Mendalam

Ekosistem Burung Jakarta yang Terancam Hilang dalam RPIW Jakarta 2025-2034

02/04/2026|Yazid Fahmi
Burung-burung urban di kawasan ruang terbuka hijau di Jakarta Foto Yazid Fahmi - Ekosistem Burung Jakarta yang Terancam H...

Burung-burung urban di kawasan ruang terbuka hijau di Jakarta. | Foto: Yazid Fahmi

Gardaanimalia.com - Jakarta, kota kejam kesayangan. Dibangun sebagai kota metropolitan dengan segala modernitas di dalamnya. Dalam riuhnya suara manusia dan mesin kendaraan, suara burung kian mengecil. Habitatnya kian terhimpit dan menyempit karena pembangunan kehidupan manusia.

Ekosistem burung Jakarta yang kini cuma tertulis di buku pelajaran, dulunya terdokumentasi dengan baik. Andries Hoogerwerf, ornitolog (ahli burung) dan seorang naturalis dari Belanda, pernah mencatat tentang jenis burung di Jakarta. Dalam catatannya pada 1946, ada 257 jenis burung yang hidup di Jakarta.

Namun, jumlah itu terus menurun. Berdasarkan penelusuran, pada 2007-2016 burung Jakarta tercatat 145 jenis saja.

Jumlah burung yang dicatat dalam pengamatan memang mengalami fluktuasi, karena metode pengamatan dan faktor lain dari pembangunan kota.

Ekosistem burung kerap terabaikan karena dianggap tidak penting. Padahal, burung menjadi salah satu indikator alami kesehatan lingkungan yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk dalam penyebaran biji dan pengendalian hama.

Burung sebagai indikator alami sistem ekologis dapat dilihat dari kejadian wabah ulat bulu pada 2025 di Kemanggisan.

Menurut Ady Kristanto, Ornitolog dan Koordinator Utama Jakarta Birdwatcher (JBW), “ulat-ulat bulu itu seharusnya menjadi makanan burung wiwik kelabu, tapi burung itu sudah jarang ditemui.”

Rencana Pengembangan Infrastruktur Wilayah (RPIW) Jakarta tahun 2025-2034 yang dirilis pada akhir kuartal ketiga 2025 menetapkan arah pembangunan akan fokus pada sektor ekonomi dan hunian bagian warga.

Dalam RPIW itu, disebutkan Jakarta akan diproyeksikan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan sebagian kecilnya penyediaan infrastruktur dasar permukiman. Tidak ada pembahasan tentang koridor hijau atau ruang terbuka hijau (RTH) yang akan dibangun.

Hal ini menandakan bahwa pembangunan di Jakarta secara simbolis akan berpusat pada kemajuan kota, tanpa mempedulikan sisi ekologis kota.

Minimnya pembahasan ruang terbuka hijau dalam RPIW memunculkan kekhawatiran, terutama pada keberlanjutan flora dan fauna yang ada di dalamnya.

Keberadaan RTH bukan saja untuk kepentingan manusia, tetapi penting bagi habitat satwa lain seperti burung.

Fragmentasi Ruang Perkotaan

Dalam RPIW, tidak adanya pembahasan tentang RTH atau koridor hijau dapat menyebabkan fragmentasi ruang untuk kehidupan burung-burung. Jauhnya jarak antara satu taman dengan taman lainnya, membuat burung sulit untuk berpindah.

“Burung cenderung mengambil jalan memutar, ketika lingkungan sekitarnya adalah jalan-jalan besar yang penuh dengan kendaraan,” ujar Ady.

Jurnal ilmiah berjudul Effects of Habitat Fragmentation on Bird Behavior and Extinction Mechanisms atau Pengaruh Fragmentasi Habitat pada Perilaku Burung dan Mekanisme Kepunahan yang terbit pada 2024 menjelaskan, fragmentasi sering menghasilkan bercak habitat yang lebih kecil dan lebih terisolasi. Hal ini dapat berdampak negatif pada keberhasilan perkembangbiakan burung karena dapat menyebabkan perkawinan sedarah yang berakibat berkurangnya keragaman genetik dan pergeseran genetik.

Hal itu juga diakui oleh Ady bahwa terfragmentasinya ruang terbuka hijau akan berdampak langsung pada kemampuan burung untuk berkembang biak.

“Itu akan sebabkan kawin sedarah dan membuat anakan burung dari kawin sedarah menjadi cacat dan tidak bisa bertahan,” ujar Ady saat diwawancarai di Taman Martha Tiahahu, Blok M, Jakarta Selatan pada Senin (9/3/2026).

Persoalan lain yang juga disoroti oleh Ady adalah pembangunan RTH atau taman yang lebih mementingkan bersifat estetik dan homogen saja.

“Padahal burung tidak hanya tergantung pohon. Burung itu tergantung perdu, semak, pohon kanopi tinggi atau kanopi lurus,” ujarnya.

Untuk memulihkan dan memastikan bahwa burung mendapatkan tempat, taman harus dibangun sesuai dengan alam hidup mereka. Burung-burung kecil seperti cinenen, prenjak, dan bentet semak adalah burung habitat semak yang akan muncul jika ada semak-semak.

Sedangkan, burung-burung untuk pohon kanopi tinggi dan kanopi lurus sudah dikuasai oleh beberapa jenis seperti, perkutut, dara atau merpati, dan kutilang. Setiap burung memiliki daerahnya masing-masing, tidak semua burung berada di dahan-dahan pohon. 

