Gardaanimalia.com - Pernahkah kamu sedang asyik bersantai di halaman rumah pada malam hari, lalu tiba-tiba mendengar suara “buk!” seperti ada sesuatu yang terjatuh atau menabrak kaca jendela? Ketika kamu mendekati asal suara itu, kamu pun terkejut karena sesuatu tersebut bergerak-gerak. Kamu tidak perlu takut. Kemungkinan besar itu adalah “tamu kecil” kita yang sedang tersesat, si codot buah.
Codot buah (Cynopterus brachyotis), yang juga dikenal sebagai codot krawar, adalah kelelawar kecil yang bisa ditemukan di Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan berbagai wilayah Indonesia lainnya.
Ia termasuk dalam famili Pteropodidae, yaitu keluarga codot dan kalong yang masuk ke dalam subordo Megachiroptera, kelompok kelelawar besar pemakan buah dan nektar.
Akhir 2025, aku punya pengalaman dengan hewan terbang ini yang tiba-tiba jatuh setelah menabrak kaca jendela di rumahku. Awalnya, aku mengira seonggok benda hitam itu adalah sampah yang tercecer di halaman. Tidak menyangka 'onggokan' itu bergerak-gerak dan ternyata seekor codot buah yang sayapnya seperti terkilir.
Kepala mungilnya terangkat dan mata bulatnya yang tajam memandangku. Dia tidak bisa terbang dan hanya menggelepar. Aku mendekatinya pelan-pelan, menyelimutinya dengan selembar kain lebar, dan mengangkatnya. Untuk sementara, codot yang akhirnya aku beri nama Coco itu tinggal di bekas kandang kelinciku.
Aku tahu aku tidak bisa memeliharanya karena satwa liar sebaiknya memang dilepaskan di alam. Aku menelepon Pemadam Kebakaran (Damkar) seperti yang biasa aku lakukan ketika ada satwa liar nyelonong masuk ke rumahku.
Tapi kali ini aku cukup kecewa karena petugas Damkar hanya menyarankan untuk meletakkan si kecil yang terkilir itu di batang pohon jambu biji di rumahku, dengan pertimbangan dia bisa terbang lagi dalam waktu beberapa menit. Jelas, aku menolak saran tersebut. Bisa-bisa si kecil lucu ini diterkam kucing karena tidak bisa terbang.
Akhirnya, aku putuskan untuk merawat codot buah itu dengan harapan dia akan bisa terbang lagi. Aku akan melepaskannya ke alam ketika sayapnya sudah sembuh.
Mengenal Lebih Dekat si Imut Pemakan Buah
Sebelum membahas cara menangani codot yang jatuh di sekitar kita, ada baiknya kita kenali dulu satwa yang dalam bahasa Inggris disebut lesser dog-face fruit bat ini.
Melansir Animal Diversity, satwa mungil ini memiliki panjang kepala dan badan hanya 70–127 milimeter dan ekor 6–15 milimeter, dengan berat individu dewasa antara 30–100 gram.
Sedangkan bagian lengan depan memiliki panjang 55-92 milimeter, yang jika direntangkan bisa mencapai panjang 305 hingga 457 milimeter Sebagai hewan nokturnal, ia kerap terlihat terbang di kebun dan pekarangan setelah gelap, sehingga tak jarang dijuluki flying fox mini.
Berbeda dengan kelelawar pemakan serangga yang sering kita lihat di gua-gua gelap, kelelawar yang satu ini termasuk dalam kategori frugivora atau pemakan buah dan lebih suka tinggal di pepohonan yang rimbun.
Memiliki Menu dan Pola Makan yang Sehat Terjaga
Mereka selektif dan menyukai buah-buahan matang dengan aroma kuat dan rasa manis, seperti pepaya, jambu biji, pisang, hingga mangga yang ranum. Mereka biasanya hanya memilih buah terbaik yang sudah benar-benar siap dimakan di pohon.
Berkat makanan yang segar, bersih, dan kaya vitamin ini, tubuh codot buah cenderung tidak mengeluarkan aroma menyengat seperti kelelawar penghuni gua yang hidup di lingkungan lembap.
