Khas

Cerita Orang Laut: Menghadapi Cuaca Laut dan Krakatau, Menumbuhkan Karang

08/04/2026|Ajmal Fajar Sidiq
Arip Gopur berdiri di depan gapura Yayasan Konservasi Alam Bawah Laut Di atas keramba seorang nelayan sedang menunggu cuac...

Arip Gopur, berdiri di depan gapura Yayasan Konservasi Alam Bawah Laut. Di atas keramba, seorang nelayan sedang menunggu cuaca baik. | Foto: Ajmal Fajar Siddiq

Gardaanimalia.com - Lelaki itu sedang mengecek dek kapal kayu di bibir pantai. Pandang matanya menuju ufuk dan gelombang laut.

“Udah dari sebelum Desember. Cuaca jelek. Ombak gede.” kata lelaki itu.

Namanya Kasdi, seorang Anggota Konservasi Laut Dalam Sukarame. Lelaki yang kurang lebih tujuh tahun mengurus terumbu karang di tepi laut Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Ketika itu Kasdi sedang meraba bagaimana kondisi ombak Minggu sore (8/2/2026). Katanya padaku, sudah sejak Desember laut terasa musykil dibaca kondisinya.

Di depan gubuk yang menghadap laut, ia menunjuk petambak yang sama sibuknya seperti Kasdi: membaca cuaca yang tak tentu.

Orang yang di sana pertama kali bikin keramba, hampir habis 20 jutaan. Ya, sekedar bambu, tapi belum juga diapung ke tengah sana. Sudah hampir tiga minggu menunggu kapan waktu tepat untuk membawa ke tengah, coba lihat bagian bawah bambu sampai berwarna hijau kering (ditumbuhi lumut). Ya, begitu karena laut susah diprediksi. Pagi ombak tenang, sore nanti biasanya tiba-tiba bisa sampai 4-5 meter.

Kasdi menambah ceritanya tentang laut yang tak tentu.

Uploaded content
Keramba yang lama tak dilarung dan dihinggapi lumut empat minggu terakhir. Orang-orang Sukarame sukar melaut karena cuaca tak menentu. | Foto: Ajmal Fajar Sidiq

Kasdi menatap ombak dan laut yang kian hari kian sulit ditebak. Dalam seminggu, ada hari ketika laut teduh dan gelombang tenang, tetapi esok harinya bisa jadi riuh.

Menebak cuaca laut, seolah seperti bermain kartu; dugaan hari ini, belum tentu benar keesokan hari. Misalnya, jika laut teduh pada Senin, ia bisa riuh pada Selasa, lalu kembali tenang pada Rabu atau Kamis. Demikian seterusnya. Menurut catatan Kasdi, kondisi ini terjadi sejak Desember 2025 lalu.

“Paling tenang 3-4 hari. Sisanya, ombak sama angin,” ucapnya.

Masalah cuaca, masalah iklim, membuat banyak pekerja di pesisir Carita gundah. Tak terkecuali Kasdi.

Di Carita, masalahnya bukan hanya cuaca dan iklim.

Suatu hari pada 2010, Kasdi bersama Arip Gopur, Paman dari Kasdi, tengah duduk bersama-sama warga Desa Sukarame. Mereka bercakap lama tentang Pantai Carita yang warna lautnya biru jernih. Tentang ikan-ikan yang bisa dilihat mata telanjang tanpa keruh warna coklat di muka air lautnya.

Namun, pada 2010, mereka merasa bahkan melihat warna biru di pesisir amat sukar. Yang ada hanya warna keruh kecokelatan.

Warga Pesisir Carita tidak bergantung sekadar pada ikan di laut. Mata pencaharian mereka yang lain adalah pariwisata; tiket kunjungan turis ke pantai, baju-baju dan makanan siap saji.

Akan tetapi, Arip dan Kasdi merasa, per 2010 sumber penghasilan ini susut, dan mereka menduga semakin keruhnya laut salah satu masalah besar. Bahkan salah satu daya tarik besar wisata mereka, yaitu terumbu karang dan ikan badut (nemo) sudah sangat sedikit.