Uploaded content
Keberadaan ruang terbuka hijau tidak hanya dibutuhkan manusia, tetapi juga burung yang hidup di perkotaan. | Foto: Yazid Fahmi

Tempat Pengamatan Ruang Terbuka Hijau

Menurut Ady, beberapa burung kicau masih dapat ditemui di beberapa taman di Jakarta. Namun, tidak ada tempat baru. Dengan kata lain, hanya tersisa spot-spot lama yang sering dijadikan tempat pengamatan.

Hutan Gelora Bung Karno (GBK), Ragunan, Taman Krida Loka, Taman Monumen Nasional (Monas), dan Taman langsat. Taman-taman itu sering dijadikan spot untuk melakukan pengamatan burung. Beberapa taman baru yang kembali membaik menurutnya adalah Taman Ecopark Tebet.

Ady menilai koridor hijau untuk burung berpindah belum menjadi prioritas, padahal itu menjadi masalah penting. Salah satu koridor hijau yang sudah terbentuk adalah jalur lintasan dari GBK, Taman Semanggi, hingga ke arah pertamanan menteng.

“Makanya saya sempat kasih masukan ketika dengar Taman Semanggi mau diubah. Karena itu koridor yang udah terbentuk,” ujarnya.

Di Jakarta, pembangunan koridor hijau berada di samping jalan raya persis. Hal itu tidak disukai oleh burung-burung karena bising dan terlalu dekat dengan jalan.

Konsep yang cocok untuk tipe perkotaan seperti di Jakarta menggunakan stepping stone (batu lompatan). Konsep ini akan membentuk ruang-ruang kecil dan dapat mengakuisisi taman-taman yang sudah ada untuk dijadikan taman singgah.

Jadi, ia akan berfungsi sebagai tempat singgah burung untuk berpindah dari satu RTH ke RTH yang lain. 

Uploaded content
Dua ekor perkutut di Taman Suropati, Kawasan Menteng, Jakarta Pusat. | Foto: Yazid Fahmi

Tantangan Konservasi di Tengah Urban Sprawl

Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, sebagai institusi yang bertanggung jawab atas konservasi flora dan fauna juga telah melakukan pencatatan terkait burung di Jakarta.

Dalam kurun 2017-2025, 187 jenis tercatat di empat kawasan konservasi di Jakarta. Angka ini naik dibandingkan pencatatan terakhir pada 2016. Keempat kawasan konservasi itu adalah Cagar Alam Pulau Bokor, Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Suaka Margasatwa Muara Angke, dan Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk.

Lokasi-lokasi tersebut juga banyak ditemui burung-burung migran. Bahkan, beberapa burung migran yang sebelumnya tidak terlihat kini kembali terlihat.

Kepala BKSDA DKI Jakarta, Darman Dany saat ditemui di kantor BKSDA pada Senin (16/3/2026) menyebutkan bahwa hal itu terbilang wajar, karena metode yang digunakan dalam pencatatan 2017 hingga 2025 adalah metode kumulatif. Metode tersebut menambahkan setiap jenis burung yang ditemui selama rentang waktu tertentu.

Hal itu diakui oleh Ady, di pesisir utara Jakarta, burung-burung yang sebelumnya tidak terlihat, menurut catatan sudah kembali terlihat. Ekosistem burung berkaki panjang dan berparuh panjang memang akan lebih banyak ditemukan dekat perairan.

“Seperti pulau reklamasi yang terbengkalai itu jadi tempat singgah burung migran,” ujar Ady.

Berbeda dengan apa yang terjadi di bagian selatan Jakarta. Burung-burung yang ditemui biasanya lebih banyak burung kicau.

BKSDA juga memiliki keterbatasan tugas dan fungsi dalam konservasi burung. Ekosistem burung yang ada di taman-taman dan ruang terbuka hijau di Jakarta, adalah tugas pokok dan fungsi Dinas Pertamanan.

Tantangan besar yang akan terjadi dari RPIW Jakarta adalah terjadinya urban sprawl atau fenomena perluasan fisik kota ke wilayah pinggiran (pedesaan) secara tidak terencana, acak, dan berkepadatan rendah.

Dalam RPIW Jakarta tahun 2025-2034, hunian warga Jakarta memang tergambar akan bergeser ke timur dan ke selatan. Cikampek menjadi ujung dari perluasan di daerah timur dan Perbatasan Bogor dengan Cianjur menjadi batas paling ujung dari perluasan di daerah Selatan.

Sayangnya, perluasan ini akan menimbulkan masalah ekologis jika tidak direncanakan dengan baik. Vegetasi lahan akan berubah dan lanskap tutupan lahan juga berubah.

Perluasan ini berpotensi menghilangkan vegetasi alami seperti semak, rawa, dan perdu yang menjadi habitat penting bagi burung.

“Itu akan menghilangkan ekosistem burung. Burung cinenen dan perenjak pasti akan hilang,” kata Ady.

Jika sudah seperti ini, bukan tidak mungkin burung di Jakarta akan hilang secara perlahan. Akan terjadi homogenitas pada ruang terbuka hijau yang diciptakan bukan untuk ekosistem burung, tetapi memenuhi sisi estetik manusia.

Ketika ruang-ruang terbuka hijau terus menyusut, manusia akan merambah daerah-daerah hijau tanpa adanya pemulihan lingkungan sekitar. Kehilangan ekosistem burung bukan lagi cerita untuk menakut-nakuti, tetapi sesuatu yang akan terjadi cepat atau lambat.