Secara langsung, kebiasaan makan ini mempengaruhi kualitas metabolisme dan kebersihan tubuh mereka di alam liar. Mereka tidur di siang hari dan mulai mencari makan ketika matahari terbenam.
Codot memiliki mata yang besar dan tajam, sehingga mampu melihat dengan cukup baik di malam hari. Mata yang besar ini juga membantu mereka melakukan navigasi saat mencari buah matang di kegelapan.
Siklus Hidup Yang Unik
Codot buah memiliki jangka hidup yang cukup lama. Secara biologis, mereka bisa hidup hingga 20–30 tahun di alam liar. Namun, hewan mungil ini tetap rentan mengalami penurunan populasi karena tingkat reproduksi terbilang rendah. Masa kehamilan codot diperkirakan berlangsung selama 20 hari, dengan satu ekor anak setiap kehamilan.
Jika habitatnya rusak atau banyak individu yang mati akibat kecelakaan, seperti menabrak kaca atau diburu, jumlah populasi mereka akan sulit pulih.
P3C – Pertolongan Pertama pada Codot
Di balik fakta-fakta menarik tersebut, codot buah memiliki kehidupan yang cukup rentan. Sering kali ditemukan codot buah yang jatuh di halaman rumah di wilayah perkotaan seperti yang terjadi padaku. Ada kenyataan yang cukup memprihatinkan di balik kondisi ini. Seperti kita ketahui, codot buah mengandalkan indera penglihatannya untuk melihat dalam gelap.
Sayangnya, teknologi manusia terkadang membingungkan mereka. Lampu taman yang terlalu terang atau lampu jalan yang menyilaukan dapat membuat penglihatan mereka terganggu sementara. Akibatnya, mereka bisa kehilangan arah dan menabrak kaca jendela saat terbang dengan kecepatan tinggi. Jika kamu menemukan codot buah yang terjatuh di halaman, kamu tidak perlu panik. Mereka biasanya hanya kebingungan dan membutuhkan bantuan.
Berikut langkah-langkah yang bisa kamu lakukan, berdasarkan pengalaman pribadiku saat menemukan dan mengevakuasi codot buah:
- Siapkan “Rumah Sementara”, gunakan kardus bersih, beri lubang udara yang cukup, dan alasi dengan kain lembut agar tetap hangat.
- Gunakan pelindung, pakai sarung tangan atau handuk tebal saat memindahkan codot ke dalam kardus. Meskipun tidak agresif, mereka bisa menggigit saat merasa terancam.
- Ciptakan rumah sementara yang nyaman. Karena codot tidak terbiasa berada di lantai, kamu bisa menggantungkan kain atau meletakkan kayu kecil agar mereka bisa mencengkeram dan bergantung.
- Berikan makanan pemulihan, sediakan potongan kecil buah pisang atau pepaya matang, serta sedikit air di wadah kecil.
- Perhatikan waktu pelepasan, setelah kondisinya pulih, lepaskan codot pada malam hari agar ia dapat kembali beraktivitas secara alami.
Codot buah memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Setiap kali mereka memakan buah matang, biji dari sisa makanan akan tersebar melalui kotorannya ke berbagai tempat.
Tanpa disadari, mereka membantu penyebaran biji tanaman. Mereka juga menyukai nektar bunga. Saat mengisap nektar, serbuk sari menempel pada tubuh mereka dan berpindah ke bunga lain yang kemudian dapat menghasilkan buah. Jadi, mari kita jaga para “kurir biji” ini agar tetap bisa terbang bebas dan membantu menjaga bumi tetap hijau!









![Kota yang Membelai dan Mengusir: Zoonosis dan Relasi Manusia–Hewan yang Berubah di Kota Besar [Bagian 1]](https://api.gardaanimalia.com/images/articles/kota-yang-membelai-dan-mengusir-zoonosis-dan-relasi-manusia-hewan-yang-berubah-di-kota-besar-bagian-1.webp)







