Khas

Kisah Sabrun Ogu: Dari Memburu hingga Menjadi Penjaga Penyu

01/04/2026|Renal Husa
Tukik atau anak penyu yang ada di penangkaran Sabrun Ogu Foto Renal Husa - Kisah Sabrun Ogu Dari Memburu hingga Menjadi P...

Tukik atau anak penyu yang ada di penangkaran Sabrun Ogu. | Foto: Renal Husa

Gardaanimalia.com - Gerimis baru saja reda. Sementara langit masih menggantung kelabu di atas Desa Dunu, Kecamatan Monano, Kabupaten Gorontalo Utara. Padahal sejak siang, hujan telah dua kali mengguyur desa pesisir itu, menyisakan hawa lembap yang menempel di pasir dan dedaunan.

Dipaksa oleh keadaan, Sabrun Ogu bergegas. Ia menyiapkan lembar-lembar kertas dan bilah bambu yang akan ditancapkan di pesisir pantai. Langit yang kian menghitam memberi tanda: hujan mungkin akan kembali turun, lebih deras dari sebelumnya.

Di tengah cuaca yang tak menentu, langkahnya tetap menuju pantai. Di tangannya, kertas-kertas itu kelak akan menjadi penanda. Di pasir, bilah-bilah bambu akan berdiri sebagai saksi. Langit kembali menghitam menjadi pertanda bahwa waktu tak banyak tersisa.

Sore itu, sekitar pukul 16.30 WITA, Minggu (17/7/2025), Sabrun selesai menancapkan bambu-bambu kecil yang telah ditempeli kertas bertuliskan nama.

Ia lalu berjalan menuju penangkaran sederhana di dekat rumahnya, mengambil tukik—anak penyu jenis penyu tempayan (Caretta caretta)—yang telah ia rawat selama dua bulan terakhir.

Hari itu, ia memenuhi permintaan pelepasliaran dari tiga pengadopsi tukik yang datang dari Kota Gorontalo. Sebagai bentuk laporan, Sabrun biasa mengirimkan foto-foto pelepasan kepada para pengadopsi. Program adopsi tukik ini baru dimulai sejak 5 Juni 2022.

Uploaded content
Sabrun Ogu sedang mempersiapkan pelepasan penyu. | Foto: Renal Husa

Beberapa anak yang penasaran mulai mendekat. Tak lama kemudian, orang-orang dewasa ikut bergabung. Meski pelepasliaran tukik telah berulang kali dilakukan, antusiasme warga tak pernah benar-benar surut.

Dari 23 tukik di penangkaran, Sabrun memilih 15 ekor untuk dilepas. Ia membariskan masing-masing lima tukik di depan kertas bertuliskan nama para pengadopsi.

“Sore hari memang waktu terbaik untuk melepas tukik,” kata Sabrun.

Menurutnya, pada waktu sore atau malam hari, predator alami seperti burung pantai dan ikan besar telah berkurang.

“Tukik sangat rentan terhadap serangan predator karena karapasnya masih lunak,” jelasnya.

Selain itu, jika dilepas pada siang hari, tukik tidak langsung menuju laut. Mereka cenderung diam, sebab mata mereka sangat sensitif terhadap cahaya matahari.

Setelah dibariskan, tukik-tukik kecil itu mulai merangkak pelan menuju laut. Anak-anak yang menyaksikan bersorak riang ketika satu per satu tubuh mungil itu bergerak mendekati ombak.

Sabrun mengeluarkan gawainya, mengabadikan momen itu untuk dikirimkan kepada para pengadopsi sebelum tukik-tukik itu akhirnya hilang, ditelan ombak.

“Kalau sudah mendengar suara ombak, mereka akan segera menuju laut,” ujarnya.

Ia lalu menambahkan, suaranya lirih, “Sejauh apapun mereka berkelana, puluhan tahun nanti, ketika sudah dewasa, penyu akan kembali ke tempat ini untuk bertelur.”

Namun, ia juga paham bahwa tidak semua tukik akan bertahan hidup. Sebagian besar akan gugur dalam proses seleksi alam. Hanya sedikit yang kelak kembali, menyempurnakan siklus kehidupan yang panjang.

Program adopsi tukik yang ia jalankan kini membantu menutup biaya operasional penangkaran. Dana konservasi yang dulu ia terima telah terhenti sejak pandemi Covid-19 pada 2019.

“Tapi mereka tidak akan kembali jika lingkungan pantai berubah, misalnya dipenuhi bangunan,” katanya, nadanya menyiratkan kecemasan.

Ketika Pantai Tak Lagi Sunyi untuk Penyu

Kecemasan Sabrun bukan tanpa dasar. International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mencatat, selain perburuan dan eksploitasi, hilangnya habitat bertelur menjadi salah satu penyebab penyu berada di ambang kepunahan.

