Opini

Monyet Masuk Permukiman: Krisis Ruang Hidup Satwa dan Konflik yang Terabaikan

14/10/2025|Nadaa
Ilustrasi monyet ekor panjang liar yang kerap masuk permukiman warga. | Foto: Garda Animalia

Ilustrasi monyet ekor panjang liar yang kerap masuk permukiman warga. | Foto: Garda Animalia

Gardaanimalia.com Masuknya satwa liar ke permukiman bukanlah fenomena baru. Beberapa hari lalu, kemunculan kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan Tangerang Selatan sempat membuat warga resah.

Berdasarkan laporan dari berbagai media daring, kawanan monyet yang diperkirakan berjumlah antara 10 hingga 15 ekor itu terlihat pada 4 hingga 6 Oktober 2025.

Monyet-monyet tampak melompati tiang listrik, berjalan di atap rumah warga, hingga berpindah antar-pohon di sekitar permukiman.

Kehadiran mereka membuat warga khawatir, terutama karena ada laporan bahwa salah satu monyet sempat menyerang warga yang sedang memegang makanan.

Kekhawatiran semakin meningkat karena warga takut monyet-monyet itu dapat melukai anak-anak yang bermain di sekitar rumah. Mereka pun berharap petugas terkait segera mengamankan monyet-monyet liar tersebut.

Dugaan dan Faktor Masuknya Monyet ke Permukiman

Danton Damkar Tangsel Nurudin mengaku belum mengetahui asal pasti kawanan monyet tersebut. Ia menduga hewan-hewan itu turun dari area hutan kecil di sekitar permukiman untuk mencari makan.

“Lapar kayaknya,” katanya kepada detik.

Menanggapi fenomena ini, ahli konservasi alam dan pengelolaan margasatwa Hadi Sukadi Alikodra menerangkan bahwa ini bagian dari konflik antara satwa liar dan manusia.

Menurutnya, perlu ada analisis untuk mencari tahu alasan turunnya monyet-monyet tersebut ke pemukiman. Namun, ia menduga kondisi tempat tinggal para monyet saat ini sudah tidak cocok.

“Tidak cocok dalam arti tidak lagi memberikan kesejahteraan, baik untuk kebutuhan makan, tempat tinggal, minum, mengasuh anak, maupun tempat belajar bagi anak-anaknya,” ujar Profesor Hadi pada Garda Animalia, Rabu (8/10/2025).

Dalam kasus monyet ekor panjang, Hadi menjelaskan bahwa seringkali disebabkan oleh berkurangnya sumber pakan di habitat aslinya.

“Ketika hutan atau ruang hidup mereka semakin sempit akibat pembangunan atau alih fungsi lahan, monyet akan mencari makanan di tempat lain, dan paling mudah, ya, di lingkungan manusia,” sambungnya.

Langkah Masyarakat Jika Bertemu Monyet

Bagi Guru Besar Ilmu Pelestarian Alam dan Pembinaan Margasatwa Fakultas Kehutanan IPB ini, fenomena ini bukanlah hal baru. Tidak hanya di Tangerang Selatan, tetapi juga banyak terjadi di daerah lain.

“Kemarin saya ke Jogja, tepat di Gunungkidul, dan kondisinya serupa,” tambahnya.

Menanggapi situasi ini, masyarakat Gunungkidul juga memiliki keresahan yang sama sehingga penting untuk mencari solusi agar tidak menimbulkan konflik antara manusia dan satwa. Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk melakukan beberapa hal jika melihat monyet di sekitarnya.

“Yang utama, jangan memprovokasi atau mencoba menangkapnya. Hindari memberi makanan, karena itu justru membuat mereka kembali lagi. Laporkan kepada pihak berwenang seperti BKSDA, supaya dilakukan penanganan sesuai prosedur,” tegasnya.

Memberi makanan sembarangan juga meningkatkan risiko penularan penyakit. Ia menegaskan bahwa kesadaran ini sangat penting untuk mencegah konflik dan penyebaran zoonosis.

Pemerintah Belum Peduli Konflik Monyet

Hadi menyoroti bahwa pemerintah belum sungguh-sungguh dalam menangani isu monyet. Menurutnya, isu monyet seringkali diabaikan karena dianggap kecil dibanding satwa besar lain, seperti gajah atau harimau, padahal monyet juga berpotensi menularkan penyakit serius.

Menurutnya, saat ini kepentingan untuk lebih memperhatikan monyet masih dianggap tidak jelas.

“Gajah jelas. Kalau gajah tidak kita tangani, bisa merusak rumah, kebun, tanaman penduduk. Demikian juga dengan orangutan. Tapi kalau monyet, kan sering dianggap enteng. Nah, itu yang kadang-kadang saya jengkel. Padahal menurut saya, masalahnya sudah besar, karena laporannya dari semua daerah,” keluhnya.

Baginya, pendekatan yang dilakukan seharusnya tidak hanya sebatas mengamankan satwa yang muncul di permukiman, tetapi juga memperbaiki penyebab utamanya kerusakan habitat dan berkurangnya ruang hidup.

Tanpa adanya perhatian yang konsisten dan kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan, konflik serupa akan terus terulang.

Solusi Jangka Panjang

Hadi juga menceritakan pengalamannya berdiskusi dengan pihak Kementerian Kehutanan. Dalam diskusinya, ia menyarankan pembuatan roadmap nasional penanganan konflik satwa, termasuk monyet.

Roadmap ini berisi data, strategi jangka pendek dan panjang, visi-misi, serta aturan teknis penanganan.

“Setelah FGD (forum group discussion) di Jogja, tidak ada kelanjutan. Pemerintah seolah hanya berhenti di tataran wacana. Padahal kasus terus muncul,” ujarnya.

Menurutnya, seharusnya ada arah baru dalam pengelolaan satwa, terutama untuk satwa yang terdampak konflik.

“Jeleknya Indonesia belum ada pusat penampungan masalah. Mestinya ini arah (penampungan) bisa dibuat komersialisasi, kalau menurut saya. Jadi ditampung dalam suatu bisnis yang betul-betul berbisnis untuk kepentingan konservasi,” jelasnya.

Ia juga menekankan dalam menjalankan bisnis konservasi, harus ada nilai-nilai konservasi yang menjadi landasan, yaitu melindungi, melestarikan, dan memantaskan.

Sebagai penutup, Hadi Alikodra juga berharap anak-anak muda selalu mengawal dan menyarkan terkait isu ini karena masih banyak masyarakat di luar sana yang tidak dekat dan paham mengenai konflik monyet dan manusia.

“Saya selalu mendorong orang-orang muda yang berkarya soal konservasi,” pungkasnya.