Edukasi

Blue-Eyed Cuscus Ternate dalam Perspektif Masyarakat: Antara Ancaman Ekonomi dan Upaya Kelestarian

12/05/2026|Yullin Lololuan
Kuskus mata biru satwa endemik Ternate Maluku Utara yang dikenal sebagai hewan nokturnal atau aktif pada malam hari Foto...

Kuskus mata biru, satwa endemik Ternate, Maluku Utara, yang dikenal sebagai hewan nokturnal atau aktif pada malam hari. | Foto: Komunitas Pulau Tareba

Gardaanimalia.com - Kuskus mata biru (Phalanger matabiru) atau Blue-Eyed Cuscus Ternate merupakan salah satu satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di wilayah Maluku Utara, yaitu Pulau Ternate dan Tidore. 

Keberadaannya yang eksklusif pada wilayah ini menjadikannya tidak hanya unik secara visual, tetapi juga memiliki nilai penting dalam konteks keanekaragaman hayati Indonesia. Ciri khas berupa warna mata biru yang mencolok menjadikan spesies ini berbeda dari jenis kuskus lainnya dan menarik perhatian dalam kajian ilmiah maupun konservasi.

Secara umum, kuskus mata biru merupakan mamalia arboreal yang hidup di kawasan hutan tropis dan menghabiskan sebagian besar waktunya di atas pohon. Spesies ini dikenal memiliki pergerakan yang relatif lambat, aktif pada malam hari (nokturnal), serta cenderung menghindari interaksi langsung dengan manusia. Pada siang hari, satwa ini beristirahat di tajuk pohon yang rimbun, sementara pada malam hari ia bergerak untuk mencari makan.

YouTube Video Thumbnail


Dalam klasifikasi biologis, kuskus mata biru termasuk dalam kelompok marsupial, yaitu mamalia berkantung yang memiliki sistem reproduksi khas. 

Anak kuskus mata biru lahir dalam kondisi belum berkembang sempurna, kemudian melanjutkan pertumbuhannya di dalam kantong induk hingga cukup kuat untuk hidup secara mandiri. Kantong tersebut berfungsi sebagai tempat perlindungan sekaligus sumber nutrisi pada fase awal kehidupan. 

Sebagai satwa omnivora, kuskus mata biru mengonsumsi berbagai jenis pakan seperti buah-buahan, daun, bunga, dan serangga. Pola makan ini menunjukkan adanya peran potensial dalam proses ekologis, seperti penyebaran biji, meskipun hal tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut secara spesifik. 

Namun demikian, kehidupan satwa ini tidak berlangsung dalam ruang yang terpisah dari manusia. Di Maluku Utara, khususnya di Ternate dan Tidore, masyarakat menggantungkan hidup pada kebun yang sebagian besar berada dalam atau berbatasan langsung dengan hutan. 

Dalam liputan yang diunggah CNA Indonesiakondisi ini menunjukkan kuskus mata biru dan manusia memanfaatkan ruang yang sama, sehingga interaksi di antara keduanya menjadi tidak terhindarkan dan membentuk dinamika yang kompleks.

Kebun dalam Lanskap Hutan: Ruang Hidup yang Beririsan 

Di Maluku Utara, kebun masyarakat umumnya dikelola dalam bentuk tanaman tahunan seperti kelapa, pala, durian, dan berbagai jenis pohon buah lainnya. Kebun-kebun ini berada di dalam atau berbatasan langsung dengan kawasan hutan, sehingga membentuk lanskap mosaik yang menyatukan ruang ekologis dan ruang ekonomi. 

Dalam lanskap tersebut, kuskus mata biru tetap berada dalam habitat alaminya, tapi sekaligus memanfaatkan sumber daya yang juga digunakan oleh manusia. 

Pohon-pohon buah di kebun menjadi sumber pakan yang mudah diakses oleh satwa ini, sehingga meningkatkan frekuensi interaksi dengan masyarakat. 

Bagi masyarakat, aktivitas makan kuskus mata biru yang merusak hasil kebun dipandang sebagai ancaman terhadap penghidupan. Namun, dari sudut pandang ekologis, satwa ini hanya menjalankan perilaku alaminya sebagai satwa yang memanfaatkan sumber makanan yang tersedia. 

Hal ini menunjukkan, konflik yang terjadi merupakan konsekuensi dari tumpang tindih kepentingan dalam satu lanskap yang sama.

Perburuan sebagai Respons Sosial-Ekonomi 

Dalam menghadapi gangguan terhadap hasil kebun, sebagian masyarakat melakukan perburuan terhadap kuskus mata biru sebagai bentuk respons adaptif. 