Pembangunan pesisir yang masif perlahan menghapus ruang-ruang sunyi yang dibutuhkan penyu. Sebab penyu cenderung menghindari pantai yang terang dan bising.

Di Desa Dunu, rumah-rumah kini berdiri semakin dekat dengan garis pantai, bahkan merambah wilayah yang dahulu menjadi tempat penyu mendarat.

Ingatan Sabrun melayang ke masa lalu.

“Sekitar tahun 2000-an, ada penyu besar naik sampai ke teras rumah saya. Mungkin ingin bertelur,” katanya.

Namun, kerumunan manusia membuat penyu itu berbalik arah. Ia kembali ke laut tanpa sempat meninggalkan jejak kehidupan di pasir.

Apa yang disaksikan Sabrun dipertegas oleh pemerhati kelautan dan wisata bahari, Gusnar Lubis Ismail. Menurutnya, ruang hidup penyu di Desa Dunu kian terdesak oleh pembangunan yang merangsek hingga zona pasang tertinggi, wilayah yang seharusnya menjadi ruang sunyi bagi penyu.

“Sekarang ruang hidup penyu makin sempit. Bahkan pernah penyu sampai naik ke jalan setapak desa karena kebingungan mencari tempat bertelur,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (18/3/2026).

Bagi Gusnar, kawasan pasang tertinggi bukan sekadar garis batas air laut, melainkan ruang hidup yang harus dijaga dari berbagai bentuk pembangunan baik permukiman, pariwisata, hingga industri. Tanpa itu, penyu kehilangan arah pulang.

Namun, tekanan itu tak hanya datang dari darat. Laut pun menyimpan gangguannya sendiri.

“Penyu biasanya mendarat saat pasang laut. Di waktu yang sama, aktivitas nelayan dengan kompresor justru meningkat,” katanya.

Penggunaan kompresor, lanjutnya, merupakan bagian dari praktik destructive fishing, cara tangkap yang tidak hanya membahayakan manusia, tetapi juga merusak keseimbangan ekosistem laut.

Uploaded content
Gusnar Lubis Ismail sedang mengeluarkan cangkang telur penyu di penangkaran kelompok konservasi Sinar Penyu. | Foto: Dokumentasi pribadi Gusnar Lubis Ismail

Di sisi lain, praktik pengeboman ikan masih terjadi, bahkan di kawasan yang seharusnya dilindungi.

Ledakan-ledakan itu tidak hanya meremukkan karang, tetapi juga mengusik ketenangan yang dibutuhkan penyu untuk bertelur.

Di perairan Gorontalo Utara, suara dentum itu masih kerap terdengar, memecah sunyi laut yang seharusnya menjadi penuntun bagi penyu kembali ke pantai.

Aktivitas pengeboman ikan masih berlangsung, meskipun aparat telah beberapa kali menangkap pelakunya. Akan tetapi, penindakan itu belum sepenuhnya menghentikan praktik tersebut.

Sementara di darat, perubahan juga terasa. Vegetasi pantai layaknya tanaman merambat, perdu, hingga pandan pantai mulai menghilang. Padahal, bagi penyu, tumbuhan-tumbuhan itu bukan sekadar pelengkap lanskap.

“Vegetasi pantai itu penting. Ia menjaga struktur pasir dan memberi rasa aman bagi penyu. Kalau hilang, penyu akan menjauh,” kata Gusnar.

Ancaman terhadap ekosistem pesisir juga datang dari daratan. Ia menyoroti praktik pertanian yang tidak berkelanjutan serta keberadaan perkebunan industri Hutan Tanaman Energi di wilayah hulu, yang berkontribusi terhadap meningkatnya sedimentasi di perairan.

Sedimentasi menyebabkan kekeruhan air laut, merusak terumbu karang, dan menurunkan produktivitas perairan. Selain itu, penggunaan pestisida berlebihan berpotensi mencemari laut.

“Residu pestisida bisa terbawa hingga ke laut, meracuni ekosistem, termasuk ikan dan penyu. Ini ancaman yang sering tidak terlihat, tapi dampaknya sangat serius,” pungkasnya.

Menurutnya, perlindungan tidak cukup hanya berfokus pada penyu, tetapi juga harus mencakup habitatnya, termasuk wilayah di luar kawasan konservasi formal.

“Kalau hanya penyu yang dilindungi tanpa melindungi habitatnya, itu tidak akan efektif,” tegasnya.

Untuk mengatasi berbagai ancaman tersebut, Gusnar mendorong patroli rutin, kerja sama lintas sektor, serta pelibatan aktif masyarakat desa. Ia juga menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas agar memberi efek jera.

Apa yang disampaikan Gusnar sejatinya telah lama dijalani Sabrun.

