan kebaikan dan masa depan monyet ekor panjang juga bukanlah tindakan yang tepat.

Maka dari dua contoh di atas menunjukkan bahwa manusia kerap menerapkan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan.

Seperti memberi makan dan menolak predasi dengan beralasan kasihan atau kasih sayang. Karena kedua hal itu berdampak pada kehidupan satwa itu sendiri, yaitu keseimbangan ekosistem dan sifat liar yang mungkin akan hilang.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments