Edukasi

Kelinci Sumatera, Satwa Asli Indonesia yang Nyaris Tak Pernah Terlihat

22/04/2026|Dedy Tri Riyadi
Kelinci belang sumatera yang diselamatkan dari perdagangan Foto Taman Nasional Kerinci Seblat - Kelinci Sumatera Satwa As...

Kelinci belang sumatera yang diselamatkan dari perdagangan. | Foto: Taman Nasional Kerinci Seblat

Gardaanimalia.com - Kelinci sumatera (Nesolagus netscheri) adalah satwa endemik Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera, dan tidak ditemukan di pulau maupun negara lain. Kelinci sumatera merupakan satwa endemik Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera, dan tidak ditemukan di pulau maupun negara lain. 

Namun, dilihat dari corak belangnya, kelinci sumatera memiliki kerabat, yaitu kelinci belang annamite (Nesolagus timminsi), yang hanya hidup di pegunungan Annamite di perbatasan Vietnam dan Laos. Melansir Animal Diversity, satwa endemik ini memiliki ciri fisik berupa panjang kepala dan tubuh antara 350–400 milimeter, bertelinga pendek, dengan panjang ekor sekitar 15 milimeter. Kelinci sumatera diperkirakan hanya dapat ditemui di dataran tinggi Pegunungan Barisan di barat daya Sumatera, pada ketinggian 600–1.400 meter. 

Ciri fisik lainnya adalah warna dasar tubuh kelinci sumatera yang abu-abu kekuningan. Terdapat garis cokelat mencolok yang menghiasi wajah, kaki, dan tubuh, termasuk garis tengah punggung dari bahu hingga pantat. Bulu bagian bawahnya lembut dan tebal. Pantat dan ekor berwarna merah cerah, sedangkan bagian perut berwarna putih. 

Sayangnya, keunikan satwa ini belum dapat diketahui secara lebih luas, bahkan beberapa puluh tahun lalu sempat dianggap hampir punah atau bahkan hilang dari alam liar. Hal ini karena hanya ada sedikit spesimen museum yang dikumpulkan antara tahun 1880–1916 pada masa kolonial Belanda, dengan satu-satunya catatan pengamatan liar yang terkonfirmasi pada 1972. 

Namun, ternyata beberapa peristiwa yang terjadi sejak 2018 sampai sekarang, justru menunjukkan spesies ini masih bertahan di tengah habitat yang terus terancam, baik oleh pembukaan luasan hutan maupun hujan ekstrem yang mengakibatkan banjir bandang yang berulang di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Bukit Barisan pada akhir 2025 hingga Maret 2026. Banjir tidak hanya merusak hutan, tetapi juga dapat mendorong satwa keluar dari habitat, meningkatkan risiko kontak dengan manusia dan kematian akibat stres. 

Temuan Kelinci Sumatera

Dalam Mongabay, diceritakan bahwa sekitar tahun 2018–2019, tim peneliti Universitas Sriwijaya yang dipimpin Arum Setiawan mendokumentasikan kasus pertama kelinci muda yang ditangkap dan ditawarkan untuk dijual di grup WhatsApp perdagangan satwa liar di Sumatera Selatan. 

Seekor induk dan anaknya berhasil ditangkap oleh pemburu. Anakan satwa tersebut sempat dideskripsikan secara ilmiah sebelum akhirnya mati di tangan penjual menjadi bukti adanya perdagangan oportunistik lewat media sosial. Ironisnya, dari kejadian tersebut dunia pertama kali bisa melihat seperti apa rupa kelinci sumatera yang masih anakan. 

Selain itu, Dokumentasi penampakan berikutnya dijelaskan dalam jurnal Media Konservasi, ditunjukkan hasil camera trap di antara tahun 2017 - 2023 di Hutan Lindung Batutegi, Lampung. Sebanyak 42 foto independen individu soliter berhasil terekam. Pada tahun 2021, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu menerima dua ekor kelinci sumatera dari seorang petani untuk kemudian dilepasliarkan ke dalam hutan kembali. 

Kemudian pada 9 Juni 2022 di Hutan Sawah Gadang, Nagari Saniang Baka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, seekor kelinci sumatera ditemukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Saniang Baka dalam kondisi lemah, penuh caplak, dan terluka di punggung. Satwa yang diduga trauma akibat banjir tersebut dievakuasi ke BKSDA Sumbar dan dirawat secara intensif, tapi pada 12 Juni 2022 pukul 12.30 WIB, satwa tersebut mati karena kombinasi luka infeksi, anemia, dan stres berat. Bangkainya kemudian diawetkan untuk penelitian di Museum Zoologi Universitas Andalas. 

Satu lagi peristiwa yang cukup viral, yaitu penemuan kelinci sumatera oleh Andre Situpa, seorang pemandu gunung. Dalam akunnya ia membagikan video seekor kelinci sumatera dalam akun Instagramnya.

Status Konservasi 

Kesulitan pengamatan dan penelitian terhadap kelinci belang ini membuat statusnya berubah-ubah. Pada tahun 1994, kelinci sumatera ditetapkan statusnya sebagai Endangered berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) Red List. Kemudian, pada tahun 1996, statusnya menjadi Critically Endangered. Dikarenakan kajian ekologi maupun populasi satwa ini yang jarang dilakukan, IUCN kembali menetapkan statusnya menjadi Vulnerable pada tahun 2008. 

Setelah hampir satu dekade berlalu, informasi mengenai ekologi kelinci belang ini semakin sedikit sehingga IUCN kembali menetapkan satwa ini ke dalam kategori Data Deficient. Sementara, dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. 

Kelinci sumatera masuk di dalam daftarnya, dengan nomor 72. Kesulitan penelitian terhadap kelinci belang ini karena satwa ini merupakan satwa nokturnal (aktif di malam hari) dan tinggal di atas ketinggian 600 mdpl. 

Ahli dari Prigen Conservation Breeding Ark (PCBA) dalam sebuah unggahan media sosial menyatakan bahwa ada informasi-informasi yang baru didapat olehnya dalam upaya menangkarkan kelinci belang sumatera secara ex-situ, misalnya makanan alami dari satwa ini adalah tanaman merambat yang variatif, dan kelinci betina tinggal di dalam gua yang digali lurus sepanjang satu meter olehnya sendiri di dalam suatu tebing dan ada semacam ruang berdiameter 30 sentimeter sebagai tempat melahirkan. 

Kekhususan tempat tinggal dan makanannya itulah yang membuat kelinci ini mudah mengalami stres dan mati hanya dalam waktu 14 hari jika di luar habitat. Dalam video di Instagram PCBA itu, bahkan di hari pertama di tangan manusia, kelinci belang sudah tidak mau makan jika tidak menemukan makanan kesukaannya. Keberhasilan PCBA memelihara indukan selama satu tahun dan berhasil beranak adalah prestasi tersendiri mengingat kerabatnya, kelinci annamite, juga belum pernah berhasil beranak pinak dalam penangkaran. 

Kelinci belang sumatera ternyata mengajarkan kita bahwa jarang terlihat bukan langsung bisa dikategorikan sebagai satwa langka, tapi rapuhnya upaya perlindungan dan kelestariannya justru menjadi sangat perlu agar satwa ini masih bisa dilihat di masa-masa mendatang, oleh generasi setelah kita. Dengan kesadaran dan tindakan bersama, semoga kelinci yang sangat langka di seluruh dunia ini bisa terus menjadi kekayaan hayati Indonesia.