Khas

Braja Harjosari: Harmoni dari Jejak Gajah dan Tatapan Kukang

25/08/2025|Angela
Seekor gajah sumatera Elephas maximus sumatranus di Desa Braja Harjosari Foto Angela - Braja Harjosari Harmoni dari Jejak...

Seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Desa Braja Harjosari. | Foto: Angela

Gardaanimalia.com - Malam mulai turun di Braja Harjosari. Dari kejauhan, suara dentuman rendah terdengar—gajah sedang melangkah di tepian hutan Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Di langit, bintang berkelip di atas hamparan sawah. Lampu-lampu rumah penduduk memantulkan cahaya hangat, sementara di pinggir desa, sebuah jalur tanah berliku menuju hutan menjadi saksi perjumpaan manusia dan satwa liar.

Dulu, jalur itu menyimpan cerita penuh ketegangan. Gajah liar sering melintas, merusak kebun, mematahkan batang pisang, bahkan menginjak ladang padi. Warga pun menderita kerugian besar.

“Dulu kalau dengar suara gajah, itu tanda bahaya. Sekarang, itu tanda cerita yang akan kami bagi kepada tamu,” kata Waryoko Susandi, seorang pemandu wisata dan anggota Koperasi Jasa Wisata Padang Savana (JAWIS ANGSANA)

Transformasi itu dimulai ketika desa menggandeng pihak TNWK untuk membentuk Elephant Response Unit (ERU)—tim penanggap yang bertugas menghalau gajah agar tidak memasuki kampung. Dari upaya mitigasi, lahirlah ide berani: mengubah konflik menjadi daya tarik wisata. Braja Harjosari kemudian mengembangkan desa wisata berbasis konservasi, menghadirkan pengalaman otentik bagi pengunjung sekaligus melindungi gajah sumatera.

Tak butuh waktu lama, desa bernuansa Bali ini menarik wisatawan mancanegara. Mereka datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga untuk melihat langsung jejak-jejak konflik masa lalu: pohon yang patah, tanaman yang rusak, hingga kotoran gajah segar di jalur hutan. Mereka juga belajar cara warga menghalau gajah—memukul kentongan, menyalakan obor, atau berpatroli di malam hari.

Namun, Braja Harjosari bukan hanya tentang gajah. Di malam hari, kehidupan lain pun terungkap. Di tengah rimbun pepohonan, saya menemukan kukang (Nycticebus coucang)—primata mungil yang bergerak pelan, matanya besar memantulkan cahaya senter. Kukang adalah satwa pemalu, aktif di malam hari, dan nyaris tak bersuara. Di desa seperti ini, ia bisa hidup aman. Namun, di kawasan permukiman padat, nasibnya jauh lebih berisiko: sering mati tersengat listrik saat berjalan di atas kabel yang membentang di depan rumah atau bangunan.

Uploaded content
Dua kukang sumatera (Nycticebus coucang) yang sedang merayap di atas pohon. | Foto: Hasbi

Kisah Braja Harjosari kini menjadi cerita tentang keberanian mengubah masalah menjadi peluang, dan peluang menjadi harapan. Tentang bagaimana konflik berubah menjadi kolaborasi, dan bagaimana konservasi menjadi masa depan.

Di sini, harmoni bukan sekadar kata indah. Ia hadir nyata—di jejak kaki gajah yang tertinggal di tanah basah, di tatapan kukang yang malu-malu, dan di senyum warga yang kini percaya bahwa berdampingan dengan alam adalah pilihan terbaik.