Tujuh tahun setelah percakapan itu, Kasdi, Arip bersama Warga Desa Sukarame membentuk Yayasan Konservasi Laut Dalam. Ketika itu, puncak resah mereka bertemu pada warna laut yang warnanya mulai menghitam. 

“Tahun 2016 sampai 2017, laut terlihat menghitam, kata orang-orang ini karena Potasium dan Labu Jangkar.”

Dari sana mereka mulai merawat laut, dari sana mereka mulai mengenali terumbu karang.

Mengambil Langkah dengan Mengenali Karang Laut

Pada 2017 kelompok kecil yang resah pada pemandangan pantai yang tak lagi sama mulai mencari cara agar Pantai Carita kembali bersih terawat dan mengundang pengunjung lagi.

Sementara mencari cara, tiba-tiba mereka sampai pada kesadaran fungsi karang. Meski meraba-raba, mereka mulai belajar fungsi karang, cara merawat bahkan menjadikannya wisata edukasi laut.

Setahun pertama setelah belajar, mereka mulai merawat karang dan mengembangbiakannya. Jenis pertama yang digunakan adalah Acropora. Salah satu jenis karang keras dari ordo Scleractinia. 

Uploaded content
Dokumentasi nemo dan Acropora di kawasan Carita. | Foto: Dokumentasi Yayasan Konservasi Laut Dalam

Mulanya, bukan ikan dan air jernih yang mereka peroleh, tetapi nyinyir mulut orang sekitar.

Semua nyinyiran dirangkum oleh Arip dalam kalimat, “Lah, ngapain? Buat apa?” kata Arip menirukan.

Meskipun begitu, dengan teguh ia jawab bahwa dengan satu ekosistem (terumbu karang) saja, di tempatnya akan tumbuh 1000 ekosistem lainnya.

Secara luas, ekosistem yang dimaksud Arip adalah ikan semakin banyak, maka nelayan senang, laut bersih dan indah pengunjung berdatangan, warga sekitar mengalami peningkatan penjualan. 

Demikian semua terus berjalan.

Pada 2018, perlahan ekosistem terumbu mulai tumbuh. Beberapa hasil transplantasi karang mereka meningkat 1 sampai 2 sentimeter. Tak jarang di sekitarnya ikan-ikan kembali ramai.

Selain itu, pada tahun yang sama ada banyak lembaga pendidikan berkunjung untuk melakukan edukasi. Sekolah Umum sekitar, misalnya.

Kadang-kadang, satu dua wisatawan berkunjung untuk menikmati terumbu. Beberapa waktu kemudian akhirnya mereka mampu memperoleh dana operasional yayasan sendiri.

Sebelum akhirnya 22 Desember 2018 datang. Dari seberang, gemuruh letusan krakatau menyapu terumbu karang orang-orang Sukarame.

Ketika Anak Krakatau Erupsi

Hari ketika Krakatau erupsi adalah hari ketika laut tenang seolah ia adalah danau.

“Lagi ramai-ramainya, lagi tenang-tenangnya kayak danau,” kata Kasdi. Sore itu, Kasdi tengah memarkir speedboat-nya di bibir pantai.

Dalam benaknya, kondisi ramai dan laut tenang bisa membuatnya berlama-lama di pantai menemani para wisatawan. Oleh karenanya, sebelum masuk malam ia parkir speedboat itu sengaja di tepi pantai. 

Di Carita tak ada sirine alarm pengingat tsunami. Kasdi baru menyadari tsunami terjadi ketika ia pulang pada pukul 10 malam.

Sampai di rumah, Kasdi melihat seorang warga berlari sembari berkata, “Air udah sampai di jalan.”

Kemudian warga berbondong-bondong lari evakuasi ke tempat tinggi, ke bukit dan hutan-hutan.

Pagi harinya, Kasdi kembali ke tempat speedboat miliknya diletakkan.

Ia temukan speedboat-nya dalam kondisi baik, kecuali ada retakan kecil di bagian bawah. Masalahnya, kehancuran bukan pada speedboat Kasdi saja, tetapi Terumbu Karang milik komunitasnya. Hampir separuh terumbu karang muda tertimbun sedimentasi dan sebagian kecilnya rusak.

