Opini

Kerapuhan Kita dan Satwa dalam Sepiring Pangan yang Diseragamkan

07/09/2026|Frendy Marselino
Hubungan satwa liar sumber pangan manusia dan lingkungan Ilustrasi Frendy Marselino - Kerapuhan Kita dan Satwa dalam Sepi...

Hubungan satwa liar, sumber pangan manusia, dan lingkungan. | Ilustrasi: Frendy Marselino

Gardaanimalia.com - Ketika berbicara soal pangan atau makanan sehari-hari, tidak bisa dipungkiri kita kerap mengungkapkannya dalam frasa “sepiring nasi”, menunjukkan seolah itulah satu-satunya sumber karbohidrat yang bisa kita andalkan.

Padahal, Indonesia adalah wilayah tropis yang kaya akan ragam sumber daya pangan selain padi. Jauh sebelum kebijakan penyeragaman pangan melalui Revolusi Hijau era Soeharto yang menobatkan nasi sebagai makanan pokok nasional, kita mengenal umbi-umbian, sagu, hingga biji-bijian sebagai sumber pangan.

Sebelum modernitas mengenalkan kita pada industrialisasi pangan, manusia hidup berdampingan erat dengan satwa demi menjaga keberlanjutan alam dan makanan di meja.

Kita sering mendengar gajah, rangkong (hornbills), dan satwa lainnya dijuluki petani hutan. Di situlah mereka benar-benar berperan: memakan buah, menebar biji, hingga menumbuhkan pohon yang rantai ekologisnya berujung menjadi pangan dalam piring kita.

Kajian etnoekologi membuktikan, peradaban manusia berkembang dari kemampuan manusia membaca alam. Baik dari hewan, tumbuhan dan siklusnya, maupun cuaca. Pengetahuan menjelma jadi kearifan lokal dan diturunkan dari generasi ke generasi. Namun, diberkahi tanah yang subur ternyata tidak membuat pembuat kebijakan kita subur pula dalam pengetahuan tentang keberlanjutan lingkungan dan keragaman pangan.

Penelitian terbaru dari Auriga Nusantara mencatat, deforestasi di Indonesia kian mengkhawatirkan. Sepanjang 2025, Indonesia kehilangan hutan seluas 433.751 hektare. Angka ini melonjak 66 persen dibanding tahun sebelumnya.

Angka itu dipastikan bakal terus meroket menyusul pembukaan lahan berskala masif di Papua seluas 2,7 juta hektare demi ambisi swasembada pangan dan energi negara.

Lantas, apakah pemenuhan pangan harus dilakukan dengan menghabisi hutan dan mencetak sawah semata? Apakah kita tidak melihat hutan menyimpan potensi pangan lainnya yang dihidupkan oleh satwa dan ekosistem di dalamnya? Dan apakah benar lumbung pangan ini untuk kita?

Kita mesti menelisik lebih dalam, bagaimana rantai pangan lokal tidak terpisahkan dengan hutan dan ekosistem yang ada di dalamnya.

Kelindan Satwa dalam Pangan Masyarakat

Sistem pangan global kita sekarang sangat mengagungkan Revolusi Hijau yang menciptakan model agribisnis yang berorientasi pada kepentingan pasar dan pemilik modal besar. Ironisnya, kerawanan pangan di tingkat lokal justru kerap dipantik oleh ego ekspor demi memuaskan pasar global, bukan untuk isi piring masyarakat di sekitarnya.

Kondisi ini diperparah oleh perundang-undangan kehutanan negara yang masih menyebutkan bahwa hutan dan kekayaan alam di dalamnya di bawah kuasa negara, dengan sedikit sekali pelibatan masyarakat adat yang berkelindan langsung dengan hutan. Praktik ini berujung pada alih fungsi lahan masif yang mengorbankan ekosistem hutan.

Dalam banyak kasus pembebasan lahan, prinsip partisipasi bermakna (meaningful participation) bagi masyarakat adat diabaikan begitu saja. Padahal, perihal ketahanan pangan, masyarakat adat justru sangat memahami bagaimana ekosistem dengan satwa di dalamnya berkembang agar berkelanjutan.

Satu contoh nyata yang bisa jadi rujukan dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat adat atau masyarakat yang hidup di sekitar hutan adalah pengelolaan babi liar di Papua Nugini. Jurnal The Roles and Values of Wild Foods in Agricultural Systems (2010) mencatat bahwa babi liar di sana tidak diburu secara serampangan, melainkan dikelola secara adaptif. Anak-anak babi liar dijinakkan, diberi pakan setiap hari untuk kemudian dilepasliarkan kembali ke alam. Pendekatan serupa juga diterapkan pada burung kasuari, alih-alih diternakkan secara masif di kandang sempit, anakannya dirawat secara terbatas oleh warga.