Uploaded content
Penyu tempayan (Caretta caretta) yang mendarat di pesisir pantai Desa Dunu. | Foto: Dokumentasi Kelompok Konservasi Sinar Penyu

Dari Pemburu Menjadi Penangkar

Di pantai yang kini semakin terang oleh lampu-lampu rumah warga, Sabrun masih menunggu penyu-penyu itu kembali.

Ia percaya, suatu hari nanti, tukik-tukik kecil yang dilepaskannya akan pulang—ke pantai tempat mereka pertama kali mengenal laut.

“Penyu itu sangat pemilih ketika akan bertelur,” katanya.

Menurutnya, penyu akan memilih pantai yang sunyi dan gelap untuk mendarat. Kondisi pasir dan keamanan lokasi menjadi pertimbangan utama.

“Walaupun begitu, manusia tetap bisa menemukan sarangnya dan mengambil telurnya,” ujarnya.

Sabrun memahami betul pola pendaratan penyu. Sebelum menjadi penangkar, ia pernah menjadi pemburu telur penyu.

Di perairan Indonesia terdapat enam jenis penyu, dan lima di antaranya dapat ditemukan di Sulawesi: penyu hijau, penyu lekang, penyu sisik, penyu tempayan, dan penyu belimbing.

Sementara di Desa Dunu, penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu tempayan (Caretta caretta) paling sering terpantau mendarat di sepanjang garis pantai.

“Saya mulai menangkar penyu pada 2015,” kata pria kelahiran 5 Juni 1968 itu.

Pada tahun itu, bersama beberapa warga, ia membangun penangkaran sederhana di pesisir dekat rumahnya. Dindingnya setengah dari papan, setengah terbuka. Atapnya dari rumbia berlapis terpal, menjaga suhu pasir tempat telur-telur ditanam.

Di tahun yang sama, mereka membentuk Kelompok Konservasi Sinar Penyu, dengan Sabrun sebagai ketua. Kelompok ini didukung Dinas Perikanan Provinsi Gorontalo untuk membantu pengawasan wilayah laut sekitar desa.

Sebelumnya, pada 2014, Desa Dunu juga membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), dan Sabrun kembali dipercaya sebagai ketua.

Kelompok ini bertugas mengawasi aktivitas di laut, terutama penangkapan ikan yang merusak dan perburuan biota yang dilindungi.

Dalam dokumen rencana zonasi wilayah pesisir Provinsi Gorontalo, Desa Dunu termasuk kawasan konservasi maritim serta jalur migrasi biota laut seperti penyu, lumba-lumba, dan dugong.

Tak jauh dari desa itu terdapat Cagar Alam Mas Popaya Raja, tiga pulau kecil yang menjadi tempat bertelur penyu dan burung maleo.

Kelompok Konservasi Sinar Penyu yang dipimpin Sabrun menjadi satu-satunya kelompok masyarakat dengan penangkaran penyu di Provinsi Gorontalo.

Namun, perjalanan menjaga penyu tidak selalu mudah.

Sabrun kerap harus merogoh kantong pribadinya untuk membeli pakan atau menebus penyu yang tidak sengaja tertangkap nelayan.

“Pernah ada nelayan yang tidak sengaja menangkap penyu karena tersangkut di jaringnya. Saya ganti uang bensin mereka supaya penyu itu bisa dilepas,” katanya.

Ia melakukan itu agar nelayan tidak berurusan dengan hukum, mengingat penyu merupakan satwa yang dilindungi.

Uploaded content
Sabrun Ogu sedang memindahkan telur penyu dari pesisir pantai ke tempat penangkaran milik kelompok konservasi Sinar Penyu. | Foto: Dokumentasi Kelompok Konservasi Sinar Penyu

Setiap musim penyu bertelur, Sabrun bersama empat anggota kelompoknya rutin berpatroli di sepanjang pantai Desa Dunu menyusuri garis pantai dengan berjalan kaki atau menggunakan perahu kecil.

Tak jarang, patroli itu membahayakan nyawa.

“Kadang kami bertemu orang yang sedang melakukan bom ikan,” katanya.

Para pelaku bahkan pernah mengancam akan melempar bom ke arah perahu mereka jika terlalu dekat.

Pada 2019, kelompok Sinar Penyu akhirnya mendapatkan bantuan pembangunan penangkaran permanen dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar.

Sejak saat itu, semakin banyak warga Desa Dunu terlibat dalam upaya perlindungan penyu.

Upaya ini perlahan menghentikan perburuan penyu dan pengambilan telur yang dahulu marak terjadi. Sebagian warga pernah percaya bahwa telur penyu memiliki khasiat menyembuhkan penyakit dan meningkatkan kejantanan pria.

Sabrun pun pernah menjadi bagian dari praktik itu.

Bagaimanapun, kini semuanya berubah. Setelah mengikuti kegiatan konservasi penyu di Bali pada 2006, Sabrun terinspirasi untuk memulai upaya serupa di desanya.