Praktik ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi tanaman, tetapi juga berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan serta kebiasaan yang telah berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Di beberapa wilayah seperti Ternate, perburuan terhadap satwa ini pernah dilakukan dengan intensitas yang cukup tinggi, sehingga memberikan tekanan terhadap populasi. 

Dampak dari praktik ini tidak hanya dirasakan oleh individu yang diburu, tetapi juga memengaruhi keberlangsungan reproduksi, karena anak yang masih berada dalam kantong induk tidak dapat bertahan hidup ketika induknya mati.

Selain itu, melansir ProFauna Indonesia  perdagangan satwa liar tanpa dokumen resmi menunjukkan bahwa tekanan terhadap kuskus mata biru juga berkaitan dengan aktivitas ilegal yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada konsumsi lokal.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan perburuan terhadap Kukus mata biru tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial-ekonomi masyarakat serta keterbatasan akses informasi mengenai status perlindungan satwa.

Perubahan Lingkungan dan Dinamika Konflik 

Perubahan lingkungan juga turut memengaruhi kehidupan kuskus mata biru. Berkurangnya ruang hidup akibat aktivitas manusia mendorong spesies ini semakin bergantung pada kebun sebagai sumber pakan. 

Hal ini menciptakan siklus yang berulang: semakin sempit habitat, semakin sering ia berinteraksi dengan manusia; semakin tinggi interaksi, semakin besar potensi konflik; dan konflik tersebut sering berujung pada perburuan. 

Dalam laporan lokal yang diunggah Mongabayjuga menunjukkan kuskus mata biru semakin jarang dijumpai di habitat alaminya, yang mengindikasikan adanya tekanan terhadap populasi di beberapa lokasi.

Perubahan Perspektif dan Upaya Konservasi Lokal 

Di tengah tekanan tersebut, muncul perubahan perspektif di tingkat masyarakat. Di Desa Takome, sebagian masyarakat yang sebelumnya berburu kuskus mata biru kini mulai beralih menjadi penjaga. 

Perubahan ini didorong oleh meningkatnya pemahaman tentang pentingnya pelestarian, serta munculnya peluang ekonomi melalui ekowisata. Blue-Eyed Cuscus yang sebelumnya dianggap sebagai hama kini mulai dilihat sebagai aset yang memiliki nilai ekonomi dan ekologis. 

Kehadiran pengunjung yang tertarik pada pengamatan satwa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. 

Dokumentasi visual yang beredar di media digital juga memperlihatkan bagaimana kuskus mata biru menjadi daya tarik tersendiri bagi publik, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian. 

Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam keberhasilan konservasi kuskus mata biru.

Tumpang Tindih Kepentingan dalam Lanskap Bersama

Kasus kuskus mata biru di Maluku Utara menunjukkan bahwa konflik yang terjadi merupakan pertemuan antara kebutuhan manusia dan kebutuhan satwa dalam satu ruang yang sama.

Satwa ini membutuhkan sumber pakan untuk bertahan hidup, sementara masyarakat bergantung pada kebun sebagai sumber ekonomi. 

Dalam lanskap yang tidak terpisah secara tegas, interaksi menjadi tidak terhindarkan. Oleh karena itu, pendekatan konservasi terhadap Blue-Eyed Cuscus perlu mempertimbangkan kedua aspek tersebut secara seimbang.  

Pendekatan Kontekstual dan Berkelanjutan 

Upaya pelestarian kuskus mata biru perlu dilakukan dengan pendekatan yang sesuai dengan kondisi lokal. Edukasi mengenai status perlindungan dan peran ekologis perlu disampaikan secara kontekstual agar dapat dipahami oleh masyarakat. 

Selain itu, pengembangan alternatif ekonomi seperti ekowisata berbasis pengamatan Blue-Eyed Cuscus perlu diperkuat. 

Strategi mitigasi konflik di kebun juga dapat menjadi solusi praktis untuk mengurangi interaksi negatif antara manusia dan satwa. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga konservasi menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan satwa ini. 

Kuskus mata biru bukan hanya bagian dari keanekaragaman hayati, tetapi juga bagian dari identitas, dan ciri khas Maluku Utara. Keberadaannya mencerminkan hubungan yang kompleks antara manusia dan alam dalam satu lanskap yang sama. 

Dengan pendekatan yang tepat, satwa malang ini tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari solusi untuk menciptakan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlanjutan lingkungan.