Bukan hanya terumbu milik Yayasan Konservasi Laut Dalam saja tren kerusakan terumbu akibat krakatau terjadi pada 2018. Pasca-erupsi Anak Krakatau, pulau-pulau kecil tempat bermukimnya karang-karang juga turut mengalami kerusakan.

La Ode Alam Minsarisi, peneliti Studi Sistem Informasi Kelautan UPI Bandung menunjukkan, di Pulau Sebesi saja luas terumbu yang semula mencapai 178,8 hektare berkurang drastis pada 2019 menjadi 79,5 hektare setelah erupsi Krakatau. Dalam kata lain, di pulau ini separuh dari terumbu karang rusak akibat gelombang tsunami.

Selain Arif, lebih jauh jaraknya dari Krakatau dan Pulau Sebesi, Luthfi Anzani peneliti dari UPI Bandung menemukan di Pantai Tanjung Lesung perubahan kondisi terumbu dari 50 persen kategori baik turun menjadi 34 persen. Adapun presentase yang turun sekitar 15 persen ini terjadi dalam konteks kematian karang akibat kehancuran fisik terumbu.

Setidak-tidaknya, sepanjang sebelum dan setelah erupsi Anak Krakatau radius 10 sampai 40 kilometer dari titik kejadian ikut terdampak. Demikian pula yang terjadi pada terumbu Acropora yang dirawat oleh Konservasi Laut Dalam. 

Uploaded content
Infografis Perubahan Terumbu Karang Pasca-Tsunami 2018 di Selat Sunda. | Infografis Ajmal Fajar Sidiq

Krakatau bukan hanya mempengaruhi karang, tetapi juga pendapatan Yayasan Konservasi Laut Dalam untuk menjalankan programnya.

Setahun setelah Anak Krakatau batuk orang-orang menjauh dari pantai, bagi Arip, 2018 seolah seperti tahun kembali ke awal 2017. Tak patah semangat, bersama anggota lainnya, Arip terus mewartakan laut sumber kehidupan dan jangan lantas meninggalkan sepenuhnya.

Semua kembali dicicil, hingga akhirnya 2019 mereka kembali berjalan. Puncaknya, Konservasi Laut Dalam dinobatkan sebagai 50 daftar wisata terbaik nasional tahun itu.

2026 dan Tahun yang Akan Datang

Desember 2025 adalah pintu gerbang Yayasan Konservasi Laut Dalam melihat jejak tujuh tahun mereka. Dari anggota yang semula bisa dihitung jari, kini sejak Desember 2025 kurang lebih sebanyak 31 anggota pengurus baru telah bergabung.

Dan masih sama, pada Desember pula mereka berhadap-hadapan dengan tantangan yang sama; cuaca laut yang sukar ditebak.

Sudah sejak Desember, kata Arip pengurus belum sempat menengok kembali keramba karang mereka. Alasannya sama seperti pekerja lainnya: cuaca tak menentu.

Pernah satu ketika kira-kira dua bulan lalu Kasdi menengok dan meletakkan beberapa keramba karang di titik konservasi dan ia merasa hari itu lebih lelah dari biasanya.

Alasannya laut keruh karena gelombang membawa sedimentasi yang memengaruhi jarak pandang.

Kata Kasdi, jarak pandang mata tak lebih dari 1 sentimeter. Selain sulitnya melihat lokasi, keterbatasan ini juga membuat Kasdi khawatir bilamana menginjak karang nantinya.

Kendati demikian, inilah kisah tahun ketujuh perjalanan mereka; bermula sejak resah melihat warna laut, sampai tumbuhnya 1000 ekosistem. Hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya baik oleh Arip maupun Kasdi.

Bahkan Kasdi berkata, “Ya, gak kebayang sedikit-sedikit curi ilmu. Kadang misal kaget tahu kalau terumbu karang itu hewan.”

Pasalnya, Kasdi bukan pelajar tingkat lanjut yang sempat mendalami lautan lewat pendidikan tinggi dan formal. Mulanya, ia hanya seorang penjaja bensin pinggir jalan, tetapi kini ia mengerti amat sangat tentang laut. Demikian pula Arip.

Kemudian, ikan nemo berenang kembali, nelayan tak asal buang jangkar. Pemuda desa kembali belajar tentang siapa mereka sebagai orang laut di hadapan laut.