Praktik keberlanjutan sebetulnya juga jamak ditemukan di berbagai masyarakat adat Nusantara. Suku Anak Dalam (SAD) di Provinsi Jambi, misalnya, memanfaatkan asap dari daun kering untuk menjinakkan lebah demi memanen madu tanpa sedikit pun membunuh lebahnya.

Lebih dari itu, pangan kita sangat membutuhkan keseimbangan ekologis dari kehadiran satwa. Untuk menumbuhkan satu pohon sagu, misalnya, proses penyerbukannya sangat bergantung pada serangga seperti lebah madu (Apis indica), berbagai jenis kumbang kecil, serta lalat hutan, dan angin.

Sagu adalah tanaman monokarpik yang hanya berbunga sekali seumur hidup sebelum akhirnya mati. Tanpa kehadiran serangga penyerbuk pada momen krusial tersebut, pohon sagu akan mati tanpa menghasilkan biji buah rumbia untuk generasi baru.

Bukan cuma lebah madu, tanaman sagu juga membutuhkan keberadaan kumbang sagu (Rhynchophorus ferrugineus). Larva serangga yang kita kenal sebagai ulat sagu dan dikonsumsi masyarakat adat sebagai sumber protein. Ulat ini berperan mempercepat pembusukan batang sagu tua, membuka jalan unsur hara baru untuk nutrisi tanah.

Tak hanya itu, cerita tentang bagaimana hutan yang berkelanjutan mendukung pangan juga terjadi pada berbagai komoditas pangan yang sering kita temui di pasar tradisional, seperti sukun, talas, dan gadung (umbi).

Pohon sukun liar berbiji atau dikenal sebagai kluwih (Artocarpus camansi) sangat bergantung pada kelelawar buah (Megachiroptera) sebagai agen penyebar biji untuk menumbuhkan pohon baru di area lain. Sementara, sistem perakarannya yang dalam berfungsi menjaga cadangan air tanah di musim kemarau panjang.

Memahami interaksi antarorganisme tidak sekadar bertujuan memanen hasil hutan, melainkan gambaran rasa hormat mendalam terhadap kelangsungan hidup tumbuhan, satwa dan habitatnya.

Dari sini lahir satu benang merah yang sama, yaitu pengetahuan ekologis yang diteruskan secara turun-temurun melalui norma, aturan adat (sasi), institusi sosial, hingga cerita rakyat yang menjadi fondasi pengelolaan alam yang berkelanjutan. 

Kerapuhan Lingkungan, Kerapuhan Pangan

Masyarakat adat kini dihimpit masalah berlapis akibat perubahan iklim dan alih fungsi lahan.

Tinjauan Madison M. Scott dan kolega dalam The Role of Wild Food in Fostering Healthy, Sustainable, and Equitable Food Systems (2024) memperingatkan bahwa ketika krisis iklim menggeser pola cuaca, komunitas yang bergantung pada makanan liar (hewan maupun tumbuhan) dari hutan akan terpapar kerawanan pangan kronis akibat hilangnya ketersediaan bahan pangan di alam.

Dalam tinjauan mereka, alih fungsi lahan dan krisis iklim akan melipatgandakan tekanan gizi serta ekonomi bagi masyarakat pedesaan dan masyarakat adat yang hidupnya bergantung pada hasil berburu dan meramu. Mereka dipaksa kehilangan ruang hidup dan terlempar dari sumber pangan yang sudah ada.

Selain itu, kerentanan akan defaunasi terus terbayang ketika ruang hidup satwa penyerbuk dan penyebar biji musnah dan berdampak hilangnya kemampuan regenerasi hutan. Bahkan ini sangat berdampak pada interaksi ekologis antarspesies kunci untuk membantu pemeliharaan penyimpanan karbon hutan tropis.

Ketika ketahanan pangan hilang, komunitas, satwa, budaya, dan pengetahuan pun ikut runtuh. Artinya, monokultur di ladang dan piring makan berujung pada monokultur masyarakat serta kebudayaan.

Bukan kebetulan jika nantinya sebagian besar pusat keanekaragaman hayati dunia juga menjadi area budaya, yang diwakili oleh keragaman etnis, bahasa, serta kearifan lokal, semakin tidak kita kenali.

Ketika pemahaman tentang alam ini sudah tidak bisa diwariskan, dan perilaku satwa liar sudah tidak kita kenali, maka kita akan kehilangan diri kita. Kita berdiri di ambang kepunahan.