Berita

Kawanan Monyet Seberangi Tol Tebing Tinggi–Indrapura, WALHI Sumut: Habitat Mulai Terganggu

21/05/2026|Nadaa
Ilustrasi monyet ekor panjang Macaca fascicularis Foto KSDAE Kemenhut - Kawanan Monyet Seberangi Tol Tebing TinggiIndrapu...

Ilustrasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). | Foto: KSDAE Kemenhut

Gardaanimalia.com – Kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) viral di media sosial setelah terekam berbondong-bondong menyeberangi Tol Tebing Tinggi–Indrapura di Kelurahan Indrapura, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.

Dalam video yang beredar, gerombolan satwa liar itu tampak bergerak cepat melintasi ruas tol sebelum akhirnya masuk ke area hutan di sekitarnya. 

Melansir IDN Times, Sekretaris Perusahaan Hutama Marga Waskita, Ergy Pramadipta, dalam keterangan resmi, Jumat (15/5/2026), mengonfirmasi hal tersebut. Ia menjelaskan, kejadian itu sempat menjadi perhatian terkait potensi gangguan lalu lintas. 

"Menindaklanjuti kondisi tersebut, petugas operasional di lapangan telah melakukan pemantauan dan pengamanan area guna memastikan kondisi lalu lintas tetap aman dan terkendali bagi pengguna jalan," kata Ergy. 

Uploaded content
Tangkapan layar kawanan monyet ekor panjang di Tol Tebing Tinggi–Indrapura. | Foto: IDN Times

Pascakejadian tersebut, pengelola tol melakukan observasi terhadap pergerakan monyet ekor panjang. Menurutnya, monyet itu mengalami perpindahan habitat yang bersifat sementara. 

"Saat ini perusahaan juga terus melakukan observasi terhadap pola pergerakan satwa tersebut serta berkoordinasi dengan pihak terkait untuk mengidentifikasi apakah kemunculan ini bersifat sementara akibat perpindahan habitat atau terdapat pola tertentu di kawasan sekitar ruas tol," ujarnya. 

Ergy mengatakan pihaknya juga akan terus meningkatkan monitoring area secara intensif untuk menjaga keamanan dan keselamatan berkendara. 

"PT Hutama Marga Waskita akan terus meningkatkan monitoring area secara intensif serta melakukan langkah-langkah penanganan yang diperlukan guna menjaga kondisi lalu lintas tetap aman, tertib, dan kondusif bagi seluruh pengguna jalan," jelas Ergy. 

Habitat yang Terus Tergerus di Tengah Pembangunan

Menanggapi hal ini, Maulana Sidiq dari Tim Kampanye WALHI Sumatera Utara melihat fenomena tersebut sebagai indikator kuat bahwa habitat dan ekosistem monyet ekor panjang mulai terganggu. 

"Ini disebabkan sumber makanan atau sarang yang semakin berkurang, sehingga mendesak kawanan monyet berpindah wilayah atau habitat," ujar Maulana kepada Garda Animalia, Rabu (20/5/2026).

Menurut Maulana, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol sangat berpotensi memutus jalur satwa liar. 

"Bukan hanya jalan tol, tetapi penyebab utama yang kita lihat dari video tersebut adalah perubahan fungsi kawasan menjadi perkebunan sawit skala besar. Apalagi di kedua kabupaten tersebut, luas perkebunan sawitnya sangat besar," sambungnya. 

Hingga saat ini, belum ada upaya mitigasi yang terlihat dari pihak pengelola tol. Secara teknis, tidak ditemukan pemasangan plang peringatan kepada pengendara di sepanjang bahu jalan yang memberitahukan adanya satwa liar di kawasan tersebut. 

Begitu pula dengan jalur koridor satwa berupa jembatan tali, upaya semacam itu sama sekali tidak ditemukan. 

Fenomena ini, menurut Maulana, sebenarnya bukan hal baru di Sumatera Utara. Konflik antara satwa liar dan manusia sangat sering terjadi di daerah-daerah yang wilayahnya sudah dibebani industri skala besar, seperti kelapa sawit, tambang, dan energi, terutama di kawasan yang berdekatan dengan hutan, tetapi mengalami deforestasi masif. 

“Di sepanjang punggung Bukit Barisan Sumatera Utara, hampir setiap kabupaten memiliki rekam jejak konflik serupa, mulai dari Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Dairi, hingga Langkat,” jelasnya.

Ia mengemukakan, pembangunan infrastruktur yang baik seharusnya selaras dengan rencana tata ruang suatu kawasan. Namun, tak jarang pembangunan justru menyerobot wilayah-wilayah konservasi satwa liar.  Celah yang kerap dimanfaatkan pemerintah maupun korporasi adalah revisi tata ruang provinsi yang lebih mengedepankan kepentingan pembangunan dan bisnis ketimbang perlindungan lingkungan.

"Kita masih melihat pemerintah mengesampingkan lingkungan, khususnya keanekaragaman hayati dalam setiap rencana pembangunan infrastruktur," katanya memungkasi keterangan.